Part 12

1513 Words
Ketika kuliah Aletha dan Edgar sudah selesai, mereka berdua langsung pergi ke parkiran motor. Sesampainya di parkiran motor, ia melihat seseorang yang lewat di hadapannya sambil membawa burger, Aletha yang tak sengaja melihat burger itu tiba-tiba perutnya terasa lapar. Aletha berniat mengajak Edgar untuk membeli burger terlebih dahulu sebelum mereka pulang ke rumah.  “Gar ini kita langsung pulang?” tanya Aletha. “Iya langsung pulang, emangnya mau kemana?” tanya Edgar. “Lo sibuk nggak?” tanya Aletha lagi. “Enggak, kenapa?” tanya Eddgar kembali hingga membuat dirinya penasaran. “Gue tiba-tiba pengen burger.” ucap Aletha. “Yaelah Le, tinggal ngomong dari tadi pake nanya sibuk apa engga kayak sama siapa aja sih lo.” ucap Edgar sembari menggelengkan kepalanya. “Hehe ya siapa tau kan lo ada acara lain gitu abis ini, makanya gue nanya dulu.” balas Aletha sembari tertawa kecil. “Yauda ayok mau makan burger dimana?” tanya Edgar. “Di kafe tempat Nara kerja aja, disitu burgernya enak.” ujar Aletha. “Yaudah, ntar lo tunjukkin aja tempatnya, gue lupa.” ucap Edgar. “Oke siap bos.” balas Aletha. Edgar langsung melajukan motornya ke kafe yang dimaksud Aletha sesuai arahan petunjuk dari Aletha. Kurang lebih sepuluh menit dari kampusnya akhirnya ia sampai di kafe tempat Nara bekerja. Kafe tersebut letaknya memang dekat dari kampusnya, jadi tak heran jika banyak mahasiswa yang berkunjung ke kafe tersebut. Saat Edgar sedang memarkirkan motornya, rintik hujan mulai turun membasahi Aletha dan Edgar yang masih berada di luar. Aletha dan Edgar kemudian segera masuk ke dalam kafe tersebut, ia dapat melihat Nara sedang melayani para pembeli. Aletha langsung menghampiri Nara yang tampaknya sedang sibuk melayani pembeli yang terus menerus berdatangan.  “Udah sampe aja lo Nar.” ucap Aletha yang kini sudah berada di hadapannya. “Iya nih, lo tumben ke sini sama Edgar.” balas Nara. “Iya tadinya sih mau langsung pulang, tapi gue pengen ke sini dulu, gue pesen burgernya satu ya sama minumnya red velvet.” ujar Aletha. “Gar lo mau pesen apa?” tanya Aletha beralih pandangannya ke Edgar. “Gue minum aja, kopi americano satu.” jawab Edgar. “Oke berarti makanannya burger satu, minumnya red velvet satu sama americano satu.” ucap Aletha mengulangi pesanannya agar Nara tidak bingung. Seusai menyelesaikan pembayaran, Aletha dan Edgar kemudian pergi mencari tempat duduk. “Mau duduk dimana?” tanya Edgar. “Di situ aja Gar.” balas Aletha sembari tangannya merahkan ke tempat duduk yang masih kosong di dekat jendela. Ia dan Aletha segera menuju ke tempat duduk tersebut sebelum keduluan oleh orang lain.  Sore ini keadaan kafe cukup ramai, untung saja mereka berdua masih kebagian tempat duduk di dekat jendela. Suasana hati Aletha sedikit lebih tenang, ia mulai bisa menerima tentang penyakit yang diidapnya, walaupun mungkin belum seratus persen hatinya tenang tapi ia berusaha menerima itu semua dengan lapang d**a. Aletha kini memandangi jalan di luar kafe yang kini basah karena hujan, tangannya refleks menyentuh kaca yang bagian luarnya sudah basah karena terkena air hujan.  Edgar yang melihat Aletha sedang menatap ke arah luar kafe itu tiba-tiba terbesit ide unttuk memotret Aletha diam-diam. Ia kemudian mengambil ponselnya dan segera memotret Aletha. Aletha yang tersadar jika Edgar sedang memotretnya itu pun langsung menoleh.  “Eh kok lo moto gue nggak bilang bilang dulu kan gue belom siap.” ucap Aletha dengan wajah cemberut. “Hahaha bagusan gini kan jadi keliatan alami gayanya.” balas Edgar sembari tertawa. “Ya tapi kan gue belum siap.” ujar Aletha dengan nada kesal.  “Yaudah sini cepet gue foto lagi, senyum.” ucap Edgar bersiap memotret Aletha. “Bentar bentar mau benerin posisi dulu.” Aletha membenarkan posisi duduknya dan matanya segera menghadapa ke kamera. “Udah belom?” tanya Edgar. “Udah yok cepetan.” jawab Aletha sambil bergaya. “Oke 1…2…3…” Edgar mulai memotret Aletha hingga menghasilkan banyak jepretan. “Udah deh, udah kehabisan gaya gue heheh.” ucap Aletha. “Oke deh ntar fotonya gue kirim kalo udah di rumah aja ya?” tanya Edgar. “Okeyy.” balas Aletha sembari mengacungkan jempolnya. Setelah itu tak lama kemudian Nara menghampiri Aletha dan Edgar dengan membawakan pesanan mereka berdua. “Kalian berdua gue perhatiin ribut mulu dari tadi.” ujar Nara sambil membawakan pesanan Aletha dan Edgar yang sudah jadi. “Edgar nih yang mulai masa nge foto gue nggak bilang dulu kan gue belom siap.” balas Aletha menyalahkan Edgar. “Dih udah dibilang bagusan gitu juga.” ucap Edgar.  