Kenapa hati gue bisa bertahan saat pikiran gue mengatakan lo harus melepaskan dia - Alaina.
Gue gak bisa nafas saat lihat lo nangis karena cowok itu - Franklin.
Keterlambatan, seperti halnya lo udah nemuin sesuatu yang siap lo gapai tapi tanpa sadar sesuatu yang mau lo gapai udah hilang secepat kilat. Dan keterlambatan itulah yang membuat lo sakit sampai saat ini - Hyunki.
...
Saat ini gue, Duncan dan Irene sedang makan di meja yang sama. Gue menyetujui Duncan yang mengajak Irene untuk makan bersama kami. Sebenernya jauh di lubuk hati gue, gue gak rela.
Siapa sih yang gak kesel kalau kita lagi makan sama mantan suami kita. Pasti rasanya kayak mimpi ketabrak mobil, sakit tapi gak berdarah.
Selama makan pun hanya diisi oleh percakapan antara Duncan dan Irene. Tentunya hal itu membuat gue hanya diam memandangi mereka.
Sejujurnya gue pingin banget keluar dari zona gak nyaman yang gue rasakan saat ini. Tapi gue yang masih berpikiran positif hanya bisa makan sembari tersenyum kikuk.
"Na gimana Duncan? Kalau mandi suka berisik ya?" Tanya Irene ke gue.
Wtf! Apa dia gak mikir pertanyaan dia barusan terlalu sensitif buat gue. Gue tau kalo mereka menjalin hubungan yang lama dan itu membuat mereka tau kepribadian masing-masing.
Walaupun waktu terlama pacaran Duncan masih dipegang sama Krystal tapi si Irene ini gak kalah cantik kok sama Krystal.
"Emm ya gitu hehe." Gue hanya senyum canggung ke Irene dan melanjutkan makan gue.
"Hehe dia tuh ya Na dulu suka banget godain gue sampai buat gue marah. Kalau gue udah marah pasti Duncan langsung datengin rumah gue."
"Idih masih inget ya lo haha." Sahut Duncan sambil senyum ke Irene.
"Ya pasti dong, gue inget banget dulu lo takut banget sama kecoak."
"Haha lo tuh ya Ren, cewek pertama yang berhasil buat gue takjub saat dengan mudahnya lo mukul kecoak sampai mati. Istri gue aja lari waktu lihat kecoak."
Gue hanya bisa tersenyum walaupun hati gue sakit banget saat denger perkataan Duncan barusan. Entah mengapa gue gak suka saat dia banding-bandingin gue sama Irene.
"Ekhmm Can aku ke kamar mandi bentar ya."
Duncan langsung ngangguk dan kembali bercanda sama Irene. Langsung aja gue beranjak dari situ. Sebenernya gue gak ke kamar mandi, gue keluar dari restoran ini melalui pintu belakang.
Gue gak kuat lihat Duncan udah bertingkah seperti biasanya ketika ketemu sama Irene. Sedangkan tadi saat bersama gue dia hanya menatap gue datar dan penuh amarah.
Gue gatau kenapa gue bisa dapat perlakuan seperti ini dari Duncan. Yang jelas saat ini gue udah numpahin air mata gue gitu aja.
Sampai akhirnya gue gak sengaja nabrak orang saat hendak mau menyebrang.
Gue pun minta maaf dan berjalan lagi karena gue gak mau nampakin wajah gue yang lagi nangis.
Tapi tangan gue tiba-tiba dicekal sama orang yang gue tabrak itu dan gue langsung mendongak melihat dia.
"Franklin?"
Buru-buru gue mengusap air mata gue dan bertingkah seperti biasa saat mengetahui orang itu adalah Franklin.
"Ngapain lo disini?"
"Ngikutin lo mbak."
"Ngapain lo ngikutin gue."
"Disuruh bang Edo soalnya bang Edo takut mbak kenapa-napa. Eh taunya beneran lagi kenapa-napa." Kata Franklin sambil menatap gue lekat-lekat.
"Gue gak kenapa-napa."
"Bohong."
"Bocah udah sana pulang, cuci kaki, minum s**u, terus bobo."
Gue pun menghempaskan tangan Franklin dan hendak berjalan menjauhinya.
Tapi entah setan darimana Franklin ini langsung gendong gue layaknya gendong karung beras.
"Weh lo kira gue karung beras apa, turunin gue."
Franklin masih gendong gue dan gak menggubris perkataan gue. Sampai akhirnya Franklin membuka mobil dan mendudukkan gue disana.
Setelah itu Franklin langsung berjalan kearah kemudi dan memasangkan seat belt buat gue.
"Kita jalan yuk mbak." Franklin langsung jalanin mobilnya.
"Lah lo bocah berani amat ngajakin gue jalan."
"Mumpung hari ini gue menjelma jadi cowok peka. Lo boleh ngelampiasin ke gue kok mbak."
Gue langsung meremas ujung baju gue saat denger perkataan Franklin barusan.
Perlahan gue merasa kalau air mata gue mulai menetes kembali. Kenapa gue gak bisa mengontrol tangisan gue.
Gue gak mau kesedihan gue dilihat orang lain. Gue hanya ingin menunjukkan kalau gue baik-baik saja ke semua orang walaupun itu sulit.
"Lo gak perlu berusaha menutupin kesedihan lo mbak."
Gue langsung menutup muka gue pakai kedua tangan gue. Setelah itu gue mulai terisak.
"Gue harus gimana Lin hiks."
Gue merasa mobil Franklin menepi dan suara seat belt yang dipakai Franklin terlepas.
Gue merasa ada tangan hangat yang menyentuh kepala gue dan tubuh hangat yang sudah mendekap gue. Gue juga merasakan bibir milik Franklin sudah menempel di puncak kepala gue.
"Jujur gue ikut sakit lihat cewek yang gue suka nangis kayak gini."
Deg!