Apa kamu mencintainya?

1278 Words
Aku percaya, kalau sampai Mbak Miska sakit, dia telah mengerahkan segenap kemampuan untuk mengerjakan ini sampai kurang tidur. Memangnya Jovan marah seperti apa, sih, hingga dia harus seperti itu? “Semuanya sudah oke. Buat lebih efektif pada beberapa kalimat. Biar tidak terlalu lebar.” Jov memeriksa lembar-lembar yang telah aku print tadi. Aku sengaja membuat dua salinan biar bisa dipegang masing-masing. Aku tidak mau dituduh sengaja ingin dekat-dekat dengannya kalau sampai memeriksa bersama. Belum lagi kalau sampai dilihat pegawai lain, pasti akan timbul beragam prasangka. “Oke. Sudah itu saja?” Setengah jam lebih setelah Jov membuka halaman pertama hingga akhir, baru kali ini aku bersuara. Sejak tadi yang kulakukan hanya mengangguk, mencatat apa yang dia katakan, atau membenarkan kata-kata yang dianggapnya salah. “Kamu ingin segera pergi dari sini?” Aku mendongak. Jov bersedekap dengan bersandar pada punggung sofa. Kami memang tidak berhadapan. Aku sengaja memilih sofa satu dudukan karena sofa yang lain mampu menampung lebih dari dua orang. “Ada lagi yang Bapak butuhkan?” Jov memindai ruang kerjanya yang lumayan luas. Salah satu dindingnya dipenuhi kaca, sehingga bisa memandang keluar ruangan tanpa harus ke mana-mana. Langit yang terang, tumben tidak mendung, menjadi arah pandangnya untuk sekian detik. Dia mengembuskan napas berat. “Gue tahu, gue salah.” Dadaku yang sejak tadi berdebar-debar hingga aku kesulitan mengeluarkan kata-kata, kini bertabuh semakin riuh. Aku belum siap untuk melakukan ini. Bertemu dengannya sebagai Flora dan Jovan. Belum. Benang ruwet yang sesuai sebagai nama akan hubungan kami, sama sekali belum kutemukan ujungnya. Aku harus mengurainya satu per satu, atau membuangnya sekaligus. Sudah tidak ada yang bisa diselamatkan. “Kalau tidak ada yang perlu dibahas, saya akan membawa ini pada Mbak Dayu.” Aku segera membereskan semua yang berserakan di meja. Jovan meraih lenganku. Tubuhnya yang terbalut kemeja pas body merangsek lebih dekat. Dari sini aku bisa menghidu aroma after shave serta wangi cedar wood yang menunjukkan betapa maskulin cowok ini. Mata birunya selalu berhasil membuatku terpaku, aku rasa sudah tenggelam di sana sekarang. Walaupun berulang kali aku menyugesti diri supaya jauh-jauh dari cowok ini, nyatanya tubuhku tidak berkutik. “Gue benaran tidak tahu harus memulainya dari mana?” Dia berkata pelan, dengan intonasi yang dijeda, mungkin supaya masuk ke kendang telingaku yang tetiba beku. Aku langsung mundur saat sadar betapa bahaya posisi kami. “Kita sudah selesai. Tidak ada tempat untuk memulai.” “Kita bahkan belum memulainya, Flo.” Oh, Tuhan, apa yang dia inginkan? “Jadi jangan.” Lagipula dia sudah memiliki kekasih. Untuk apa membahas sesuatu yang sudah berlalu. Kita dua orang dewasa yang akhirnya menempuh jalan masing-masing setelah tidak ada komunikasi sama sekali. Ini hanya euforia semata. Pada akhirnya dia akan sadar, sama sekali tidak membutuhkanku karena nyatanya selama ini dia bisa dan sanggup untuk melakukan itu. Pertanyaannya, kenapa dia harus kembali? Jov melepaskan tanganku. “Kamu membenciku?” Apa? Pertanyaan apa itu? Setelah sepuluh tahun, apakah dia sama sekali tidak peduli dengan kondisiku? Dia lebih khawatir aku membencinya? Seharusnya aku sadar, telah menunggu orang yang salah. Dia tetap manusia yang bisa bermain hati dengan sembarang orang. Aku yang bodoh telah mengira dia telah berubah. “Untuk apa? Membenci seseorang hanya membuang waktuku dengan memikirkan orang tersebut terus-menerus. Kamu tidak pantas menyita waktuku sebanyak itu.” Mata Jovan menyipit. “Kamu marah?” Oh, ayolah, siapa yang tidak marah? Apa kita akan membahas ini sekarang? Untuk apa? “Mario tidak pernah mengatakan apa-apa.” Jov bergumam, tapi aku mendengarnya dengan jelas. Hanya ada kami berdua di ruangan ini. Tidak ada suara lain sebagai interupsi kecuali deru napas kami sendiri. “Lagipula kenapa dia harus mengatakan apa-apa?” Aku sadar, nada suaraku sudah naik. Ini bukan pertemuan seorang copywriter dengan seorang direktur yang sedang memeriksa pekerjaan, melainkan pertemuan dua teman lama yang dulu sering berdebat. Apakah kami pantas disebut teman? Senyum Jovan terbit. Sudut bibirnya tertarik ke belakang, diikuti binar matanya yang berubah dari sendu menjadi ... bahaya. Ya, aku mengenal tatapan ini. Tatapan jahil seorang Jovan jika di kepalanya terlintas sesuatu yang nakal. Apa yang akan dia lakukan? Terlambat. Jovan langsung maju dan memakai kedua lengannya untuk memenjaranku yang semakin mundur. Aku jelas tidak bisa mundur lagi. Sandaran sofa membuatku tidak bisa bergerak ke mana-mana. “Kamu tahu, satu hal yang paling kurindukan dari seorang Cleonara Flora? Dia judes dan merasa tidak butuh.” Jarak kami sekarang hanya tinggal sepuluh senti. “Lalu, apa aku harus berkata aku merindukan sesuatu darimu?” Kedua lenganku tersimpan di d**a. Bisa saja aku mendorongnya sekarang. Namun, tubuhku berkhianat, dia sama sekali tidak bergerak. “Kalian akan menikah?” Binar jahil itu mendadak sendu. Aku tidak memahami bagaimana dia bisa berubah secepat itu? Apa dia belajar akting selama ini? Hal itu tentu saja dibutuhkan sebagai skill untuk menjerat wanita. Setahuku hal itu yang paling dia kuasai selama ini. “Itu berarti kamu tahu benar, sudah tidak ada tempat lagi untuk kita. Aha, seharusnya tidak pernah ada kita. Kita belum pernah memulainya.” Aku harap kalimatku bisa membuatnya segera sadar. Dia sedang menggoda, hei, kenapa menggoda? Ayolah Flo, jangan terlalu ge-er, Jov hanya sedang mengujimu. Apakah dia masih membekas di kalbumu? Apakah masih ada tempat untuknya? Ini ujian yang sama sekali tidak penting. Aku rasa dia hanya penasaran, apa dia masih berarti untukku. “Aku sudah memikirkannya sejak ... kita bertemu pertama kali. Senin pagi.” Jov manggut-manggut. Dia sama sekali tidak berniat untuk mundur. Seolah percakapan semacam ini wajar. “Sampai mau meledak kepalaku memikirkannya, aku tidak bisa mencerna apa yang terjadi. Saat aku pergi dulu, kamu sedang jalan dengan Galang. Lalu, saat aku kembali kamu akan menikah dengan Mario. Padahal jelas, saat itu kamu berkata mencintaiku.” Bolehkah aku tertawa sekarang? Hallo, itu sepuluh tahun lalu. Dia berkata seolah kami baru berpisah beberapa hari lalu. “Lalu ... apa selama ini kamu koma, sehingga tidak bisa membedakan waktu sehari sama sepuluh tahun?” Jovan mundur sedikit, hanya sedikit. Setidaknya membuatku lebih lapang untuk bernapas. “Ah, ya, waktu. Sepuluh tahun.” Dia manggut-manggut lagi. Lalu, senyumnya terbit. Seulas senyum dengan sinyal bahaya yang lebih kental. “Kamu mencintai Mario?” Aku menahan napas. Tidak ada yang pernah menanyakan itu padaku, bahkan Mario sendiri. Kala sebagai seseorang yang paling dekat denganku pun tak pernah sekalipun membahasnya. Seolah hubunganku dengan Mario adalah hal yang wajar dan sepantasnya untuk dilakukan, karena kami sama-sama lajang dan tidak punya pasangan. “Hawaii membuat sopan santunmu ditelan ombak. Apa pantas menanyakan hal pribadi semacam itu?” Suaraku terdengar tajam di telingaku sendiri. “Jawabanmu menentukan langkah apa yang harus kuambil.” Mata Jov berkedip satu. Dia tersenyum. “Kamu tahu benar siapa Mario.” “Ya, aku sangat mengenalnya. Dia akan menjadi sangat protektif terhadap pasangannya. Dia akan teramat bucin. Kurasa itu yang membuat kepalaku tidak bisa mencerna apa yang terjadi. Apa saja yang telah dia perbuat untuk membuatmu bertahan di sisinya. Kembali ke pertanyaan, apa kamu mencintainya? Atau hanya merasa kasihan?” Alis Jovan naik satu. Suaranya terdengar serius. Dia tidak main-main. Sebenarnya apa urusannya untuk tahu akan hal ini? “Kamu bertindak sebagai temannya? Kamu ingin menyelamatkannya dari jeratanku, begitu?” Aku sudah benar-benar muak. Jovan sudah sangat keterlaluan. “Itu yang kamu pikirkan?” Mata Jovan menyipit. “Sebenarnya apa yang kamu mau?” Aku sudah tidak tahan lagi. Semakin lama di sini, tensiku sudah dapat dipastikan akan naik. Kombinasi hormon yang sedang amburadul dan peyangkalan yang kulakukan, serta berusaha terlihat baik-baik saja, ternyata tidak bisa kutakhlukkan dengan mulus. Aku hilang kendali. Jovan tahu benar bagaimana cara memancingku. Wajah Jovan yang terlihat lebih matang semakin maju. Menyisakan aku yang menahan napas. Dia tidak berhenti sampai bibirnya berhenti tepat di sebelah telingaku. “Ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.” ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD