Sudah setengah jam aku berdiri di depan almari. Kalau mau bilang aku tidak punya baju, rasanya keterlaluan. Ini sudah ada enam pintu yang aku buka, dan semua isinya adalah bajuku. Dua pintu pertama berisi gaun malam. Dress tanpa lengan dengan berbagai model, tapi memiliki warna senada, warna-warna dasar yang tidak mencolok. Dua daun pintu kedua berisi baju yang biasa aku gunakan untuk ke kantor. Lalu, dua pintu terakhir berisi baju rumahan beserta onderdil dalam.
Hanya saja, untuk pertama kalinya aku seperti tersesat, tidak tahu apa yang hendak kukenakan. Padahal kalau mau mengingat, dulu, aku sama sekali tidak memiliki baju yang pantas untuk dikenakan untuk keluar rumah. Namun, aku baik-baik saja akan hal itu. Aku tidak pernah peduli dengan penampilan sampai Mami mulai ikut campur akan fashion-ku. Bisa dibilang, selera fashion Mami cukup berpengaruh dalam tatanan busanaku beberapa tahun terakhir.
“Serius sudah baikan?” Mario berjalan pelan sambil memakai jam tangan. Dia ikut berdiri di sampingku. Turut juga memandang isi almari yang sangat rapi. Mbak Tia telah menyusun bajuku sesuai warna, sehingga selain enak dipandang, juga memudahkan untuk mencari apa yang kubutuhkan.
“Ini sudah hari ketiga. Tidak separah dua hari kemarin. Pekerjaanku masih menumpuk.” Dan hari Sabtu nanti kami berdua akan terbang ke Yunani. Tidak mungkin aku berleha-leha, sementara aku belum menyelesaikan apa yang sudah menjadi kewajibanku.
“Kalau merasa tidak enak badan lagi segera hubungi aku, ya?” Mario mengusap puncak kepalaku dan meninggalkan satu kecupan ringan, lalu dia keluar dari walk in closet yang bersebelahan dengan kamar kami.
Orang akan berpikir dia tidak memiliki pekerjaan sehingga begitu mudah meninggalkan kantor hanya karena aku mengeluh sakit. Sangat berlebihan memang. Aku pernah bersumpah, takkan pernah menghubunginya kalau bukan hal genting terjadi. Menjadikannya pemimpin tidak bertanggung jawab itu bukan cita-citaku. Dia akan dicemooh bawahannya jika tahu alasan kenapa dia sampai meninggalkan kantor saat jam kerja.
“Sayang, aku ada meeting pagi.” Mario memegang ponsel yang menempel di telinga. Itu tandanya aku harus bergegas. Dia melongok, hingga kepalanya saja yang kelihatan dari tempatku berdiri.
Lagipula, kenapa aku harus memikirkan busana apa yang akan kukenakan pagi ini? Pagi ini akan sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Sudah empat tahun aku bekerja di sana. Jika penampilanku tiba-tiba berubah, hanya karena seorang pimpinan baru, apa itu tidak aneh? Apa ini karena Jovan? Apa aku ingin terlihat cantik di manik biru terang cowok itu? Kenapa? Tidak, tidak boleh. Dia bukan apa-apa.
Tanganku segera meraih celana jeans dan kemeja sedikit longgar dengan warna senada, biru pudar. Biru? Aku melempar baju itu ke meja. Tanganku meraih kemeja hijau tua yang akan kupadukan dengan jeans hitam. Mulai sekarang aku takkan mengenakan warna biru.
Tidak butuh waktu lama hingga aku keluar dari kamar. Mario sedang menyesap kopinya sambil memandang tablet di meja makan. Tangannya terus aktif menggeser layar.
“Non Flora mau sarapan apa?” Mbak Tia mendekat. Dia menuang teh chamomile yang wanginya cukup menenangkan di pagi yang selalu sibuk ini.
“Mbak Tia bikin apa buat Bapak?”
