Ayo Kita Bicara

1146 Words
Kami akan bertemu klien setelah jam makan siang. Untuk itu aku dan Mbak Dayu sengaja makan di luar supaya tidak terlambat. Lokasi pertemuan kami berada di kafe sekitar gedung perkantoran. Kami memesan sebuah ruangan tertutup supaya tidak ada interupsi selama jalannya rapat. Semoga klien setuju dengan ide yang telah kami godok semalaman. “Lo balik jam berapa semalam?” Mbak Dayu menyesap teh hangatnya. Jakarta dan hujan sepanjang hari menjadi kombinasi yang tepat untuk merebahkan diri. Kafe yang tidak terlalu padat pengunjung ini pun terasa semakin dingin. Beberapa kali aku menguap walau sudah menghabiskan dua cangkir kopi sejak pagi tadi. “Sebelas.” Mbak Dayu terkekeh. “Ke toilet, gih. Cuci muka dan pakai make-up lagi. Lo kuyu banget.” “Perut gue kembung, Mbak.” “Harusnya lo minum pereda haid, bukannya kopi. Menyiksa diri namanya. Semoga mereka nggak rewel hari ini.” Aku beranjak dari kursi. “Kalau sampai rewel, benaran gue cakar.” Aku mendengus. Ini sudah menjadi revisi yang keempat sejak pertemuan pertama antara pihak AE dan klien. Itu kenapa kali ini aku meminta ikut serta. Jadi, seandainya mereka ada sesuatu yang kurang cocok, bisa langsung aku tangani. Kalau perlu aku akan memanggil tim creative ke sini. “Jangan ketiduran di toilet.” Mbak Dayu terkekeh. Aku langsung melenggang sebelum klien tiba. Masih ada waktu setidaknya setengah jam lagi. Aku bisa menggunakan waktu tersebut untuk diskusi sebenarnya. Sayangnya aku terlalu mengantuk. Aku benar-benar butuh waktu untuk tidur. Semalam aku tidak bisa langsung tidur setelah membersihkan diri. Mario membahas soal penerbangan kami. Dia menjelaskan mengenai keluarganya di sana yang akan menerima kedatangan kami. Orang tua Mario akan tiba satu hari sebelum acara digelar. Jadwal yang sama dari keluargaku yang akan terbang langsung dari London. Hal semacam itu tidak menjadi soal bagiku asal dibahas pada saat yang tepat. Aku kelelahan, sedang haid, butuh tidur, lalu dengan santainya dia menjabarkan tempat baru yang akan kami kunjungi. Bertunangan sejauh itu saja sudah pernah mendapatkan protes dariku. Karena menghargai Mami yang telah melakukan persiapan bersama ibunya Mario, akhirnya aku setuju. Aku hampir meledak dan berakhir dengan perdebatan hingga menjelang pagi. Lebih tepatnya aku yang mengomel, apa saja yang terlintas di benakku aku lontarkan. Yang mengganjal di hatiku aku semburkan. Semua kejengkelan hari ini harus dia terima. Sekarang aku tidak bisa menahan kantuk walau sejenak. Ini sangat merepotkan. Kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga dia membahas soal itu semalam. Dengan begitu aku punya persiapan. Mempersiapkan diri terutama. Aku takkan kaget dan bingung dengan budaya mereka. Mario hanya salah momen saja. Toilet kafe sama lengangnya seperti area depan. Aku mengganti pembalut terlebih dahulu sebelum mencuci muka dan membenarkan riasan. Tidak serta merta kantukku menghilang, setidaknya wajah kuyu yang aku tampilkan sejak tadi berangsur lebih baik. Aku terlihat lebih segar sekarang. Begitu aku kembali ke meja, Mbak Dayu sudah tidak ada. Berarti mereka sudah masuk ke ruang tertutup yang menyediakan layar proyektor untuk presentasi yang akan kami lakukan. Sebenarnya Mbak Dayu yang akan membawakan presentasi tersebut, bagianku hanyalah menjelaskan yang tidak dimengerti mereka. Aku segera menuju ruangan tersebut. Mereka belum masuk. Ada tiga orang selain Mbak Dayu yang sedang berjalan ke sana. Mereka berbincang cukup akrab. Mungkin karena ini bukan proyek pertama kami, atau begitulah seorang AE berlaku saat di depan klien? “Ah, ini Flora. Dia dari departemen creative.” Mbak Dayu langsung mengenalkan begitu aku mendekat. “Selamat siang.” Aku mengangguk sekilas dan mengulas senyum. Semoga senyumanku sampai ke mata. “Masih muda, ya.” Bapak-bapak paruh baya yang berdiri paling dekat dengan Mbak Dayu segera memberi komentar. “Kantor periklanan biasanya dipenuhi anak muda memang.” Rekannya yang lebih muda segera menanggapi. “Sudah nikah?” Seorang perempuan yang aku rasa seusia Mbak Dayu meneliti penampilanku. “Akan menikah, sebentar lagi.” Mbak Dayu mengerling. “Yah, sayang sekali.” Si bapak tertawa. Kenapa? Mereka terkekeh. “Pak Darwin sedang nyari calon mantu, Flo.” Mbak Dayu masih terkekeh. Kentara sekali kalau mereka memang beneran akrab. “Anaknya lebih menyukai mayat daripada cewek hidup.” Perempuan yang sejak tadi menatapku itu tersenyum. “Anak Pak Darwin kerja di bagian forensik.” Mbak Dayu berkata sambil menutup bibirnya, padahal semua orang bisa mendengarnya. Pak Darwin terkekeh. “Ayo masuk.” Kami segera duduk di bangku masing-masing. Mbak Dayu memilih berdiri dan berjalan mondar-mandir saat menjelaskan konsep yang kami tawarkan. Tidak ada yang menyela sampai pembahasan selesai. Ada jeda sekian detik bagi kami untuk melanjutkan sesi selanjutnya, diskusi. Aku harus siap jika mereka bertiga tidak berkenan dengan hasil kerja kami semalaman. Untung saja sebagian besar sudah ditangani Mbak Miska. Aku yakin dia juga tidak tidur saat mengerjakan ini. Itu kenapa dia langsung sakit. “Harus naik ke puncak gunung?” Pak Darwin mengajukan pertanyaan. Dari nada bicaranya dia tidak keberatan, hanya penasaran. “Akses menuju ke sana bisa ditempuh dengan naik kuda, Pak.” Mbak Dayu mematikan layar proyektor. Dia sudah duduk di sampingku. “Tidak masalah untuk kami, kalian yang akan terjun ke lapangan soalnya. Jadi, artis yang kami minta apakah bersedia?” “Tidak.” Kini aku yang menjawab. “Dia bukan brand ambasador produk Bapak, kan?” Pal Darwin menggeleng. “Dia sedang naik daun.” “Dia terlalu muda untuk mengiklankan produk Bapak. Bisa-bisa iklan kita dilarang tayang setelah diproduksi.” Kini Mbak Dayu yang memberi sanggahan. “Konsep iklan rokok akan lebih mengena jika dilakukan oleh orang awam. Alias mereka yang tidak sering rawa-riwi di depan layar kaca. Artis terkenal kehidupan pribadinya sangat disorot. Bisa jadi dia bukan perokok juga.” Aku harap mereka tidak keberatan mengganti artisnya. “Kalian ada usulan?” Perempuan yang aku tidak tahu siapa namanya itu memandang intens padaku. “Kami menghubungi Six Nova Agency. Mereka punya banyak model dengan bodi yang cocok untuk membawa carier dan berjalan menyusuri pegunungan. Bukan hanya jalan, dia juga akan mengendarai jeep. Tema kita petualangan.” Pak Darwin manggut-manggut. “Gimana, Wita?” “Kami bisa lihat look model itu?” Sebenarnya kami belum menentukan siapa yang akan kami kontrak. Ada beberapa kandidat yang disodorkan pihak agensi. Mbak Dayu menekan tombol putar. Ada foto-foto model yang sedang berpose. Kesemuanya laki-laki. Aku memandang tiga orang yang sangat serius memandang layar proyektor. “Kalian butuh berapa model?” Bapak yang lebih muda bertanya. “Satu saja cukup. Sisanya bisa memakai cameo. Banyak pendaki di sana.” Mbak Dayu mengulas senyum. “Oke, bisa kalian kerjakan.” “Bapak tidak keberatan dengan konsepnya?” Aku bertanya was-was. “Aku suka konsep yang ini.” Bu Wita yang memberikan jawaban. Sepertinya semua setuju. “Saya akan mengulangi jalannya ....” Mbak Dayu bangkit kembali. Dia mengulang penjelasan secara singkat. Aku sudah sangat mengantuk untuk bisa mendengarkan apa-apa yang dia katakan. Aku berharap pertemuan ini segera berakhir. Aku rindu bantal dan selimut.  “Flora pernah tinggal di Carita Indah, kan?” Bu Wanti menatapku tajam. Aku mengangguk pelan. Dia tersenyum. “Kita perlu bicara setelah ini.” *** 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD