Part 9

1588 Words
Seusai kuliah, Edgar tidak mengantarkan Aletha untuk langsung pulang ke rumah, ia mengajak Aletha untuk ke rumahnya terlebih dahulu. Walaupun rumah Aletha dan Edgar dekat, mereka berdua jarang berkumpul bersama di rumah Edgar maupun Aletha. Setelah sampai di rumah Edgar, Aletha segera turun dari motor Edgar dan segera melepaskan helmnya. “Yok masuk.” Ajak Edgar mempersilahkan Aletha untuk masuk ke rumahnya. Adi yang mendengar suara ketuka pintu dan pintu yang terbuka itu membuatnya seketika menoleh. “Baru pulang Gar?” tanya Adi. “Iya Pah.” ujar Edgar. “Eh Aletha, udah lama nggak keliatan sekarang baru main lagi ke sini.” Adi menyapa Aletha yang berjalan di belakan Edgar. “Hai Om Adi, iya Om akhir-akhir ini tugas kuliah banyak banget hehe.” Aletha menghampiri Adi dan mencium tangan Adi dengan sopan. “Sama tuh kayak Edgar, tapi kalo Edgar sibuknya bukan sibuk nugas tapi sibuk main game.” ujar Adi sambil tertawa. “Ye Papah, aku kirain bakal muji Edgar rajin ternyata eh ternyata.” balas Edgar yang membuat Adi dan Aletha seketika tertawa. “Ngomong-ngomong, Mbak Wina belom pulang Pah?” tanya Edgar yang belum melihat kakaknya. “Udah kok tadi ke dapur katanya mau bikin mie.” jawab Adi sambil membaca koran. “Cie nyariin gue ya.” ujar Wina yang berjalan dari dapur sembari membawa semangkuk mie kuah di tangannya. “Nggak juga, cuma nanya doang tadi.” balas Edgar. “Bagi mienya dong, laper banget nih gue.” ucap Edgar dengan tatapan yang sangat ingin mencicipi mie buatan Wina. “Nggak mau nggak mau bikin sendiri sono, eh Aletha udah lama nggak main ke sini, ke kamar gue yok biasalah nonton drakor.” ujar Wna kepada Edgar dan disambung menyapa Aletha. “Wah boleh tuh Mbak, udah lama juga nggak nonton drakor.” balas Aletha. Wina kemudian mengajak Aletha untuk pergi ke kamarnya dan meninggalkan Edgar beserta ayahnya di ruang keluarga. “Yaelah gue yang ngajak Aletha ke sini, sekarang malah gue ditinggalin, mana nggak dapet mie lagi.” ucap Edgar dengan nada kesal kepada kakaknya dan hanya hanya dibalas Wina yang menjulurkan lidahnya untuk mengejek Edgar sambil tertawa, sedangkan Adi hanya bisa tertawa melihat kedua anaknya yang setiap hari selalu ribut. Aletha menghabiskan waktunya lumayan lama di rumah Edgar untuk menonton drakor bersama Wina yang merupakan kakak dari Edgar, hubungan Aletha dan Wina sangat dekat, Aletha sudah menganggap Wina sebagai kakaknya sendiri, sebaliknya Wina yang juga sudah menganggap Aletha sebagai adik kandungnya sendiri seperti Edgar. Aletha dan Wina menonton drakor kesukaan mereka berdua dengan antusias, Edgar masuk ke kamar Wina untuk bergabung, ia bergabung ke kamar Wina bukan untuk ikut menonton drakor bersama dengan Aletha dan kakaknya melainkan mereka sibuk dengan dunia gamenya sendiri. Ketika hari sudah mulai malam, Edgar mengantar Aletha untuk pulang ke rumah, awalnya Aletha menolak karena ia bisa jalan kaki dari rumah Edgar ke rumahnya yang jaraknya dekat, namun Edgar kekeh dengan pendiriannya untuk tetap mengantar Aletha pulang ke rumah hingga membuat Aletha tak bisa menolak permintaan Edgar. Setelah sampai di depan rumahnya, Aletha segera turun dari motor Edgar. “Thanks ya.” ucap Aletha. “Oke kalo gitu gue cabut dulu ya.” balas Edgar bersiap untuk pergi dari rumah Aletha. “Eh kok lo nggak puter balik dulu?” tanya Aletha bingung. “Gue mau ke minimarket dulu.” ucap Edgar. “Oh oke deh hati-hati, kalo gitu gue masuk dulu ya bye.” Pamit Aletha dan dibalas anggukan kepala oleh Edgar, ia kemudian masuk ke rumah meninggalkan Edgar. Aletha masuk ke kamarnya dan memutuskan untuk segera mandi lalu tidur karena ia sudah merasa sangat mengantuk. *** Sesampainya di Rumah Sakit tempat dimana adiknya di rawat, Dewi segera masuk ke Rumah Sakit tersebut, adik perempuannya yang bernama Isna kini harus dirawat di Rumah Sakit lantaran sakit lambung yang sudah lama dideritanya kembali kambuh. Dewi menyusuri lorong Rumah Sakit menuju tempat dimana adiknya dirawat. Setelah menemukan ruangan tersebut, ia segera masuk ke ruangan untuk menemui adiknya dan keponakannya. Dewi mengetuk pintu sebelum akhirnya ia masuk ke ruangan tersebut. “Mbak Dewi.” ucap Isna tersenyum ketika melihat Dewi masuk ke ruangannya. “Gimana kondisi kamu? Udah membaik?” tanya Dewi. “Udah lumayan membaik Mbak.” jawab Isna sambil tersenyum. “Hai Aqila.” Sapa Dewi kepada keponakannya yang kini sedang berada di Rumah Sakit juga. “Hai Bude.” Aqila menyapa Dewi sembari mencium tangan Dewi dengan sopan. “Oh iya nanti selama Bunda kamu di Rumah Sakit, kamu tidurnya sama Bude ya di Rumah.” ucap Dewi. Aqila mengangguk mengerti dengan ucapan Dewi. Kurang lebih satu jam kemudian, Dewi berpamitan kepada adiknya untuk membawa Aqila pulang ke rumah lamanya yang kini di tempati oleh adiknya. Sebelum pindah ke Jakarta, Dewi memang meminta Isna untuk tinggal di rumah lamanya karena ia tidak ingin menjual rumah itu saat ia akan pindah, jadi lebih baik ia meminta adiknya untuk menempati rumahnya. “Na, Mbak pulang dulu ya sama Aqila.” Pamit Dewi kepada adiknya. “Makasih banget ya Mbak udah mau jagain Aqila, maaf ngerepotin Mbak Dewi harus jauh-jauh ke sini.” ucap Isna. “Nggak papa sekalian Mbak juga pengen ke sini, udah lama nggak ke Bandung.” balas Dewi sembarri tersenyum. Setelah berpamitan, Dewi mengajak Aqila untuk pulang ke rumah karena hari sudah malam dan besok Aqila harus berangkat ke sekolah. Saat melewati koridor Rumah Sakit, pandangannya tak sengaja melihat seseorang yang barusan lewat di hadapannya, ia seperti mengenal seseorang yang baru saja lewat. Orang itu mirip dengan mantan suaminya yang kini sudah belasan tahun tidak pernah ia temui setelah mereka berdua bercerai. Dewi refleks untuk berhenti sejenak ketika orang tersebut baru saja lewat di hadapannya hingga membuat Aqila ikut menghentikan langkahnya. “Kenapa Bude?” tanya Aqila ketika Dewi menghentikan langkahnya. “Ah nggak papa kok sayang, yaudah yuk kita pulang.” Dewi tersadar dari lamunannya dan mengajak Aqila untuk berjalan kembali. Perjalanan dari Rumah Sakit ke rumah lamanya memakan waktu sekitar dua puluh menit, ketika mereka berdua sampai, Dewi langsung mengajak Aqila untuk masuk ke dalam rumah. “Aqila tadi udah mandi?” tanya Dewi. “Udah Bude, tadi Aqila udah mandi di Rumah Sakit.” jawab Aqila. “Yasudah karena tadi kita juga udah makan, sekarang Aqila cuci tangan, cuci kaki, sikat gigi terus tidur ya.” Perintah Dewi dengan nada halus kepada Aqila. “Iya Bude.” ucap Aqila lalu pergi ke kamar mandi meninggalkan Dewi. Dewi mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah lamanya, ada banyak kenangan yang masih tersimpan tentang rumah ini bagi Dewi