Nara yang melihat tingkah laku mereka berdua hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Udah udah nggak malu apa ntar diliatin orang kayak pasangan lagi ribut, nih pesenan kalian, red velvetnya satu, kopi americano satu, sama burger satu, selamat menikmati.” Nara menyerahkan pesanan mereka berdua ke atas meja Aletha dan Edgar. “Makasiii Nara.” ucap Aletha sembari tersenyum. “Thanks.” ucap Edgar lalu meminum kopinya. “Oke sama sama, gue balik kerja dulu ya.” Nara berpamitan kepada Aletha dan Edgar. Setelah Nara pergi, Aletha mulai menyantap burgernya dengan lahap karena lidahnya sudah tidak sabar merasakan kenikmatan burger ini. Sudah lama Aletha tidak menikamti burger yang merupakan makanan favoritnya, jadi hari ini ia bisa sedikit bahagia karena bisa menyantap makanan kesukaannya kembali. Tak lama kemudian terlihat Gilang memasukki kafe dengan baju yang sedikit basah karena terkena air hujan di luar. Aletha yang melihat Gilang langsung memberi tahu Edgar yang duduknya membelakangi pintu kafe. “Eh sohib lo tuh.” ucap Aletha sambil matanya mengarah ke Gilang yang sedang memesan menu. “Siapa?” tanya Edgar sembari matanya menoleh ke arah yang dimaksud Aletha. “Gilang lah siapa lagi.” jawab Aletha. “Mana sih? Ga keliatan.” tanya Edgar kembali sambil matanya mencari-cari keberadaan Gilang namun tak kunjung menemukannya. “Itu yang berdiri di kasir.” ucap Aletha. “Oh iya.” balas Edgar. Edgar kemudian langsung memanggil Gilang untuk bergabung bersamanya dan Aletha. “Gilang.” Pangil Edgar yang membuat Gilang menoleh. Gilang lalu menghampiri ke tempat duduk Aletha dan Edgar, untungnya masih ada kursin kosong di dekat mereka. “Berduaan terus gue perhatiin kalian berdua.” ucap Gilang setelah duduk di sebelah Edgar. “Dari pada lo sendirian terus.” balas Edgar. “Oh mulai ngeledek nih anak.” ucap Gilang sambil melempar tissue ke arah Gilang. Tak berapa lama kemudian, Nara datang membawakan pesanan untuk Gilang, setelah itu Nara memilih langsung pergi meninggalkan meja yang diduduki oleh Aletha, Edgar, dan Gilang setelah menyerahkan pesanan Gilang. “Oh gue tau nih kenapa lo ke kafe ini.” ucap Edgar kepada Gilang yang membuat Aletha penasaran. “Kenapa emang? Nggak usah sok tau deh lo.” tanya Gilang. “Gue tau lo ke sini karena mau ngedeketin Nara kan? Ya kan?” tanya Edgar sambil matanya menatap Gilang yang terlihat bingung akan menjawab apa. Sayangnya pertanyaan Edgar kepada Gilang itu membuat Aletha langsung tersedak makanannya hingga membuat Edgar dan Gilang seketika menoleh. “Eh minum dulu Al nih nih.” ucap Gilang sambil membawakan mendekatkan minuman milik Aletha. “Makanya kalo makan tu pelan pelan.” ujar Edgar kepada Aletha. “Lo suka sama Nara Kak?” tanya Aletha. “Eh eng-enggak kok, nih Edgar ngaco jangan dengerin omongan dia pokoknya sesat dah.” ucap Gilang sambil memberi tatapan kesal kepada Edgar. “Hahaha kalo suka juga nggak papa kali, Nara juga jomblo ya kan Le?” tanya Edgar. Aletha hanya menganggukkan kepalanya sambil masih tetap melahap burgernya hingga habis. Ia tak bisa memikirkan jika Gilang benar-benar menyukai Nara lalu nanti Melodi bagaimana, Melodi juga suka sama Gilang. Namun karena itu bukan urusan pribadinya, jadi lebih baik dia tidak ikut campur terlebih dahulu karena kebenarannya juga belum terlihat apakah Gilang benar-benar menyukai Nara atau tidak. Setelah menghabiskan makanan dan minumannya, Aletha dan Edgar memilih untuk pamit pulang terlebih dahulu kepada Gilang karena langsit juga sudah mulai gelap. “Gue sama Aletha pulang dulu ya.” Pamit Edgar kepada Gilang. “Gue baru aja nyampe, kalian udah mau pergi aja.” balas Gilang menggerutu. “Ya kaan udah ada yang nemenin lo juga di sini.” ucap Edgar sambil tertawa kecil bersiap untuk meledek Gilang. “Siapa? Nggak ada yang gue kenal selain lo di sini.” tanya Gilang. “Masa nggak ada? Lah tuh.” ucap Edgar sambil matanya mengarah ke Nara yang sedang melayani pembeli. “Apaan sih lo dari tadi ngeledek gue terus, awas aja ntar ya.” balas Gilang sambil bersiap melemparkan hiasan meja namun tidak jadi karena di lerai Aletha. “Udah udah ribut mulu kalian berdua.” ujar Aletha menengahi. “Yaudah ayo Le kita cabut.” Ajak Edgar. “Gue balik dulu ya Kak.” ucap Aletha kepada Gilang. “Oke hati-hati Le.” balas Gilang. “Lah yang digituin Aletha doang, gue nggak.” ucap Edgar. “Ogah, cabut aja sono buruan.” Gilang mengusir Edgar yang masih duduk di sebelahnya. Edgar dan Aletha hanya bisa tertawa sambil berjalan keluar dari kafe. Edgar kemudian langsung melajukan motornya kembali dan segera mengantarkan Aletha pulang ke rumah setelah hujan mulai mereda. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD