Gue yang denger Duncan mabuk langsung ke club yang udah ditunjukin temen dia tadi.
Sebenernya tadi kak Hyunki mau ikut tapi gak gue bolehin. Karena nanti kalau dia ngikut gue takutnya dia telat. Jadi gue kesini naik gojek dan gue gak jadi nemenin kak Hyunki.
Gue pun udah sampai di club ini dan langsung masuk. Begitu masuk gue liat club-nya sepi tapi tempatnya rusuh gitu.
Gue mikir pasti bekas semalem. Ini juga kenapa Duncan main ke club lagi sih, gue kebiri lama-lama itu anak. Mana bau alkohol dan banyak putung rokok berceceran disini.
"Eh lo istrinya Duncan kan?"
Gue menjengat kaget saat ada orang menepuk pundak gue tiba-tiba. Gue kaget saat lihat mukanya, gue kira tadi gendruwo eh ternyata orang.
"Iy..iyaaa."
"Gue temennya Duncan waktu itu, lo masih inget kan."
Gue mengangguk menanggapinya.
"Duncan mana?"
"Ikut gue, gue udah naruh Duncan di ruang istirahat tadi. Maaf ya club-nya berantakan, club milik gue belum dibersihin kalau jam segini." Kata Richard sambil garuk tengkuknya. Oh jadi ini club milik dia. Pantes jorok.
Gue pun mengangguk dan segera mengikuti Richard dari belakang.
"Dia kesini dari jam berapa ya?" Tanya gue di sepanjang perjalanan.
"Emm mungkin sekitar jam 11 an."
Berarti Duncan langsung pergi waktu gue tengkar sama dia dong.
"Lo tau gak semalem dia uring-uringan. Dia ngehabisin 6 botol sendirian. Apa ada masalah sama dia?"
Gue melotot mendengar perkataan Richard barusan. Gila habis 6 botol, Duncan gak punya otak beneran. Kalau dia sakit gara-gara sering minum gimana.
Belum sempat gue menjawab pertanyaan Richard. Kita udah sampai di tempat kamar yang dipergunakan buat istirahat atau mungkin buat yang lain?
"Ya ampun Duncan."
Gue menghampiri Duncan saat udah masuk dan melihat Duncan tergeletak di kasur.
"Dia terus-terusan manggil nama lo tuh Na. Gue udah nenangin dia tapi dia minta lo dateng kesini."
"Udah gila em-"
"Nannaaaaa jangan tinggalin aku eunghhh."
Gue kaget saat Duncan tiba-tiba narik tangan gue dan bikin gue ambruk tepat d**a dia.
"Can lepas ihh."
Gue mencoba melepas pelukan Duncan tapi nihil tenaga dia 11 12 sama banteng tau gak.
"Na gue siapin mobil dulu ya, kita bawa si Duncan ke rumah sakit. Kali-kali tuh bocah kobam."
Gue pun mengangguk mendengar perkataan Richard.
"Makasih ya Chard maaf kalau ngerepotin."
"Santai aja."
Setelah itu gue lihat Richard udah keluar dari kamar ini.
"Can sadar Can! Duncan! Ihhh."
Gue memukuli pipi Duncan yang masih memeluk gue erat. Gue pun mencium bau alkohol yang menyengat saat berada sedekat ini sama Duncan.
"Na pliss jangan tinggalin akuu. Alainaaa!"
"Astaga Duncan jangan teriak-teriak."
Gue pun merasakan badan Duncan yang panas.
"Can badan kamu anget ayo kita ke rumah sakit."
Kayaknya ini anak masih mabok deh. Daritadi dia cuma manggilin nama gue aja sambil ngekepin gue.
"Na."
Gue mendongak saat Duncan memanggil nama gue. Langsung saja gue kaget saat Duncan menatap gue lekat lekat. Gue yang ditatap langsung kicep bahkan nafas aja susah saat ini.
"Kamu punya aku. Aku punya kamu. Jangan tinggalin aku."
Kata-kata Duncan barusan membuat jantung gue berdetak cepat. Entah kenapa gue merasakan ketulusan saat Duncan mengatakan hal itu. Tapi gue masih belum yakin.
"Ap..apa sih Can jangan ngawur deh. Kamu masih mabuk ayo kita ke rumah sakit."
Gue mendorong tubuh Duncan tapi tangan gue ditahan Duncan. Dan sekarang Duncan memindah tubuhnya tepat diatas gue. Tangan gue udah dipegang erat-erat sama Duncan.
"Aku gak bakal ngelepasin kamu. Kamu hanya milik seorang Kang Duncan."
Deg!
Setelah itu Duncan membungkan mulut gue dengan mulutnya. Lumatan Duncan yang terasa menuntut dan kasar membuat gue memejamkan mata gue dan menikmatinya.