sehingga ia sama sekali tidak berniat untuk menjual rumah ini. Dewi teringat dengan kejadian saat seseorang lewat di hadapannya tadi yang sekilas mirip dengan mantan suaminya. Dewi mengingat kembali kenangan belasan tahun lalu saat ia masih menjadi seorang istri dari Wisnu dan seorang ibu dari Aletha, namun kini dirinya hanyalah seorang ibu dari Aletha saja. Ia duduk hingga tak sadar air matanya sudah menetes membasahi pipinya, rasanya tak sanggup jika Dewi harus melihat kenangan masa lalunya, ia buru-buru mengusap air matanya karena tak ingin Aqila tahu jika ia sedang menangis, Dewi lalu pergi ke kamar Aqila untuk menunggu Aqila hingga tertidur terlebih dahulu sebelum dirinya ikut tidur. *** Seminggu berlalu kini sudah saatnya Aletha untuk kembali ke Rumah Sakit mengambil hasil tes yang ia lakukan untuk mendeteksi sebenarnya ia memiliki penyakit apa. Selama satu minggu kemarin hati Aletha tak tenang, ia takut kemungkina buruk akan hasil tersebut menghampiri dirinya, seminggu terakhir ini juga susah tidur karena memikirkan hasil tes tersebut, dan hari ini tibalah saatnya ia mengambil hasil tersebut. Aletha mencoba untuk menguatkan hatinya dan berdoa jika tidak akan berita buruk nantinya. Aletha keluar dari kamarnya setelah bersiap-siap, karena hari ini ia sedang tidak ada jadwal kuliah jadi ia bisa sedikit tenang. “Mbok, Aletha pergi dulu ya sebentar.” Pamit Aletha kepada Mbok Ning yang sedang menyiram tanaman di halaman depan rumahnya. “Mau kemana Non?” tanya Mbok Ning. “Engg mau jalan-jalan aja kok Mbok.” jawab Aletha dengan nada yang terbata-bata, ia tak mau menjawab jika dirinya akan pergi ke Rumah Sakit karena pasti akan panjang urusannya. “Enggak sama Mas Edgar Non?” tanya Mbok Ning yang belum juga melihat keberadaan Edgar karena biasanya Aletha pergi selalu bersama Edgar. “Enggak Mbok lagi pengen pergi sendiri hehe.” balas Aletha. “Yasudah hati-hati di jalan ya Non.” balas Mbok Ning sembari tersenyum. “Iya Mbok, yaudah kalo gitu aku jalan dulu ya Mbok.” ujar Aletha diakhiri dengan senyumannya. “Iya Non.” balas Mbok Ning. Aletha pergi ke Rumah Sakit menggunakan ojek online yang sudah ia pesan, hari ini jalanan lumayang lenggang tak seperti biasanya jadi ia bisa lebih cepat untuk sampai ke Rumah Sakit. Setelah sampai di Rumah Sakit, Aletha segera turun dari motor ojek online tersebut dan segera masuk ke Rumah Sakit setelah membayar ongkos ojek online tadi. Seperti biasa, ia mengambil nomor antrian terlebih dahulu dan melakukan administrasi, dan kini waktunya tiba Aletha dipanggil untuk menuju ruangan dokter, Aletha mencoba menenangkan diri terlebih dahulu. Ia kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut dan bertemu dengan dokter Ami.  Dokter Ami mempersilahkan Aletha untuk duduk dan mulai memberitahu hasil tes pemeriksaan Aletha satu minggu lalu. Dari hasil tes tersebut dokter Ami memberi tahu jika Aletha mengidap kanker darah atau yang biasa disebut leukimia. Sontak Aletha terkejut ketika mendengar penjelasan dokter Ami barusan. “Leukimia dok?” tanya Aletha memastikan jika ucapan dokter Ami tak salah ia dengar. Dokter Ami menganggukkan kepalanya. Aletha merasakan tubuhnya lemas seketika setelah mendengar hasil tes tersebut, ia tak menyangka jika dirinya harus mengidap leukimia.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD