Part 11. Jangan Menangis

1643 Words
“jika waktu dapat diputar kembali, aku hanya ingin mencintai kamu dalam diam, dan kita gak perlu ada hubungan, dengan begitu aku gak akan pernah merasakan sakit karena kamu” “Jadi, lo itu udah baper belom sama kak Saga?” tanya Zoya sembari menatap ke arah Aleena “jadi, lo itu kalah lagi kan sama perasaan?” tanya Belva yang juga mentapa ke arah Aleena Aleena sedikit salting dan memalingkan wajahnya dan malah memainkan ponselnya “ya kan kalo masalah hati kita gak ada yang tau” Belva dan Zoya menghela nafasnya. “udah ah gue balik yah udah sore” kata Belva seraya merapihkan rambutnya “sama gue juga” kata Zoya seraya merapihkan tasnya Aleena menatap ke dua sahabatnya ini “ih temenin gue kek dirumah sampe pada pulang” Saat ini Aleena berada dirumah sendirian, tidak ada makanan lengkap sudah kesendirian Aleena. “ah males masak gue” kata Aleena sembari memegangi perutnya yang sedari tadi meminta untuk diisi “beli nasgor depan komplek aja kali yah” Malam ini Aleena memutuskan untuk membeli nasi goreng di depan kompleknya. Dia hanya menggunakan sandal jepit rumah dan berpakaian santai. Setelah dia mengunci pintunya Aleena langsung berjalan kaki menuju depan komplek yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. “mas, nasi goreng 1 jangan pake bawang goreng terus sedeng yah pedesnya” ucap Aleena kepada tukang nasi goreng “kok tumben neng sendiri, gak sama abangnya” tanya si Tukang Nasi Goreng sembari memecahkan telur “iya nih pada belum pulang” jawab Aleena Sembari Aleena menunggu nasi goreng yang dipesan, dia memainkan ponselnya dan membuka aplikasi Line Saganteng Kak, lagi dimana? Gue lg beli nasgor loh depan komplek Kak bales kek, temenin gue gitu chat an sampe nasgor gue selesei, lucu aja gue mainin hp cuma liat-liat galeri Kak ih jangan kacangin gue dong, gue aja gak suka kacang Aleena berdecak kesal, karena chat nya tidak dibalas satupun oleh Saga namun, Saga membacanya. “nih mbak” kata si Tukang nasi goreng seraya memberikan satu kresek hitam pada Aleena “makasih yah mas” ucap Aleena seraya memberikan uang sepuluh ribuan Aleena pun berjalan pulang ke rumahnya dengan menenteng sebuah kresek hitam, jalanan komplek entah mengapa malam ini cukup sepi membuat Aleena sedikit ketakutan. Aleena menoleh ke belakang dan terlihat ada seseorang menggunakan sweater dengan kupluk yang menutupi kepalanya. Terlihat samar-samar, Aleena merasa takut jika dia memang sedang diikuti. Aleena pun mempercepat langkahnya. “duh siapa sih tuh orang, kok kayanya ngikutin gue gitu” gumam Aleena ketakutan Akhirnya Aleena bukan hanya mempercepat langkahnya, melainkan berlari dengan cukup cepat dan sesekali menoleh kebelakang. Ketika Aleena berlari dengan sangat cepat tiba-tiba dia tersandung dan terjatuh dengan keras. “awh” Aleena meringis kesakitan dia memegangi lututnya yang berdarah karena aspal, sandal jepit berwarna birunya juga putus karena terseret. Tiba-tiba ada yang memegang pundak Aleena, Aleena pun membulatkan matanya lalu menutup wajahnya dengan tangannya “aaak jangan jahatin gue please, please” ucap Aleena yang ketakutan. “kenapa harus lari?” terdengar suara seorang cowok Aleena pun membuka tangannya lalu dia terkejut melihat siapa yang ada dihadapannya. “kakak?” kata Aleena sembari menghela nafasnya dan mengelus-ngelus dadanya Ternyata, yang mengikuti Aleena adalah Saga. “Kakak ngapain sih nakut-nakutin gitu? Pake ngikutin segala mana muka gak keliatan! Takut tau gak