Hate You

822 Words
Gue diam dalam dekapan Franklin sampai satu ketukan di kepala gue menyadarkan pikiran gue. "Cie baper cie, bercanda gue mbak." "Dasar lo ya bocah! Berani ya lo godain gue sekarang." Gue mendorong Franklin terus ngucek-ngucek mata gue yang perih. "Yang lo katain bocah bisa buntingin gadis nih mbak." "b**o dipelihara." Gue menoyor kepala Franklin lagi. Emosi gue sama dia. "Nah gitu dong mbak, jangan nangis lagi ya." Dasar Franklin gue kira tadi dia serius, eh malah bercandain gue. Emang dasar titisan dedemit itu anak. "Udah cepet bawa gue kemanapun, buat mood gue balik lagi." "Ke hotel ya mbak." Gue langsung melotot saat Franklin menatap gue m***m. "Lin astaga sejak kapan lo jadi m***m begini. Siapa yang ngajarin lo heh." "Otodidak mbak." "Bangsat." "b*****t b*****t ganteng kan." "Bodo Lin bodo." Setelah itu Franklin ketawa dan jalanin mobilnya kembali. --- Line Duncan : Na kamu kemana? Duncan : Ke kamar mandi lama amat. Duncan :Udah sejaman kamu gak balik. Irene udah pulang ini, ayo kita balik. Duncan : Na. Duncan : P Duncan : P Duncan : P Alaina : Aku udah pulang duluan, kamu langsung balik aja. Setelah itu gue langsung matiin handphone gue. Hati gue masih belum pulih setelah kejadian tadi. Sebenernya gue bohong soal gue yang udah pulang. Orang gue masih di timezone sama Franklin. "Mbak lo kenapa?" Tanya Franklin sadar sama perubahan raut wajah gue. "Capek b**o. Pegel tangan gue main basket." "Nih minum dulu mbak." Franklin nyodorin kaleng minuman yang langsung gue samber. "Mbak kenapa lo bisa nikah sama bang Duncan?" Byur "Uhuk uhuk." Gue menyemburkan minuman gue saat denger pertanyaan Franklin, untung aja gue gak nyembur di muka dia. "Lah kenapa lo tiba-tiba tanya begitu." "Ya kan cuman tanya mbak." Franklin mengelap bekas air yang gue sembur tadi. Baper sama bocah boleh gak hmm. "Lah lo kan tau gue dijodohin." "Maksud gue kenapa lo terima perjodohannya mbak. Lo kan bisa nolak." "Kalau bisa mungkin sekarang gue masih lajang ogeb." "Oh jadi lo dipaksa gitu ya. Kalau lo ngelawan lo bakal dikeluarin dari keluarga gitu mbak?" Tanya Franklin polos banget pingin gue jorokin ke depan. "Lin lo itu ganteng, sayang ogeb." "Mbak lo anaknya sule ya." "Lah bukan, gila ya lo." "Tinggal jawab iya kali mbak." Franklin langsung cemberut bikin gue gemes sendiri lihatnya. "Yaudah iya iya." "Pantes aja kalau gue bareng sama lo bawaannya pengen ketawa mulu." Lah ini Franklin kok jadi pinter gombal gini sih. "Otak lo hilang kali ya. Gak jelas banget dari tadi." "Mbak lo suka brondong gak?" Tanya Franklin random banget. "Kalau modelannya kayak Jaemin atau Jeno NCT mau gue." "Kalo kayak gue gimana?" Lah ini beneran kesambet nih anak. Gue cuman muter bola mata males terus mukul tangannya pelan. "Bercandaan mulu lo dari tadi." "Hehe." Franklin cengengesan bikin gue ngelus d**a aja. "Bodo Lin sebel gue." "Tapi serius mbak, kalau misal sekarang lo lajang lo mau gak sama gue?" Nah loh! --- Gue udah sampai rumah tepat jam 10 malem. Gara-gara Franklin minta makan di mcd dulu jadi gue telat pulang deh. Sebenarnya tadi gue sama Franklin rada canggung gitu gara-gara Franklin bersikap aneh. Tau deh itu anak lupa minum s**u bunda kali. Gue pun rada takut saat udah didepan pintu. Gue takut saat Duncan udah dateng dan marah waktu tau gue bohong soal udah pulang dirumah. Tapi gue memberanikan diri buat masuk ke rumah. Dan bener aja waktu gue masuk, gue udah liat Duncan duduk di kursi ruang tamu dengan tatapan tajamnya. "Oh bagus ya, ini yang kamu bilang udah pulang daritadi? Hobi banget sih keluyuran. Gak inget rumah? Gak inget kalau punya suami?" "Maaf Can tadi aku ada urusan bentar." "Hah urusan sama adek tingkat kamu itu? Urusan apa sampai malam gini baru pulang!" Bentak Duncan. Gue pun menciut saat tangan Duncan udah nyengkram lengan gue. "Can sakit." Perlahan Duncan mulai melepaskam tangannya saat sadar pegangan dia yang membuat gue kesakitan. "Kamu tau gak aku nunggu sejam di sana dan kamu malah enak-enakan sama adek tingkat kamu itu hah." "Kamu juga enak kan aku tinggal berdua sama Irene." "Maksud kamu?" "Kamu mikir gak sih Can, aku tadi berusaha mati-matian saat kamu sama Irene asik bercanda. Sedangkan aku harus ngeluarin senyum palsu buat gak ngerusak suasana yang kalian ciptain. Aku udah berusaha menahan sakit saat dengan gampangnya kalian flashback ke masa-masa kalian pacaran. Kamu tau gak sih, kamu udah buat kepercayaan aku luntur lagi Can." Saat itu juga air mata gue keluar dan raut wajah Duncan mulai melembut. "Aku tau Can aku gak secantik Irene. Aku tau aku kalah dalam segi apapun, aku tau ak-" "Cukup Na kenapa kamu banding bandingin diri kamu sama Irene. Kamu ya kamu Irene ya Irene-" "Jadi menurut kamu dari tadi kamu gak banding-bandingin aku sama Irene gitu? Kamu pernah mikir gak sih Can aku itu udah capek sama semua ini hiks." "Na kamu ngomong apasih? Udah sekarang mending kita tidur." Duncan megang pundak gue tapi gue menghempaskan tangannya gitu aja. "Can gimana kalau kita cerai aja?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD