Meeting dimulai dengan pembahasan order baru dari perusahaan kosmetik. Aku hanya mendengarkan. Merk dagang ini sudah pernah bekerja sama dengan kami tahun lalu. Sepertinya mereka memutuskan untuk memakai kami kembali setelah beberapa produk yang baru diluncurkan digarap oleh perusahaan iklan lain.
Mereka sudah sepakat dengan divisi AE. Pak Sapta mengaku kesulitan untuk mencapai kata sepakat tersebut. Permintaan mereka terlalu banyak, sedangkan tenggat waktu yang diminta cukup pendek. Kini mata Pak Sapta tertuju pada kami di seberang meja.
“Habis ini saya butuh tim dari creative untuk meeting. Dayu yang akan menjelaskan semua detailnya, hasil dari negoisasi kami dengan klien yang lumayan alot.” Suara Pak Sapta terdengar frustrasi. Oke, siapa pun yang tergabung dalam tim akan menemui banyak masalah sekarang.
Mbak Siska memandang kami satu per satu. Tim creative untuk satu iklan biasanya dikerjakan oleh seorang copywriter, seorang art director, seorang dari visualisasi. Pada saat meeting, Mbak Siska akan menemani. Dia sudah bekerja di bidang ini sejak tamat kuliah, sudah sepuluh tahun, dan cukup cakap untuk memberikan masukan serta sanggahan jika permintaan AE tidak masuk akal. Embusan napas Mbak Siska membuat suasana mendadak hening. Aku rasa semua orang sedang menahan napas sekarang.
“Fan, Horison sudah selesai?” Mata Mbak Siska lurus pada Bang Stefan. Sebulan ini dia mengerjakan iklan Hotel Horison. Divisi marketing mereka sangat rewel. Beberapa kali Bang Stefan dibuat tarik urat dengan Panca, AE Junior yang menangani proyek ini.
“Sudah, Mbak. Saya harap Panca tidak bikin ulah lagi.” Dengan sudut matanya dia melirik Mbak Dayu. Aku bisa melihat bibir Mbak Dayu ketarik walau sedikit. Dia tersenyum. Perseteruan anak creative dengan AE memang tidak dapat dihindari walau kami bekerja di lantai yang sama.
“Belum bisa dikatakan selesai jika pihak Horison belum puas dengan kerja kita.” Pak Sapta langsung memberikan sanggahan.
Tatapan Mbak Siska beralih padaku. Aku langsung mengetuk berkas yang baru saja diberi Mbak Dayu. Dia menghela napas kembali. “Miska sudah mengirim revisiannya semalam. Kamu tinggal periksa lagi, lalu bicarakan dengan Dayu.” Tatapan Mbak Siska beralih pada Mbak Dayu.
Lalu, apa gunanya berkas di tanganku ini kalau memang Mbak Miska sudah mengerjakannya?
“Saya minggu depan cuti, Mbak. Semoga Mbak Siska nggak lupa.”
Mbak Siska berkedip. Dia benaran lupa. Lalu, tatapannya beralih pada Bang Stefan. Tak lama kemudian dia menatapku lagi. “Minggu depan kamu ke Yunani, ya?” Dia bergumam.
“Sabtu kami berangkat.” Aku hanya mengantisipasi supaya tidak ada perintah lembur weekend ini.
Mbak Dayu terkekeh. “Kita meeting habis ini, Flo. Usahakan hari ini selesai. Besok kita berdua ketemu client. Jumat harus clear. Biar perjalananmu tenang. But away, selamat untuk pertunangannya.” Dia mulai mengetikkan sesuatu pada layar ponselnya.
Aku meringis. “Terima kasih, Mbak,” jawabku pelan. Membahas pertunanganku di tengah rapat dengan direktur itu bukan tindakan terpuji.
“Jadi, tim untuk Craiva bagaimana?” Jovan yang sejak tadi diam mulai angkat bicara. Perhatian kami langsung tertuju padanya. Dia memandang Pak Sapta dan Mbak Siska secara bergantian.
Craiva adalah perusahaan yang menaungi brand kosmetik lokal. Produk ini melejit karena penggunanya mengunggah ke akun media sosial yang sedang digandrungi sekarang. Terutama oleh anak-anak muda yang mulai paham dengan perawatan.
“Saya akan handle sampai Miska masuk, Pak. Cantika, Gina, kita meeting dengan tim AE setelah ini.” Perhatian Mbak Siska beralih pada anak buahnya yang lain.
Bukannya tadi Mbak Dayu, ya? Bagaimana denganku? Aku memandang Mbak Dayu yang sibuk mengetikkan sesuatu. Dia mendongak dan tersenyum.
“Habis Craiva, gue akan langsung ketemu lo, Flo.” Mbak Dayu berbisik, dia menggunakan telapak tangan kanannya untuk menutupi mulut supaya tidak terlihat Pak Sapta yang ada di sampingnya.
“Mbak. Saya minta revisian yang dikerjakan Mbak Miska. Sudah Mbak Siska periksa, kan?” Sepertinya aku akan menginap di kantor untuk mengerjakan ini.
“Habis Craiva kita meeting bersama. Belum saya periksa. Pagi ini dia baru bilang, sambil izin.” Mbak Siska tampak hampir meledak dengan fakta ini. Aku yakin pagi tadi dia sudah meluapkan kemarahannya.
Tidak bisakah dikirim sekarang biar aku tidak kerja dua kali?
“Kirimkan saja padanya. Aku akan membantunya untuk memeriksa. Waktunya sudah sangat mepet.” Jovan berkata tenang.
Tidak ada yang bersuara. Aku yang baru membuka halaman pertama berkas yang diberikan Mbak Dayu langsung mendongak. Apa tadi? Dia akan membantuku? Aku tahu, sebagai seorang direktur dia menguasai semua pekerjaan di sini. Itu yang kutahu mengenai Pak Chris dulu. Dia bisa menyelesaikan semua masalah yang dialami setiap divisi. Dia sudah teruji untuk memimpin perusahaan periklanan. Kurasa Jovan juga demikian.
“Ba-baik, Pak.” Ini pertama kalinya aku mendengar Mbak Siska gagap.
*
“Dayu, setelah meeting soal Craiva, langsung naik.” Itu yang dikatakan Jovan sebelum meninggalkan ruang rapat.
Tim Craiva berkumpul di ruangan tersebut. Aku masih belum paham definisi dia akan membantuku. Mbak Siska sudah mengirim email pekerjaan Mbak Siska. Yang harus aku lakukan sekarang adalah mencetak pekerjaan Mbak Miska, lalu bergegas ke ruangan Jovan. Aku mendadak linglung sekarang. Apa iya kami harus berdua saja? Bukan hal aneh sebenarnya. Aku sering berdua saja dengan Pak Chris saat proyekku buntu. Setelah aku dibuat menangis oleh anak AE terutama. Pak Chris tidak segan memanggilku ke ruangannya. Dia akan membantuku membuat kalimat-kalimat menggugah yang diharapkan client, sebelum ide tersebut divisualkan dengan bantuan art director.
“Hati-hati dengan hati, Flo.” Manda sengaja mendatangiku yang masih menunggui mesin printer. Dia duduk di kursi Mbak Miska. Bang Stefan langsung terkekeh.
“Lo nggak ada kerjaan apa?” Aku mendengkus.
“Kerjaan gue, kan, tergantung perbaikan kerjaan lo.”
Aku mendengkus lagi. “Lo bakalan lembur malam ini.”
“Siap. Nggak ada yang nungguin gue juga di rumah.” Dia mengedipkan matanya berkali-kali.
Bukan hanya Manda yang tahu kalau selama ini aku tinggal di apartemen Mario. Setelah Mama meninggal, aku memang pindah ke lokasi yang lebih dekat dengan kantor. Lalu, karena sering lupa makan sehingga asam lambungku naik, Mario mengangkutku ke tempat tinggalnya. Membiarkanku tinggal sendirian di salah satu unit apartemen studio tidak membuatnya tenang.
“Cewek Pak Jovan kemarin datang. Cakep.” Manda berbisik lagi.
Bang Stefan menaikkan satu alisnya. Dia sepertinya tertarik, walau perhatiannya masih berkutat pada layar pc.
“Terus?” Aku mulai merapikan lembar-lembar yang keluar dari mesin print.
“Ya, biar lo nggak ....”
Aku menoleh pada Amanda sambil mencureng. “Apa gue perlu nulis di kening gue, bentar lagi kawin, gitu?”
Bang Stefan tergelak.
“Kawinnya sudah sering kali.” Manda terkekeh.
“Serah lo, deh.” Aku menyatukan semua berkas. Tubuhku langsung kaku saat merasakan banjir di bawah. Sialan, selalu seperti ini saat panik. “Gue ganti dulu, deh. Nggak enak kalau nanti izin ke toilet sama bos.”
Manda terkekeh. “Panik, kan, lo.” Dia mengenalku dengan baik.
“Gue belum tahu karakternya gimana. Takutnya dia ngamuk. Gue harus siap-siap.” Aku meraih pembalut dari laci dan memasukkan ke tas.
“Jiayo. Semangat.” Manda mengepalkan kedua tangannya dan diangkat tinggi-tinggi.
Jovan belum tentu orang yang sama. Sikapnya selama ini menunjukkan bahwa dia sosok yang berbeda dari yang aku kenal dulu. Aku harus bersikap profesional.
Langkahku yang telah sampai di lantai delapan belas setelah dari toilet menjadi gamang. Detak jantungku pun tidak keruan. Ayolah, Flo. Ini hanya Jovan. Lagipula ini kantor. Dia takkan melakukan apa-apa padamu. Bukan. Bukan itu yang kutakutkan. Aku takut tidak bisa menahan diriku sendiri. Aku akan berbuat sesuatu yang akan membuatnya marah, atau tersinggung. Aku akan bersikap layaknya kami teman lama yang baru bertemu kembali. Bukankah demikian?
Flo. Stop it. Jovan sudah tidak menginginkanmu lagi. Dia melepaskanmu. Dia melupakanmu. Sudah banyak waktu yang terbuang sia-sia dengan kamu setia menunggunya. Dia tidak peduli. Berhenti sekarang. Jangan berpikir dia orang yang sama.
Aku menelan ludah. Ya, dia bukan siapa-siapa.
Dengan punggung tangan aku mengetuk pintu. Waktu seperti berhenti di sana. Tidak ada jawaban. Atau mungkin aku takut mendengar jawaban dari dalam? Aku takut bertemu dengan orang yang berada di balik pintu sekarang. Haruskah aku berlari pulang?
“Masuk.” Suaranya masih sama seperti dulu. Sedikit berat, mungkin karena bertambahnya usia.
Aku menghela napas sebelum menekan gagang pintu dan mendorongnya perlahan. Demi Tuhan, kenapa harus bertemu dia dalam situasi semacam ini?
Jovan tidak mendongak saat aku masuk. Apa aku harus duduk di depan mejanya sekarang? Atau duduk di salah satu sofa, tempatku biasa berdiskusi dengan Pak Chris? Aku tidak tahu apa yang dia inginkan.
“Saya duduk di mana, Pak?” Suaraku seperti denting lonceng yang teramat jauh. Terasa asing. Namun, aku memang harus bertanya. Dia mengabaikanku untuk waktu ... belum satu menit ternyata.
Jovan mendongak, dengan kedua tangan dia menopang dagu. Dia tidak mengatakan apa-apa selain menatapku. Lama ... sampai aku merasa kesemutan karenanya.
***