Kurasa Aku Dalam Bahaya

1096 Words
Tidak. Dia tidak sedang menatapku. Jangan ge-er, Flora. Banyak orang di sini. Kenapa dia harus menatapmu? Kenapa dia harus peduli padamu? Dia baru tiba. Dia tidak mungkin berdiri di situ sejak tadi. Kenapa juga dia harus memperhatikan halaman gedung saat cuaca mendung seperti ini? Sebagai seorang direktur, seharusnya dia lebih sibuk dari semua orang sekarang. Bukankah demikian? “Sudah baikan?” Bisikan seseorang membuatku hampir melompat. Manda terkekeh. Dia segera menuntunku untuk berkumpul dengan beberapa orang di depan pintu lift. “Sudah.” “Mbak Miska pasti merasa sangat beruntung karena lo sudah kerja sekarang.” Manda tersenyum. Bila kuperhatikan, sepertinya ada yang berbeda dengan Amanda. Dia potong rambut. Selain itu, warna hitam legamnya berubah menjadi cokelat tua. Selain itu lagi, si cokelat tua berkenalan dengan tehnologi bernama catok. Manda dandan? Wow. “Kenapa?” Manda berbisik. Aku menggeleng. Bisa jadi sebentar lagi dia akan menyusulku menuju pelaminan. Kami bergerak masuk ke dalam lift saat pintu terbuka. Isinya langsung penuh. Ini sudah biasa saat pagi hari seperti sekarang. Namun, kehadiran Jovan tepat sebelum pintu tertutup membuat suasana hening. Padahal beberapa saat lalu, orang-orang sempat mengobrol. Bahkan ada yang sedang menelpon. Sekarang senyap. Mereka saling pandang satu sama lain. Apa berita pergantian pimpinan Asterion telah menyebar hingga satu gedung? Manda menjawil lenganku. Aku menoleh padanya yang tersenyum. Mata Manda lurus pada CEO baru kami yang berdiri angkuh, sama sekali tidak terganggu dengan sekeliling. Sial. Manda berpenampilan seperti ini untuk Jovan. Satu per satu orang keluar dari lift saat pintu terbuka pada setiap lantai. Ruangan tidak terlalu luas ini menjadi agak lapang, sehingga aku bisa mundur dan bersandar. Jika melihat Manda seperti ini, aku tidak yakin apa yang akan kulihat di atas nanti. Bisa-bisa semua warna rambut staf Asterion, terutama cewek-cewek, akan berubah sehingga aku tak mengenali mereka. Efek Jovan ternyata semakin dahsyat. Tinggal tunggu saja, akan ada berita perselisihan antara kaum hawa untuk merebut perhatian cowok ini. Memikirkannya saja dadaku sakit. Tarik napas Flora. Kalian sudah selesai. Cerita kalian hanya masa lalu. Selesai, Flora. Tamat. Lupakan! Angka tujuh belas menyala. Aku segera berdiri tegak dan hendak merangsek keluar tanpa menoleh. Meskipun Jovan atasanku sekarang, bukan berarti aku harus menyapanya, kan? Mengangguk saja sudah cukup kurasa. Beruntung ada Manda yang menggandeng lenganku, seolah kami dua anak TK yang akan diculik jika berpisah. “Permisi, Pak.” Suara Manda terdengar merdu. Aku hampir tertawa melihat kelakuannya yang mendadak kalem itu. Jovan menyingkir. Dia mengangguk sekilas. Tanpa senyum. Apa aku harus mengatakan permisi juga? Tidak. Dia sudah membuang tatapannya. Okay, Flora. Jangan merasa kecewa. Jangan sakit hati. Manda melotot padaku saat pintu terbuka. Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa menahan senyum saat mendengar nada suaranya. Dia segera menyeretku keluar. “Lo bisa pura-pura nggak dengar, kenapa?” Dia langsung protes. “Oke. Gue nggak dengar. Lucu saja melihat lo kalem begitu soalnya.” Aku terkikik. “Meeting jam delapan.” Aku dan Manda langsung tegak. Seperti maling yang ketahuan. Sama sekali tidak tahu kalau Jovan berdiri di belakang kami. Dia berjalan lurus ke ruang pertemuan. Satu tangannya memegang ponsel. Tangan yang lain terangkat. Sepertinya dia sedang memeriksa waktu. Dia melewati kami begitu saja. “Mampus.” Manda langsung menyeretku. Wajah paniknya mengirimkan alarm bahaya. Ini pasti ada hubungannya dengan kata ‘meeting’ yang baru saja kami dengar. Ruangan AE sudah hampir penuh personelnya. Seperti biasa, penampilan mereka selalu rapi dan wangi. Kubikel-kubikel yang terpisah dengan sekat setinggi d**a itu membuat semua orang bisa mendengar percakapan satu sama lain. Beberapa orang tampak bergerombol sambil memegang secangkir kopi. Aku seperti tersesat di kantor orang lain. Suasana semacam ini begitu asing. “Sudah sembuh, Flo?” Mbak Dayu, senior AE, menyapaku sambil membawa beberapa map di tangan. Sepertinya yang terjadi padaku setiap bulan sudah menjadi rahasia umum. Semua orang bisa menebak apa yang terjadi. “Sudah, Mbak.” Aku segera melepaskan tangan Manda. Gadis itu turut berhenti. “Kebetulan. Berikan ini pada Miska. Mereka menolak.” Mereka menolak merupakan alarm bahaya kedua. Itu artinya kami harus merevisi, atau membuang pekerjaan yang sudah ada, lalu menggantinya dengan yang baru. Konsultasi dengan Mbak Siska. Mengajukan pada Jovan. Poor Miska. Mood-nya akan benar-benar berantakan sekarang. Manda langsung melambaikan tangan. Berkas yang sudah dibendel dalam satu klip itu berpindah ke tanganku. “Bagian mana yang perlu direvisi, Mbak?” Aku membuka halaman pertama. Bukankah ini project-ku? Ah, double s**t. Mbak Dayu tersenyum. “Kerjaan lo, kan? Lo yang lebih tahu.” Kepalaku mendadak pening. Coretan-coretan dengan pena merah membuatku berkunang-kunang. Sial. “Ini dikerjakan Mbak Miska?” Aku membeo seperti orang t***l. Mbak Dayu mendorongku supaya segera ke belakang. “Materi ini akan dibawa meeting. Buruan kerjakan.” Meeting? Meeting jam delapan maksudnya? Aku bergegas menuju mejaku di belakang. Meja Mbak Miska masih kosong. Stefan terlihat sibuk walau jam kerja belum mulai. “Mbak Siska sudah datang, Bang?” Stefan mendongak. Dia menggeleng. Sepertinya dia tidak tahu. “Ini apanya yang harus direvisi?” Aku menyimpan tas ke laci meja. Berkas yang baru saja kuterima dari Mbak Dayu segera kubuka. “Draft awalnya, kan, belum kelar. Kenapa nggak ngubungin gue, sih?” “Jangan ngomel. Kerjain saja. Miska sudah dibikin nangis sama Pak Jovan.” Stefan menjawab tanpa meninggalkan tatapannya pada layar laptop. Sesekali perhatiannya beralih pada kertas-kertas di meja. “Meeting jam delapan, ya?” Aku memijat kening. Membuka setiap halaman dan rasanya ingin menangis. Kenapa Mbak Siska tidak mengirim file-nya padaku, lalu memintaku mengerjakan di rumah? Ini bunuh diri namanya. “Bukannya jam sepuluh?” Stefan tampak kaget. Dia menoleh padaku. Meja kerja kami memang tidak terpisah kubikel. Kami saling berhadapan untuk memudahkan dalam diskusi. Sesama copywriter dibutuhkan kerja sama untuk menakhlukkan departemen AE. Kalau tidak, kami bisa dihajar habis-habisan oleh Pak Sapta. Meskipun Mbak Siska akan membela kami mati-matian. Manda mendekat padaku. “Kita harus ke meeting sekarang.” Di belakangnya Mbak Gina dan Cipta dari divisi visual bergerak lambat. Pagi yang menyeramkan. Mbak Siska keluar dari kantornya. Dia memandangku sejenak dan menghela napas. Ini pasti berita buruk. “Miska sakit.” Dia langsung berjalan kembali. Sial. Stefan meringis sambil membereskan berkas-berkasnya. Dia pun bergegas mengikuti Mbak Siska bersama personel Art Director. Seharusnya aku izin sehari lagi. Berkas yang belum kuapa-apakan itu aku bawa ke ruang meeting. Tidak ada yang memberitahuku ini tentang apa. Apakah membahas project-ku yang ditolak atau project lain? Langkahku semakin pelan saat melihat siapa saja yang berada di dalam ruangan. Wajah keruh Pak Sapta serta bungkamnya Mbak Dayu cukup menjelaskan. Kamu dalam bahaya besar, Flora. Sekilas aku melirik Jovan. Entah kenapa aku berharap dia akan membantuku seperti dulu. Nihil. Jovan sama sekali tidak melihatku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD