Setelah mendengar penjelasan dari dokter tersebut tentang hasil tesnya dan mendengar lebih dalam tentang penyakitnya, Aletha benar-benar tidak tahu harus bagaimana dengan penyakit yang kini ia derita. Ia benar-benar tidak bisa berpikir tenang sekarang. Kini Aletha hanya bisa duduk menatap indahnya langit sore sembari berharap bahwa ini hanyalah mimpi, namun sekeras apapun ia mencoba meyakinkan diri dan berharap hari ini hanyalah mimpi baginya akan semakin menyakitkan. Langit sore yang terlihat indah tidak sama dengan perasaannya yang kacau setelah mengetahui penjelasan dari dokter.
Aletha langsung memilih pulang ke rumah setelah dirinya merasa sedikit lebih tenang, di perjalanan ia selalu berusaha untuk menenangkan pikirannya. sesampainya di rumah, ia langsung masuk ke kamarnya agar Mbok Ning tidak melihat matanya yang sembab. Aletha duduk di atas kasurnya menghadap ke jendela kamarnya agar ia bisa menatap langit dari dalam kamarnya.
“Tenang Aletha, lo harus sembuh, iya lo pasti bisa sembuh.” ucap Aletha memberikan semangat kepada dirinya sendiri sembari mengusap air matanya yang sedari tadi menetes.
Aletha harus berjuang sembuh agar ia bisa tetap terus menemani Mamahnya hingga hari tua nanti karena hanya dirinya lah satu-staunya harapan di keluarga ini. Saat hari mulai malam, ia kemudian keluar dari kamarnya untuk makan malam. Aletha meminta Mbok Ning untuk makan malam bersama karena kini Mamahnya sedang berada di luar kota.
“Non Aletha dari tadi diem, apa lagi ada masalah Non?” tanya Mbok Ning.
“Nggak kok Mbok, aku baik-baik aja.” balas Aletha sembari tesenyum.
“Yasudah, Mbok kira kenapa hehe.” ucap Mbok Ning.
“Oh ya Mbok aku mau nanya, Mbok Ning pernah punya temen atau tetangga yang pernah sakit leukimia?” tanya Aletha kepada Mbok Ning dengan penuh kehati-hatian.
“Pernah ada Non, tetangga Mbok sama keponakan Mbok di kampung.” jawab Mbok Ning.
“Sembuh semua Mbok?” tanya Aletha kembali.
“Tetangga Mbok meninggal Non.” jawaban Mbok Ning membuatnya tersedak.
“Eh Non ini minum dulu, pelan-pelan Non kalau makan.” ujar Mbok Ning sembari memberikan segelas air untuk Aletha.
“Meninggal karena leukimia Mbok?” tanya Aletha kembali.
“Iya Non, tapi keponakan Mbok yang sakit leukimia bisa sembuh kok Non.” ujar Mbok Ning.
Ucapan terakhir yang dilontarkan Mbok Ning bisa melegakan pernapasannya.
“Non Aletha kenapa nanya begitu?” tanya Mbok Ning penasaran.
“Nggak papa kok Mbok nanya aja buat tugas kampus hehehe.” jawab Aletha
“Oalah Mbok kira ada apa Non.” balas Mbok Ning sembari tersenyum.
***
Edgar memainkan ponselnya hingga ia merasa bosan. Edgar mencoba mengirimkan pesan kepada Aletha namun dari tadi belum juga ada jawaban dari Aletha.
“Nih anak kemana ya kok tumben hp nya nggak aktif.” tanya Edgar dalam hati.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar yang tak lain adalah Wina.
“Gar Edgar…” Panggil Wina dari luar kamar sambil mengetuk pintu kamar Edgar.
“Masuk Mbak.” balas Edgar dengan nada sedikit berteriak agar kakaknya mendengar suaranya.
Wina akhirnya membuka pintu kamar Edgar dan menghampiri adiknya itu.
“Tetheringin gue bentar dong, kuota gue tiba-tiba abis nih.” ujar Wina memohon kepada Edgar.
“Ogah, kemaren gue minta mie lo aja nggak boleh.” balas Edgar mengungkit kejadian kemarin.
“Yaelah masih inget aja, abis ini gue bikinin mie beneran deh, buat ngabarin calon suami gue bentar.” ucap Wina.
Edgar kemudian menghidupkan tetheringnya agar kakaknya tidak mengoceh terus.
“Makanya nggak usah LDR jadi susah kan, buruan nikah.” ujar Edgar.
“Ngomong doang gampang, lagian lo juga deket doang tapi nggak berani nyatain perasaan lo.” balas Wina.
“Maksud lo?” tanya Edgar bingung dengan perkataan Wina barusan.
“Iya lo dari dulu deket doang sama Aletha, gue tau lo suka sama dia tapi nggak berani bilang kan?” ledek Wina.
“Enak aja, sok tau lo, gue kan sama Aletha sahabatan.” balas Edgar sembari menimpuk Wina dengan bantal yang ada di sampingnya.
“Ya emang kalo sahabatan nggak boleh suka gitu? Aneh ngelesnya hahaha, dah ah mau ke kamar bye, jangan dimatiin tetheringnya.” ucap Wina sembari tertawa, ia lalu keluar dari kamar Edgar.
“Jangan lupa bikinin mie.” ucap Edgar sambil berteriak.
“Iya bawel.” balas Wina dari kejauhan.
***
Dewi membangunkan Aqila karena hari sudah pagi dan waktunya Aqila untuk segera ia antar ke sekolah. Saat membangunkan Aqila, ia jadi teringat tentang dirinya dulu yang juga membangunkan Aletha ketika Aletha masih kecil umurnya sekitar tujuh tahun sama seperti Aqila. Ia jadi merindukan masa-masa itu ketika dirinya masih mempunyai banyak waktu dengan Aletha, tidak seperti sekarang yang waktunya hampir tersita karena urusan pekerjaan. Namun Dewi selalu berusaha, sesibuk apapun ia akan tetap lebih mementingkan putrinya terlebih dahulu jika ada apa-apa.
“Aqila bangun sayang, udah pagi.” ucap Dewi beberapa kali mencoba untuk membangunkan Aqila dari tidurnya akhhirnya Aqila terbangun juga.
Setelah Aqila bangun, ia meminta Aqila untuk segera mandi agar tidak terlambat datang ke sekolah. Sembari menunggu Aqila selesai mandi, Dewi memilih untuk menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Aqila terlebih dahulu.
“Udah selesai mandinya?” tanya Dewi ketika Aqila menghampiri dirinya.
“Udah Bude, Aqila juga udah siap berangkat ke sekolah.” ucap Aqila dengan nada khas anak kecil sambil membawa tas ranselnya.
“Sebelum berangkat kita makan dulu yuk.” Ajak Dewi yang dibalas anggukan oleh Aqila.
Mereka berdua kemudian menikmati sarapannya, setelah selesai sarapan, Dewi mengantarkan Aqila menuju sekolahnya.
"Bude Aqila masuk dulu ya." ucap Aqila dengan nada yang menggemaskan jika didengar.
“Semangat belajarnya di sekolah, nanti pulangnya Bude jemput ya Qila, daaah.” Dewi melambaikan tangannya hingga Aqila masuk ke dalam kelasnya. Ia kemudian kembali masuk ke dalam mobil dan menuju Rumah Sakit tempat adiknya dirawat. Sebelum ke Rumah Sakit, ia memilih untuk menghubungi putrinya terlebih dahulu.
***
Aletha bangun dari tidurnya karena mendengar suara dering telpon dari ponselnya, ia lalu mengerjapkan kedua matanya dan segera mengambil ponselnya yang berada di atas meja. Ia kemudian langsung mengangkat telpon yang tak lain adalah telpon dari ibunya.
“Halo Mah.”
“Halo Al, udah bangun?”
“Udah Mah ini baru bangun tidur.”
“Yasudah, hari ini kamu kuliah jam berapa?”
“Di jadwal sih jam 9 nanti Mah.”
“Udah sarapan?”
“Belum Mah, bentar lagi heheh.”
“Emm kebiasaan kamu nih sukanya telat makan, kemarin kepala kamu gimana? Masih pusing? Kalo masih nanti pas Mamah pulang kita ke dokter ya”
“Udah enggak kok Mah, jadi nggak usah ke dokter heheh.”
“Beneran?”
“Beneran Mah, Mamah kapan pulang?”
“Kemjungkinan lusa Mamah pulang.”
“Emm oke Mah.”
“Yaudah telponnya Mamah tutup ya kamu jangan lupa sarapan nanti sakit.”
“Oke Mah.”
Panggilan tersebut ditutup oleh Dewi, Aletha terdiam sejenak dan duduk diatas kursi belajarnya. Ia sampai sekarang belum juga memberi tahu tentang penyakit yang sekarang dideritanya, Aletha takut jika ia memberi tahu yang sebenarnya hal itu akan membebani ibunya. Ia memilih untuk menyembunyikan penyakitnya dari siapa pun hingga entah sampai kapan. Aletha kemudian membuka pesan di ponselnya yang dari semalam belum juga ia buka, Aletha baru sadar jika sehabis dari Rumah Sakit kemarin ponselnya sama sekali tidak aktif dan sekarang ada beberapa pesan dari teman-temannya yang belum terbalas termasuk Edgar. Setelah membalas pesan tersebut, ia kemudian langsung pergi bersiap-siap ke kampus agar tidak terjebak macet dan hampir terlambat seperti kemarin.
***
Dewi kembali masuk ke dalam Rumah Sakit setelah mengantarkan Aqila ke sekolah, setelah ia memarkirkan mobilnya, ia segera memasuki ruangan tempat adiknya dirawat sambil membawakan beberapa buah-buahan segar untuk adiknya.
“Gimana kondisi kamu sekarang dek?” tanya Dewi setelah masuk ke ruangan.
“Udah mendingan kok Mbak, kata dokter besok udah boleh pulang.” jawab Isna.
“Syukurlah kalau begitu.” balas Dewi sembari tersenyum.
“Oh iya tadi abis nganter Aqila ke sekolah, aku mampir beli buah dulu nih buat kamu.” ucap Dewi menyerahkan buah-buahan tersebut kepada Isna.
“Makasih ya Mbak.” ujar Isna sambil tersenyum.
“Mbak, sebenernya dari kemarin ada yang mau aku omongin.” ucap Isna yang membuat Dewi penasaran.
“Apa Na? Ngomong aja nggak papa.” tanya Dewi penasaran.
“Satu bulan lalu Mas Wisnu dateng ke rumah nyari Mbak Dewi.” ujar Isna yang seketika membuat Dewi terdiam.
“Terus kamu ngomong apa sama Mas Wisnu?” tanya Dewi.
“Aku bilang kalo Mba Dewi udah lama pindah, tapi aku nggak ngasih tau dimana tempat Mbak Dewi sekarang tinggal.” jawab Isna.
“Apa mungkin orang yang kemarin itu beneran Mas Wisnu ya.” Dewi bertanya-tanya dalam hatinya.
“Mbak…” ucap Isna yang membuyarkan lamunan Dewi.
“Eh, iya Na.” balas Dewi.
“Aku salah ya Mbak, seharusnya tadi aku nggak usah ngomong hal itu ke Mbak Dewi, maaf ya Mbak.” ujar Isna.
“Nggak papa kok Na kan kamu cuman ngasih tau.” balas Dewi sembari tersenyum.
Dewi kemudian duduk di sofa yang berada di dalam ruangan tersebut, ia tampak berpikir dengan mengaitkan seseorang yang ia temui kemarin malam. Ia berpikiran jika orang yang lewat di hadapannya kemarin adalan mantan suaminya. Namun Dewi berusaha untuk menepis rasa penasaran itu dan tidak ingin mengingat hal kemarin karena kini hubungannya dengan Wisnu juga sudah berakhir dan memilih untuk menjalani hidup masing-masing.