DUA BELAS

1093 Words
JAKARTA Setelah mereka berlibur ke Bali kini mereka mulai beraktivitas seperti biasa. Gadis sudah berada di butik dia sedang menggambar sketsa kebaya yang akan digunakan oleh Syila karena saat di pesawat Syila memberikan arahan model kebaya yang ingin dipakai saat acara lamaran resmi dan kini Gadis mulai mengerjakannya. "Aduh - aduh yang habis pulang liburan." Goda Raya. "Apaan sih Raya, oh ya ini ada oleh - oleh bagi sama anak - anak ya." Gadis membelikan beberapa cemilan dan kaos yang tipis nyaman. "Siap makasih bosku yang cantik." Kini Raya tidak berbicara formal karena Gadis yang meminta agar mereka tidak canggung dan kerja lebih happy. Saat sedang asyik menggambar sketsa, hp Gadis berdering Gadis melihatnya dan ternyata kakaknya yang menelponnya. "Halo kak ada apa?" "Halo Dis nanti kamu makan siang ada di butik engga?" "Sepertinya ada kak, kenapa?" "Aku sama Wenda mau makan di butik nanti, mau pesan apa?" "Oke siap aku tunggu ya kak, beliin aku cake matcha aja ya kak lagi engga mau makan nasi." "Siap, bye sayang." "Bye sayang." Terkadang Azka dan Gadis saling memanggil sayang hal itu juga sering di lontarkan kedua orang tuanya untuk mereka sehingga mereka tidak canggung ketika saling memanggil sayang. **** Butik Gadis Jam makan siang pun tiba kini Gadis sedang membereskan kertas - kertas yang ada di meja kerjanya sampai ia tidak sadar ada ketukan pintu. "Haii" Sapa seseorang. Gadis kemudian berbalik arah dan melihat siapa yabg datang betapa ia terkejutnya ketika melihat seseorang yang datang saat ini. "Oh hai kak, kak Arkan ada apa ke sini ya?" Tanya Gadis. Ya tamu yang datang adalah Arkan. "Ehmmm tadi aku habis meeting dan lewat sini yasudah aku mampir." Jelas Arkan bohong, yang sebenernya terjadi yaitu Arkan dari kantornya bukan sehabis meeting. "Mau minum apa kak?" Tanya Gadis kemudian. "Ahhh aku mau ajak kamu makan siang di luar." Jelas Arkan. "Maaf kak tetapi aku sudah ada janji. makan siang." Gadis. merasa tidak enak kepada Arkan. "Ah Nando ya, yasudah aku balik kantor saja." Jawab Arkan sebenarnya ia kecewa mendengar jawaban Gadis. "Eh eh eh bukan kak Nando tetapi aku mau makan siang sama kak Azka dan kak Wenda. Kalau kakak mau ayo gabung saja." Jelas Gadis agar Arkan tidak salah mengartikan penolakannya. Arkan menunggu kedatangan Azka dan Wenda ditemani dengan secangkir kopi buatan Gadis yang sangat pas dengan selera Arkan. "Weits siapa nih yang sudah di sini." Suara Azka lumayan keras. "Duh ada yang gercep banget beb." Balas Wenda. "Takut kena tikungan tajam sepertinya beb." Jawab Azka. "Berisik lo berdua." Balas Arkan. Wenda dan Gadis sedang menyiapkan makanan di dapur yang nerada di butik. "Cie yang di apelin cerah bener tu muka." Goda Wenda. "Kakak apaan sih dia tadi lewat sini kemudian mampir kak." Jelas Gadis. "Bisa aja alesan buat ngajak makan siang." Jawab Wenda yang tak di hiraukan Gadis. Di sisi lain "Ckckck takut kena tikungan ya lo." Cecar Azka. "Engga lah." Jawab Arkan. "Yaelah bro sama kakaknya gadis yang sedang lo deketin nih jujur napa jujur." Desak Azka. "Gue tadi lewat sini dan yaudah mampir." Jelas Arkan. "Bohong lo, orang gue tanya Joni lo engga ada kerjaan di luar. Ketahuan basah lo wkwkwk." Skak Azka. "Hmmm iyain." Jelas Arkan. "Lo mau deketin adik gue engga? kalau engga dah balik kantor aja kalau iya tunjukin ke gue kalo lo serius." Nasihat Azka dengan muka seriusnya. "Ini gue serius." Jawab Arkan. Ketika Azka ingin membalas perkataan Arkan kini Gadis dan Wenda sudah datang membawa makanan mereka. "Makasih ya kakaku sayang cake matchanya ini kesukaan aku." Ujar Gadis. "Iya iya iya, lo makan apa Ar? tadi gue cuma beli ini sama cake tu bocil 2." Tamya Azka kepada Arkan. "Ah gue bisa nanti aja." Jawab Arkan. "Kakak mau engga cake matcha, kalau mau masih ada satu di kardus. Kakak harus makan ya." Gadis menawarkan cake matcha kepada Arkan. "Hmm boleh, tapi kamu nanti kalau kurang bagaimana?" Tanya Arkan. "Engga kurang kok kak, ini buat kakak." Gadis sudah menyiapkan cake untuk satunya Arkan satunya. Mereka makan di selingi dengan candaan, Azka dam Wenda sangat romantis hal itu membuat Gadis muak walaupun ia sering melihat mereka berdua bermesraan. Arkan yang melihat ada noda di sudut bibir Gadis kemudian membersihkan noda tersebut dengan jarinya. Hal tersebut membuat Gadis terkejut sama halnya dengan dua orang yang berada di sebrang mereka tapi kedua orang tersebut pura - pura tak melihat hal tersebut. "Ada noda di sudut bibir kamu, kaya anak kecil kalau makan belepotan." Jelas Arkan. "Terima kasih kak, maaf." Jawab Gadis dengan malu - malu. **** *Pov Azka dan Wenda Keduanya kini berada di dalam mobil, Azka akan mengantarkan Wenda pulang ke rumah karena Wenda capek. "Beb menurut aku Arkan suka balik sama Gadis tapi ya Arkan masih cuek" Jelas Wenda. "Kok kamu bisa tahu." Tanya Azka. "Beb aku cewek beb dan aku merasakan dari tatapan Arkan ke Gadis tapi Arkan masih bingung dia harus bilang engga ke Gadis." Jelas Wenda. "Tenang aja beb tadi aku udah kasih nasehat dia kalau dia engga suka sama Gadis jangan kasih harapan ke Gadis." Jelas Azka. "Apaan sih kamu masa cuma kamu nasihatin doang." Protes Wenda. "Ya terus apa dong masa aku harus tonjok dia." Jelas Azka. "Ya engga di tonjok beb, coba pakai cara yang lebih halus semisal kamu kenalin Gadis dengan kenalan kamu." Jelas Wenda sembari memberi usulan. "Ya kan udah, tuh Nando kemarin itu kan yang nyuruh Syila buat deketin Gadis mau tahu reaksi Arkan. Arkannya gitu doang kurang show off ekspresinya." Jelas Azka yang kesal dengan reaksi Arkan. "Ya makanya dong cari yang lain jangan Nando ah. Nando terlalu cupu untuk ngadepin Arkan." Jelas Wenda. "Ya siapa beb, kamu tahu sendiri hampir semua temen aku kenal sama Arkan dan sebaliknya jadi engga mungkin dong ya." Jelas Azka kepada Wenda karena Wenda juga hampir kenal sama teman - teman Azka. "Kamu lupa ya ada teman kita yang baru pulang dari London." Jelas Wenda mengingatkan Azka. "Siapa sih temen kita yang habis pulang dari London beb?" Tanya Azka penasaran kepada Wenda. "Masa sih kamu engga ingat?" Wenda bertanya balik kepada Azka. "Engga ingat beb. Tapi ingat ya beb nanti kalau cowoknya beneran suka Gadis gimana? kamu tahukan Gadis sukanya sama siapa?" Tanya Azka kepada Wenda dan mengingatkan Wenda. "Ya bagus dong biar kalau benar dia suka Gadis ya perjuangkan pasti Gadis akan luluh." Jawab Wenda dan hanya di balas deheman Azka. "Btw siapa sih beb?" Azka beratnya sekali lagi. Wenda sudah menyiapkan skenario terbaik agar temannya ini bertemu dengan Gadis. Wenda berharap semua berjalan lancar dan calon adik iparnya itu bahagia *Kira - kira siapa lelaki yang di maksud oleh Wenda? *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD