Gunung Lebih Baik

1060 Words
Ketukan di pintu membuat Jovan menjauh. Siapa pun dia yang berada di balik pintu telah menyelamatkanku. Sejak tadi aku menahan napas dengan detak jantung bertalu lebih kencang. Untuk beberapa saat aku mengira akan pingsan karenanya. Belum lagi area intimku yang mengeluarkan lahar panas begitu deras. Ternyata efek Jovan tidak menghilang seutuhnya, meskipun aku sudah terbiasa tanpa kehadirannya sepuluh tahun belakangan. Jovan kembali ke sofanya. Aku segera duduk dengan benar, meraup oksigen sebanyak mungkin serta memasang ekspresi tenang. Aku memeriksa lembar-lembar yang telah aku simpan dalam map transparan. Rasanya aneh tetap bertahan di sini padahal urusanku telah usai. “Masuk.” Suara Jovan tidak berubah. Sedikit berat dan penuh dengan penekanan. Pintu terbuka. Mbak Dayu menghampiri kami. Dia terlihat bingung. Sofa yang bisa diduduki lebih dari satu orang digunakan oleh Jov. Tidak mungkin Mbak Dayu langsung duduk di sana. Dia memandang sekeliling dan menarik kursi di dekat meja kerja. Aku menyerahkan lembar kerjaku yang sudah mendapatkan revisi dari Jov. Mbak Dayu memeriksanya dengan saksama. Dia manggut-manggut, sepertinya tidak keberatan. “Lo yang bikin slogannya, ya, Flo?” Aku menggeleng. Yang ada di tangan Mbak Dayu sekarang sebagian besar adalah hasil kerja Mbak Miska. Slogan tersebut salah satunya. “Terlalu panjang, nggak, sih?” Dia mendongak. Lalu, kembali memeriksa lembar berikutnya. Jov memberikan lembar kerjanya padaku. Seharusnya aku mengopinya tiga rangkap. Sekian detik mata kami bertemu, aku segera berpaling dengan membuka lembar yang masih bersih untuk turut memeriksa. Ada dua kalimat di sana. Terlalu panjang memang kalau harus diucapkan. Tapi, bukannya kami akan menggunakan bahasa tulisan? “Konsep kita iklan bisu, kan, Mbak? Pada durasi yang cukup panjang, tidak masalah tulisan ini dikeluarkan, penonton bisa membacanya.” Aku berencana memisahkan dua kalimat tersebut pada momen yang berbeda. Keduanya masih tetap menyatu walau tidak dikeluarkan bersamaan. “Mereka maunya ganti nuansa, jangan terlalu gelap.” Mbak Dayu mendongak lagi. “Siska nggak bilang sama lo?” Aku menghela napas. Untuk beberapa saat aku merasa bodoh karena sudah terjebak berdua dengan Jovan. Apa yang kami lakukan barusan seperti sia-sia. “Apa saja yang mereka minta? Nggak ada yang ngasih gue penjelasan sejak pagi.” Berkas di tanganku berpindah ke meja. Kami memang harus mengerjakannya dari awal lagi. Kembalikan waktuku beberapa hari kemarin! Mbak Dayu terkekeh. “Pas banget ya tamu lo datang saat genting begini. Gini, konsep awal yang pernah kita bahas, klien minta diubah, iklan sebelah sudah begitu. Mereka ingin nuansanya lebih terang.” What? Diubah? Aku memandang Mbak Dayu cukup lama sebelum meraih ponsel untuk melihat iklan seperti apa yang telah diluncurkan pihak kompetitor? Iklan berdurasi lebih dari 60 detik itu memakai tema club malam tanpa suara. Alunan musik yang digunakan cukup mengentak, membuat penonton terpacu adrenalin. Seperti yang sudah kami sepakati bersama walau tidak tertulis, iklan rokok dilarang menampilkan batang rokok, apalagi orang yang sedang merokok. Asap tebal menjadi penutup yang dramatis. Iklan yang cukup menarik. Konsep kami berbeda, tapi hasilnya bisa jadi sama. Awalnya kami sepakat untuk mengambil setting dunia malam. Kami akan menyorot pekerja seni yang bekerja di malam hari. Iklan bisu itu akan menggunakan banyak cameo di luar artis yang sudah kami hubungi. Jika sekarang klien meminta untuk mengubah konsep, kami harus mengerjakannya dari awal lagi. Aku tidak yakin semuanya akan selesai sebelum aku berangkat ke Yunani. “Jadi, konsep yang lebih terang itu maksudnya, nuansanya, setting-nya, serta gradasi warna tulisannya? Mereka masih mau iklan bisu atau menggunakan suara?” Percuma marah, ngambek, atau dongkol dengan revisi dadakan begini. Lebih baik kami mencari solusi. Apa susahnya pihak AE mempertahankan apa yang sudah kami sepakati di awal? Tinggal eksekusinya nanti yang dibedakan. Memangnya Asterion tidak punya pekerjaan lain apa? Iklan bisu disini maksudnya hanya akan ada alunan musik mengiringi kegiatan si aktor. Dia tidak perlu mengatakan apa-apa. Slogan kami akan ditempatkan pada mural, pun papan penunjuk arah. Itu ide awalnya. Kalau konsepnya dirombak begini, dan harus kelar sebelum aku cuti, kayaknya aku akan menginap di kantor beberapa hari. Semua ide yang sudah tertuang jelas berakhir di tempat sampah. “Yang jelas mengubah setting akan membuat semuanya berubah.” Mbak Dayu berkata sambil tersenyum. Padahal aku sudah berasap sejak tadi. Derita orang creative kalau ketemu klien tidak kompeten semacam ini. Aku mengembuskan napas dan melesakkan tubuh ke sandaran sofa. Mbak Dayu terkekeh. “Lo macam nggak pernah ngadepin klien model begini saja.” Dia mengibaskan tangan. “Gue kayaknya buka tenda di kantor malam nanti. Ada permintaan lain, nggak, Mbak? Revisi Mbak Miska ini gimana?” Aku menunjuk berkas yang teronggok di meja. Kepalaku rasanya mau meledak. “Daripada gunung, pantai saja gimana?” Dalam revisi Mbak Miska, salah satu lokasi yang dipilih adalah gunung. Dia mengonsepkan Bromo di pagi hari. Seseorang duduk di tepian kawah. Cukup merepotkan memang syuting di tempat seperti ini, tapi aku yakin hasilnya akan memukau. Gunung identik dengan rokok dan kopi soalnya. Terutama bagi para pendaki. “Ini permintaan klien? Mereka bayar berapa, sih.” Mbak Dayu tertawa. Dia mengangkat kedua tangannya ke udara. Seperti seorang tersangka yang sedang ditodong pistol. “Gue nyerah kalau kerja sama lo pada tanggal-tanggal rawan begini. Mood lo jelek parah. Besok kita meeting sama klien, Flo. Selesaikan konsep barunya hari ini juga.” Mbak Dayu memberikan lembar kerjaku. Aku mengembuskan napas berat. Membuka kembali lembar-lembar yang penuh dengan catatan. “Mereka nggak berubah pikiran lagi, kan, Mbak?” Mbak Dayu mengedikkan bahu. “Buat konsep ganda. Kasih mereka pilihan.” “Mbak, lo mau gue nggak pulang, ya?” Aku langsung mendongak. Dia tergelak. “Laki lo ditinggal semalam nggak ngambek, kan?” Dia berbisik kemudian. Bisikan yang tentu saja didengar semua orang di sini. Aku melirik pada Jov yang sejak tadi memperhatikan perdebatan kami. Sepertinya dia sudah terbiasa menghadapi situasi semacam ini sebelumnya. Anak AE dan Creative yang selalu berdebat. Aku menutup semua berkas. “Ada lagi, Mbak?” Mbak Dayu menggeleng. “Apakah ada masukan dari Pak Jovan?” Mbak Dayu memandang Jov yang sejak tadi memilih diam. “Gunung saja. Lebih masuk. Hawa dingin membuat orang ingin merokok.” True. Aku merasa dibela sekarang. Setidaknya konsep Mbak Miska bisa digunakan dan aku tidak perlu mengulang dari awal. Mbak Dayu manggut-manggut. Lalu, dia menoleh padaku. “Besok kita meeting, Flo.” “Iya, Mbak, iya. Gue sudah boleh ngerjain, kan?” Mbak Dayu mengangguk. Mungkin dia masih ada hal yang ingin dibahas dengan Jovan. Saat aku pamit keluar, keduanya masih bertahan di tempat itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD