Manda dan Cantika langsung menyambutku yang baru sampai ke ruang creative. Keduanya duduk di meja copywriter. Embusan napas beratku seketika membuat keduanya lemas.
“Makan dulu, yuk. Kita bahas habis makan.” Aku menyimpan berkas yang aku bawa dari ruangan Jovan tadi.
“Bang Stefan nggak makan?”
Pertanyaan Manda membuat Bang Stafan mendongak. Dia seperti orang bingung menatap kami bertiga secara bergantian.
“Makan, Bang. Biar cepet kelar itu. Otak juga perlu diberi nutrisi.” Aku terkekeh dan membuatnya mendengkus.
Kami bertiga segera keluar dari lantai 17.
Asterion tidak memberlakukan jam istirahat secara pasti. Terutama bagi lantai kami. Kami bisa makan kapan saja, di mana saja, begitu pun dengan bekerja. Anak creative terkadang duduk lama di kafe sambil membahas pekerjaan. Anak AE sering berkeliaran di luar gedung untuk melakukan promosi atau negosiasi dengan klien. Untuk baju kerja, kami lebih santai dari pegawai kantor kebanyakan.
“Banyak yang harus diubah, ya, Flo?” Manda yang sejak pagi terlihat lebih cantik dari biasanya mulai mendengkus. Dia harus mengerjakan semuanya dari awal lagi.
“Kita bahas habis makan. Perlu yang manis-manis, nggak, sih?”
Tawaran yang manis-manis, yang artinya aku yang akan bayar tidak serta merta membuat keduanya semringah. Mereka sadar betul tenggat waktu yang aku butuhkan untuk proyek ini. Tiga hari harus selesai. Tidak bisa ditawar lagi. Sabtu aku tidak bisa masuk kerja, dan semua anak creative tahu itu. Kecuali Mbak Siska. Dia sengaja melupakannya atau gimana, sih?
Aku tidak perlu menunggu jawaban. Sebelum suasana kantin semakin ramai, aku segera mendekati konter minuman dan dessert. Beberapa saat lagi anak-anak departemen lain, pun dari perusahaan lain di gedung ini akan bergabung, walau sebagian memilih makan di luar. Area perkantoran ini dilengkapi dengan fasilitas makan dan belanja yang mumpuni. Aku rasa sewa gedungnya sangat mahal. Belum lagi letaknya yang strategis, dekat dengan stasiun komuter line, halte bus Trans Jakarta, serta jalan protokol yang cukup lebar. Selain itu, tidak jauh dari sini ada pintu masuk dan keluar tol dalam kota.
“Tiramisu, red velved sama ... chees.” Aku menunjuk tiga kue di dalam etalase. “Es creamnya matcha, jumbo.”
Pelayan di belakang konter segera membuat pesananku. Aku berpindah ke meja kasir untuk membayarnya.
Sebagai makan siang, kami memesan spageti carbonara beserta tiga gelas jus jambu merah. Datang ke kantin sebelum jam istirahat memang membuat kita bisa mendapatkan apa saja yang kita mau.
Seorang pelayan mengikuti langkahku mendekati meja. Kami memilih meja yang dekat dengan taman. Meskipun tidak sehijau taman kota, itu lebih baik daripada harus menikmati ruas jalan macet di sisi lain.
“Terima kasih, Mbak.” Manda tersenyum saat pelayan di belakangku tadi menyimpan semua kudapan ke meja. Ternyata pesanan makan kami pun sudah diantar.
“Gue mencium bau masalah dalam proyek kita.” Cantika memandang semua makanan di meja.
“Nggak seburuk itu, tapi memang lumayan bikin otak keriting.”
Cantika mengembuskan napas. “Oke, kita makan gula dulu, biar nggak kering otak.”
Aku terkekeh.
Walau awalnya aku bilang, makan dulu baru bahas pekerjaan nanti, tetap saja, aku sampaikan apa yang menjadi permintaan klien. Respon mereka tidak terlalu horor ternyata. Padahal aku tahu, mereka sudah mencicil desain serta membuat konsep sesuai apa yang kami rundingkan di awal.
“Andai kita bisa ikut syuting ke Bromo.” Manda mulai menikmati cheescake-nya. Selama perkenalan kami dan seringnya digabungkan dalam satu tim, yang aku tahu dari seorang Amanda, dia penggemar keju sampai level tergila-gila. Baginya, keju merupakan moodbooster yang paling manjur. Padahal gadis kebanyakan lebih suka cokelat.
“Itu juga belum tentu disetujui oleh klien.” Cantika mendengkus. “Besok kalian masih harus meeting, kan? Kita bikin dua konsep atau gimana?”
“Satu aja. Yang ini sudah di-ACC sama Jov, eh Pak Jovan.” Aku segera meralat.
Manda langsung memandangku. Alis matanya naik satu. Cantika hanya tersenyum. Sebagai seseorang yang sudah menikah, dia tidak masuk dalam kategori orang-orang yang mengubah penampilan karena pergantian pimpinan kami.
“Kalian saling kenal?” tembak Manda langsung.
“Kan, kami sudah kenalan tadi,” elakku cepat.
“Pak Jovan pernah tinggal lama di Indonesia.” Cantika berkata pelan.
Manda berkedip. Sepertinya dia baru mendengar fakta ini. Seharusnya dia sadar, untuk bule yang selama ini tinggal di Hawaii, apakah mungkin bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan fasih?
“Indonesia itu luas, lho, Can.”
“Jakarta, Bumi Sentosa.” Cantika mengulas senyum.
Skak mat. Aku tidak bisa mengelak lagi sekarang. Walau aku pernah bilang telah kuliah di Inggris dan baru kembali ke Indonesia beberapa tahun lalu, sepertinya aku pernah membuat pernyataan, aku tamatan SMA Bumi Sentosa, kawasan terpadu di pinggiran Jakarta Selatan.
“Kalian saling kenal?” Mata Amanda memicing.
Aku menggaruk kepala. Berbohong ada faedahnya, nggak, sih? Aku mengangguk. Cantika terkekeh.
“Gue merasa sia-sia banget, nggak, sih, dandan berlebihan gini?” Manda mendengkus.
“Memangnya lo mau kelihatan cantik di depan Jovan? Lo bilang dia sudah ada pawangnya, cantik lagi.” Aku mengingat perkataannya pagi tadi.
“Kalau saingan gue cewek yang nggak gue kenal, bodo amat, sih, ya. Kalau lo, ya, gue harus tahu diri.”
“Lo mikir apaan emang?”
Cantika terkekeh lagi. “Flora hampir menikahi seorang CEO, Manda. Kans lo masih besar. Lagian kelihatan banget di antara mereka ada apa-apa, ya?”
Manda tampak berpikir. “Yang gue lihat, mereka berdua berlagak seperti nggak saling kenal.”
Aku meraih tiramisu dan mulai memakannya. “Gue harap nggak ada yang tahu lagi selain kalian. Nggak enak kalau sampai beredar gosip nantinya. Apalagi kalau anak creative memenangkan perdebatan dari AE dan Jov setuju. Ribet, kan, ya.”
Cantika dan Manda mengangguk.
“Jadi, kalian memang saling kenal?” Manda belum puas dengan jawabanku rupanya.
“Dia kakak kelas gue, Manda. Temen Mario.”
Manda manggut-manggut.
“Lo beneran paham situasi gue, kan?”
“Iya, lo pernah bilang kenapa nggak kerja di perusahaan laki lo, karena lo nggak mau hal-hal semacam itu terjadi. Di belakang lo akan banyak yang bilang, lo memanfaatkan koneksi, bukan kemampuan.”
Aku tersenyum. untung saja Manda masih mengingatnya. Bicara soal Jovan tidak akan semudah itu. Semua akan menjadi rumit jika mereka tahu apa yang terjadi pada kami sepuluh tahun lalu.
*
Pembahasan Bromo dan warna-warna yang akan kami gunakan dalam iklan kali ini membuat kami bertiga bertahan di kantor sampai jam sebelas malam. Mbak Siska juga menemani kami. Dia memberi banyak masukan yang bisa digunakan untuk meyakinkan klien, besok.
“Untung meeting-nya siang.” Aku mengembuskan napas lega.
“Sudah semuanya, kan, Flo?” Mbak Siska sudah bersiap-siap untuk pulang.
Aku mengangguk. Tinggal aku dan Manda di ruangan ini. Cantika sudah dijemput suaminya satu jam lalu.
“Gue duluan, ya?”
Aku mengangguk.
Mbak Siska melenggang meninggalkan ruangan kantor. Manda sudah terlihat kusut dan membereskan sisa makan malam kami. Ada beberapa kotak bento dan minuman kaleng yang kami beli secara online.
“Pantas saja gue nggak ketemu jodoh. Jam segini saja masih gentayangan di kantor.” Amanda mendengkus setelah memastikan meja kami telah bersih.
Aku terkekeh. Semua bahan yang dibutuhkan untuk meeting besok telah tersimpan di laci. Sudah waktunya pulang sekarang. Kami mematikan lampu dan segera menuju pintu lift.
Siapa sangka kami berdua akan menemukan Jovan saat lift terbuka. Jov terlihat kaget. Aku rasa aku juga demikian di matanya. Manda langsung melepaskan tanganku. Dia sibuk merapikan rambut yang awut-awutan. Saat pulang kerja begini rambut kami memang sasaran empuk untuk diacak-acak. Biasanya sebuah pensil menyelip sebagai penahan cepolan. Pun kadang diikat begitu saja sama tali yang kami temukan.
“Kamu pulang sendiri?”
Aku menoleh. Aku tahu benar pertanyaan itu ditujukan padaku. Dia jelas-jelas melihat aku diantar Mario pagi tadi.
“Mario sudah di bawah.” Aku berkata pelan.
“Tadinya aku pikir bisa nganterin kamu pulang.”
Aku bisa melihat Amanda sampai cengo mendengar perkataan Jovan barusan. Memang nggak tahu tempat ini orang.
***