gue, sampe jatoh gini tuh berdarah sakit tau!” kata Aleena yang air matanya terjatuh mengenai pipinya “sorry” ucap Saga “hikss kenapa sih bikin jantungan tau gak hiks” kata Aleena sembari terisak Saga melihat lutut Aleena yang berdarah, dia tampak kasihan. Akibat ulah bodohnya ini Aleena menangis, sudah dua kali Saga membuat Aleena terjatuh dan menangis. Saga menurunkan tubuhnya berlutut didepan Aleena “naik” ucap Saga “hm?” kata Aleena sembari melongo “naik cepet” Dengan ekspresi yang masih bingung Aleena pun menuruti dan naik di atas punggung Saga, dia melingkarkan tangannya di leher Saga. Sepanjang perjalanan, Aleena tidak berhenti senyum , dia menopangkan dagunya di pundak Saga, dia dapat mencium harum aroma tubuh Saga yang membuat Aleena merinding sendiri. Mereka akhirnya sampai dirumah Aleena, Aleena masih merasakan perih disekitar lututnya yang tergores aspal tadi. “dimana kotak obat?” tanya Saga yang sudah mendudukan Aleena di soffa bed ruang keluarganya Aleena menunjukan tangannya ke arah dimana kotak obat itu dan Saga mengambilnya, lalu berlutut di hadapan Aleena. “awwwhh perih kak” Aleena meringis kesakitan ketika Saga mengoleskan obat merah ke lukanya “Cuma luka kecil, baret doang” “terkadang luka kecil itu malah yang membuat perih sangat lama kak, dibandingkan luka besar yang sakit sekaligus saat itu juga” kata Aleena Saga yang mendengar hal itu langsung menghentikan tangannya lalu menatap Aleena. Aleena tampak memalingkan wajahnya dia memang tidak bisa ditatap seperti itu oleh Saga “udah, gue balik dan sorry sekali lagi” kata Saga hendak berdiri Aleena mengangguk pelan dan tersenyum “makasih kak” Saga pun pergi meninggalkan Aleena yang senyum-senyum sendiri, seolah obat untuk lukanya tersebut bukan obat merah melainkan kehadiran Saga. Luka itu akan kembali mengering dan sembuh dengan sendirinya, apalagi jika ada seseorang yang membantunya untuk menghilangkan rasa sakit itu. *** Aleena memakirkan mobilnya di parkiran restoran cepat saji, dia sendirian. Aleena keluar dari mobilnya lalu dia hendak masuk ke dalam, namun ketika diambang pintu restoran dia menghentikan langkahnya menatap seseorang cowok yang sedang tertawa dengan seorang cewek hendak keluar. Mata mereka saling bertemu, detik seakan berhenti saat itu juga. Dimana seluruh perlakuannya membuat Aleena sangat menyukainya dan dimana ketika cowok itu menyatakan cintanya dengan hal sangat romantis yang pertama kali Aleena dapatkan. Dari seorang cowok inilah Aleena mengorbankan cinta pertamanya. “Al” ucap cowok bernama Dito Aleena memaksakan senyumannya terlihat sekali dari tatapan wajahnya, namun dia tak berniat untuk membalasnya. “bisa bicara sebentar?” ucap Dito Seorang cewek yang berada di sebelahnya, hanya melirik Dito dengan tatapan “ngapain sih?” lalu Dito berkata “sebentar aja” Aleena hanya mengangguk, mereka berjalan menjauh dari tempat tersebut. Aleena enggan bertatapan dengan Dito, karena jika dia menatap mata Dito, Aleena tidak akan kuat menahan tangisnya. “Al” “hmm” “aku mau minta maaf sama kamu” Aleena berdecak kesal ‘Ck!! Rasanya, maaf kamu udah gak ada gunanya lagi” “aku tau, aku adalah cowok b******k buat kamu” “apa yang kamu bicarakan sejujurnya itu bukan yang kamu rasakan dan sekarang aku tau, dulu.. hanya aku yang merasakan cinta dan kamu? Hanya sekedar penasaran sama aku” “bukan gitu Al” kata Dito seraya memegang tangan Aleena Aleena menepisnya “aku hanya menyayangkan kenapa kamu yang menyakiti hati aku ketika kamu adalah cowok yang aku banggakan ke seluruh teman-teman aku, betapa bahagianya bisa mendapatkan kamu setelah itu kamu berhasil menyakiti aku dengan teganya, dan kamu lah yang bisa membuat aku untuk takut jatuh cinta kembali” “aku gak akan mengulangi kebodohan aku lagi, disaat kamu putusin aku, masih bisanya aku baik sama kamu dan menerima kamu kembali menjadi teman, rasanya aku gak bisa berteman dengan orang yang aku cintai saat itu, dan rasanya terlalu sakit. Tapi kamu sepertinya bahagia sekarang dengan dia” “Al” “jika waktu dapat diputar kembali, aku hanya ingin mencintai kamu dalam diam, dan kita gak perlu ada hubungan, dengan begitu aku gak akan pernah merasakan sakit karena kamu” “aku minta maaf Al” Aleena memalingkan wajahnya “kita sudah selesai, lebih baik kita gak akan pernah saling sapa, anggap aja kita gak pernah saling kenal. Dengan begitu..” Aleena belum menyelesaikan upacanya tiba-tiba ada seorang cowok menggenggam tangannya dari belakang. “Dengan begitu, Aleena bisa menjalani masa depannya dengan baik” ucap nya dengan wajah datar Aleena menoleh dan tersentak kaget “kak Saga” gumamnya pelan Saga pun menarik tangan Aleena meninggalkan Dito yang masih terdiam. Saga membawa Aleena ke mobilnya. Aleena duduk di jok penumpang dan Saga yang berada dibelakang kemudi. *** “ayo turun” kata Saga seraya membukakan pintu mobil Aleena mengikuti Saga melangkah dibelakangnya, sedari tadi Aleena tidak berbicara sepatah katapun dia memilih untuk diam dan menunduk. Saga menghela nafasnya lalu menarik Aleena hingga duduk di tempat duduk suatu taman. “mau cerita?” tanya Saga melirik Aleena Aleena menoleh lalu menangis, tangisan yang sedari tadi dia tahan dia tumpahkan seketika begitu saja di depan Saga. “hikss hiksss dito itu bukan cinta pertama gue, tapi kenapa rasanya sesakit ini. Dito memutuskan hubunga kita tanpa alasan yang bisa terfikir oleh logika, ketika seminggu sebelumnya dia bahkan masih sempat merayakan ulang tahun gue dengan memberikan kenangan yang teramat indah, lalu seminggu kemudian dia mencampakan gue begitu saja, lalu memutuskan cinta gue dengan bilang cinta dia udah berkurang buat gue. Hikss” cerita Aleena sembari menangis Saga hanya terdiam, dia sengaja memberikan waktu untuk Aleena menumpahkan isi hatinya. “kenapa, kenapa disaat rasa cinta gue ke dia makin bertambah, kenapa malah rasa cinta dia ke gue malah makin berkurang hikss” kata Aleena sembari menutupi wajahnya yang sudah kacau Saga membawa Aleena ke dalam pelukannya, dia membiarkan Aleena menangis dipelukannya. Entah apa yang di rasakan Saga saat ini, intinya dia tidak ingin melihat Aleena menangis tersakiti seperti ini. Aleena melepaskan pelukannya lalu menunduk “kak Saga kenapa sih ngeliat gue nangis kaya gini, kak Saga tuh aneh, pas di cari engga pernah ada giliran gak dicari selalu dateng tiba-tiba” gerutu Aleena masih sembari menunduk Saga mengulum senyumnya lalu berlutut dihadapan Aleena. Seketika tangan Saga menghapus air mata Aleena dipipinya membuat Aleena menengadah kaget. Dia menatap wajah Saga yang sangat sulit di artikan. “gue gak mau liat lo nangis lagi” gumam Saga yang membuat Aleena terdiam dan bingung. Aleena masih bingung dengan perasaanya kini, semakin Aleena mengejar Saga, Aleena jadi tahu sifat Saga yang sebenarnya. Dia tidak sedingin yang Aleena pikir. Namun terkadang Saga masih sulit untuk diartikan. Sedetik mendekat lalu dengan sekejap menjauh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD