Aletha keluar dari kamarnya setelah ia bersiap-siap untuk pergi ke kampus, setelah menyelesaikan sarapannya, ia lalu berpamitan kepada Mbok Ning terlebih dahulu sebelum berangkat ke kampusnya.
“Mbok, Aletha berangkat ke kampus dulu ya.” Pamit Aletha sembari memakai tas yang biasa ia gunakan untuk kuliah.
“Iya Non, hati-hati di jalan.” balas Mbok Ning yang sedang sibuk di dapur.
Aletha keluar menuju teras rumahnya, ia lalu mengambil ponsel dari dalam tasnya untuk memesan ojek online, Aletha pergi ke kampus sendirian menggunakan ojek online karena jadwal kuliahnya dengan Edgar berbeda. Sesampainya di kampus, Aletha berjalan memasuki kampusnya, saat melewati koridor, Aletha dapat melihat Poppy sedang berjalan juga menuju kelasnya. Ia lalu menghampiri Poppy dan berniat untuk mengakegatkan Poppy.
“Poppy.” ucap Aletha yang tiba-tiba mengejutkan Poppy.
“Gue kira siapa, ternyata lo Al.” ujar Aletha sembari tertawa.
“Hehehe sekali-sekali ya kan ngagetin lo.” ucap Aletha sembari berjalan menuju kelasnya bersama Poppy.
“Oh iya hp lo kemaren nggak aktif ya?” tanya Poppy.
“Iya lowbatt kemarin.” jawab Aletha.
“Oalah gue kira lo kenapa, nggak kayak biasanya soalnya.” ucap Poppy yang membuat dirinya terdiam sejenak.
“Gue nggak kenapa-kenapa kok, buktinya masih bisa berangkat kuliah.” ujar Aletha seolah tidak ada yang sedang ia sembunyikan.
“Iya deh.” balas Poppy sembari tertawa.
Mereka berdua kemudian masuk ke kelas bersama dan bergabung dengan Melodi dan Nara yang sudah lebih sampai di kelas.
***
Edgar pergi keluar rumah sambil membawa tas ranselnya, ia mencoba menelepon Aletha namun belum juga ada jawaban.
“Udah berangkat duluan kali ya.” ucap Edgar kepada dirinya sendiri.
Edgar akhirnya memutuskan untuk berangkat sendiri karena Aletha sepertinya sudah berangkat terlebih dahulu. Karena kakaknya juga sudah berangkat kerja, jadi ia tidak perlu untuk mengantar kakaknya ke tempat kerjanya yang tempatnya lumayan jauh. Ia kemudian menyalakan motornya dan segera melajukan motornya keluar dari kompleksnya.
Sebelum Edgar pergi ke kampus, ia menyempatkan diri mendatangi suatu tempat untuk menemui seseorang yang amat sangat ia cintai. Setelah sampai di tempat tersebut, Edgar segera memarkirkan motornya dan segera berjalan menuju tempat yang ia maksud. Tempat itu terasa sepi dan sunyi, hanya beberapa orang saja yang datang untuk berkunjung.
Edgar berjalan menuju tempat seseorang yang ia cintai berada, di sinilah Edgar sekarang, berada di samping batu nisan yang bertuliskan nama ibunya. Sudah tujuh tahun Edgar ditinggal oleh ibunya untuk selamanya. Edgar membersihkan pemakaman ibunya kemudian di atas makam tersebut ia taburi bunga yang sebelumnya ia beli di luar.
“Pagi Mah.” Sapa Edgar yang ia tahu ibunya tidak akan menjawab sapaannya.
“Mamah apa kabar? Semoga baik-baik aja ya.”
“Edgar kangen banget sama Mamah, udah tujuh tahun Mamah pergi buat ninggalin Egdar.”
“Rasanya sedih banget waktu Mamah harus pergi buat selamanya, tapi di sisi lain Edgar bersyukur karena Mamah sekarang udah nggak ngerasain sakit lagi.”
Ibunda Edgar meninggal karena sakit leukimia yang dideritanya semakin parah hingga membuat nyawanya tidak bisa tertolong. Saat itu Edgar benar-benar merasa terpukul karena ia harus kehilangan seseorang yang sangat ia cintai. Namun seiring waktu berlalu, ia mencoba mengikhlaskan kepergian ibunya. Edgar tampak memanjatkan doa untuk ibunya, setelah itu ia baru keluar dari pemakaman untuk berangkat kuliah. Sepulang dari pemakaman, ia segera kembali melajukan motornya menuju kampus.
***
Saat jadwal kuliahnya yang pertama sudah berakhir, Aletha memutuskan untuk duduk menyendiri di lapangan. Sampai sekarang ia masih mencoba untuk menenangkan dirinya, ia benar-benar masih merasa syok ketika mendengar penjelasan dokter kemarin. Aletha menatap luasnya lapangan yang kini sedang dibuat main futsal oleh beberapa mahasiswa di kampusnya. Ia belum juga melihat keberadaan Edgar sampai sekarang.
Tak lama kemudian ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang dan orang itu tak lain adalah Edgar.
“Ngapain lo di sini sendirian?” tanya Edgar sedikit heran karena biasanya Aletha tidak pernah duduk di kursi lapangan sendirian ketika tidak ada dirinya.
“Ya ngeliat orang main futsal.” jawab Aletha.
“Gue perhatiin dari jauh tadi ngelamun aja.” ucap Edgar.
“Enggak ah gue nggak ngelamun kok.” balas Aletha.
“Oh ya lo dari kemaren nggak aktif, kemana aja?” tanya Edgar yang membuat Aletha kebingungan harus menjawab apa karena tidak mungkin ia menjawab pergi ke Rumah Sakit, bisa panjang urusannya nanti.
“Enggak kemana-mana, kemaren hp gue kebetulan lowbatt aja.” jawab Aletha.
“Beneran?” tanya Edgar memastikan ucapan Aletha.
“I-iya beneran.” balas Aletha, ia berharap semoga Edgar percaya dengan kata-katanya barusan.
“Yaudah deh, kalo misal ada apa-apa cerita sama gue, lo inget kan janji kita dari dulu kalo lagi ada masalah atau apa jangan dipendam sendirian?” tanya Edgar yang seketika membuat Aletha terkesiap.
“Inget kok gue inget, gue kalo lagi ada yang mau diceritain kan pasti cerita ke lo hehe.” ucap Aletha, seketika ia merasa bersalah jika harus menyembunyikan tentang penyakitnya kepada Edgar, namun ia juga tidak ingin jika Edgar mengetahui tentang penyakitnya.
“Nah gitu dong.” ucap Edgar.
“Lo nggak ada kelas?” tanya Aletha berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Bentar lagi kurang lebih setengah jam lagi, lo juga lagi nggak ada kelas sekarang?” tanya Edgar.
“Oh oke, gue barusan selesai, jadwal yang kedua ntar agak siangan.” balas Aletha.
“Eh hari minggu nanti pergi yok.” Ajak Edgar ke suatu tempat.
“Kemana?” tanya Aletha.
“Ke pantai.” ucap Edgar dengan nada antusiasnya.
“Hah? Pantai?” tanya Aletha untuk memastikan, ia memang sudah lama tidak ke pantai karena jaraknya yang lumayan jauh dari rumahnya.
“Iya pantai, mau kan? Mau ya Le?” Ajak Edgar memohon kepada Aletha agar mengiyakan ajakannya.
“Iya iya gue mau.” balas Aletha sambil tersenyum.
Saat Aletha dan Edgar sedang berbicang-bincang, tiba-tiba terdengar teriakan yang memanggil Aletha dari kejauhan. Aletha menoleh ke arah sumber suara tersebut dan mendapati Nara sedang berlari menuju ke arahnya.
“Aletha Aletha Aletha.” Panggil Nara sambil berlari ke arah Aletha.
“Kenapa Nar?” tanya Aletha penasaran.
“Atur napas dulu Ra ngos-ngosan gitu.” ujar Edgar yang melihat Nara tampak kelelahan berlari.
“Itu, kuliah kita diajuin, gue, Poppy sama Melodi nyariin lo, buruan ke kelas ayok.” Ajak Nara.
“Hah beneran?” tanya Aletha terkejut. Nara langsung menganggukkan kepalanya.
“Iya beneran lo lupa ya pasti.” ucap Aletha.
“Oh iya gue lupa, yaudah ayo ke kelas sekarang.” Aletha baru ingat jika jadwal kuliahnya di majukan, pikirannya yang kemarin sedang kacau membuat dirinya lupa dengan segalanya.
“Gar gue pergi dulu ya ke kelas.” Pamit Aletha kepada Edgar. Aletha langsung bergegas pergi bersama Nara dan meninggalkan Edgar duduk sendirian di pinggir lapangan.
“Yah yah gue di tinggal.” ujar Edgar.
Dari kejauhan, setelah Aletha dan Nara pergi, Gilang menghampiri Edgar ke pinggir lapangan.
“Woi.” Gilang melemparkan bola ke arah Edgar, untung saja Eddgar dengan sigap langsung menangkap bola itu, jika tidak ia tangkap bola itu langsung menampar wajahnya.
“Main lempar-lempar aja lo, untung gue siap nangkep bolanya.” ucap Edgar dengan nada kesal kepada Gilang.
“Hahaha lagian lo malah duduk bukannya ikut main.” ujar Gilang sambil tertawa.
“Lagi males gue main bola.” ucap Edgar.
“Malesan lo, eh ngomong ngomong cewek yang tadi sama Aletha lo kenal?” tanya Gilang.
“Siapa? Nara?” tanya Edgar memastikan. Gilang menganggukkan kepalanya.
“Kenal? Kenapa emang?” tanya Edgar.
“Nggak papa nanya doang.” ucap Gilang.
“Lo suka ya sama dia?” tanya Edgar menelisik dengan rasa penuh penasaran.
“Sok tau lo.” balas Gilang langsung membantah Edgar.
“Emang tau hahaha, dah ah gue mau ke kelas dulu bentar lagi ada kuis.” ujar Edgar sambil tertawa. Edgar lalu berdiri dan pergi meninggalkan Gilang yang tampak kelelahan setelah bermain futsal.
“Ye malah gue giliran yang ditinggalin.” ujar Gilang sambil menggerutu.
“Tungguin gue woi.” Teriak Gilang sembari berlari mengejar Edgar.
Gilang kemudian meminum minuman kalengnya dan segera menyusul Edgar yang sudah jalan terlebih dahulu meninggalkannya.
***
Setelah lebih dari satu minggu adiknya dirawat, kini Isna sudah diperbolehkan pulang dan saatnya Dewi pulang kembali ke rumah. Dewi mengantarkan Isna pulang ke rumah terlebih dahulu, setelah ia menjemput Aqila pulang dari sekolahnya, Dewi akhirnya memilih untuk berpamitan pulang kembali ke rumahnya kepada Isna.
“Na, Mbak pulang dulu ya.” ucap Dewi berpamitan di depan teras rumah lamanya.
“Hati-hati ya Mbak, kapan-kapan main ke sini lagi.” ujar Isna.
“Iya nanti kalo ada waktu luang mbak ke sini.” ucap Dewi.
“Yaudah kalo gitu Mbak pulang dulu ya.” ujar Dewi kembali.
“Iya Mba, hati-hati ya Mba, salam buat Aletha.” balas Isna. Dewi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Aqila, Bude pulang dulu ya.” Pamit Dewi kepada keponakannya yang sangat menggemaskan itu.
“Iya Bude, dadaaah.” ucap Aqila sambil melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan.
Dewi kemudian masuk ke dalam mobilnya dan langsung melajukan mobilnya kembali menuju Jakarta dan pulang ke rumah, sudah satu minggu lebih berarti dia tidak bertemu Aletha, rasanya rindu sekali dengan putrinya itu. Dalam perjalanan Dewi berinisiatif untuk membelikan beberapa makanan kesukaan Aletha terlebih dahulu sebelum ia pulang ke rumahnya, setelah ia membeli beberapa makanan favorit Aletha, ia lalu melajukan mobilnya kembali dan pulang ke rumah.