Mario mendongak, keningnya berkerut. Mungkin aneh baginya melihatku tidak rewel. Kombinasi pagi, habis libur, haid, dan hujan deras di luar tentu saja membuat mood-ku anjlok dan rawan mengomel jika ada sesuatu yang salah. Pancake yang kemanisan misalnya. Atau setrikaan bajuku yang tidak rapi. Hal-hal semacam itu akan kulakukan jika panik. Namun, apa yang terjadi padaku pagi ini pasti mengejutkan. Aku sangat kondusif.
Mbak Tia masih mematung di sampingku sambil memegang teko saat aku menoleh. Dia buru-buru menuju pantri.
“Kenapa?”
Mario tersenyum. Dia menggeleng. Aku tahu, dia menahan komentar apa pun. Hal seperti ini sering terjadi saat aku dalam masa mengeluarkan lahar panas dari rahim. Tangannya sibuk menggeser layar tablet kembali.
Satu tangkup sandwich dan segelas smoothies hijau tersedia di meja. Kini keningku yang berkerut. Tidak mungkin Mario sarapan seperti ini. Aku mendongak. Mbak Tia tersenyum dan segera pergi. Tak lama kemudian Mario tertawa.
“Aku sarapan nasi goreng. Tidak mungkin kamu mau makan itu.” Dia terkekeh.
Aku mengangguk dan mulai sarapan. Padahal khusus hari ini aku tidak keberatan untuk sarapan nasi. Perpaduan karbohidrat dan lemak di pagi hari, itu berpotensi membuatku ngantuk, tapi itu bukan masalah sekarang. Yang menjadi masalah adalah bagaimana aku akan bersikap di depan Jovan nanti? Aku bahkan tidak berani bertanya pada Mario, siapa teman lama yang dia temui di kafe Galang? Menanyakan hal tersebut pada Galang pun akan ditertawakan cowok itu pastinya. Aku sudah seperti istri possesif yang harus tahu semua kegiatan suami.
Hujan sudah reda saat kami sampai di basement apartemen. Perjalanan menuju kantor pun lancar dan cepat. Padahal aku berharap macet sehingga bisa meredam degup jantung yang begitu kuat bertalu. Ini benar-benar salah.
“Kapan kita akan pindah ke London?” Memang sebaiknya kami segera pindah.
Mario yang fokus dengan setir di tangan langsung menoleh. Kelihatan sekali kalau dia kaget. Rencananya, kami akan pindah ke Inggris setelah menikah. Seorang CEO seperti Mario tidak bisa pindah kantor begitu saja, ada banyak persiapan yang harus dilakukan. Tentu saja harus ada yang menggantikan posisinya sekarang di sini. Sama seperti perusahaan tempatku kerja sekarang. Saat Pak Chris pergi, maka datang Jovan sebagai pengganti.
“Kenapa?”
“Kamu yang kenapa?” Dia balik bertanya. “Ada sesuatu?” Keningnya berkerut rapat.
Aku menghela napas. Aku tidak tahu, apakah Jovan itu sesuatu?
“Beberapa hari ini kamu aneh. Ya, aku tahu, kamu selalu aneh saat datang bulan.” Dia tersenyum. “Hanya saja, bulan ini membuatku takut. Kamu tidak seperti biasanya.”
Biasanya? Aku akan mengomel tanpa sebab, atau menangis tiba-tiba. Benar-benar kebiasaan jelek. Dua hari kemarin, tenagaku habis untuk berpikir. Aku tidak punya energi lagi untuk mengamuk.
“Rasanya aku ingin berhenti bekerja.” Aku menempelkam kening ke kaca mobil. Bisa tidak, kita ke Yunani sekarang, dan aku tidak usah kembali lagi?
“Resign? Serius? Kamu akan mati bosan. Lalu, kamu akan membuat Kala serta Galang kewalahan. Membuat Fani uring-uringan, karena suaminya kamu bajak.” Mario terkekeh. “Kamu akan merindukan mereka, Honey. Kamu benaran berpikir kita akan tinggal di London?” Mario mengusap lenganku.
Entahlah? Ide itu muncul saat aku sudah tidak tahan lagi dengan kerinduan untuk bertemu Mama. Saat aku mengunjungi Kak David di Bristol, atau berbelanja bersama Tamara sampai ke Paris, atau menghabiskan waktu semalaman untuk bercengkerama dengan Mami, semuanya menjadi ringan. Rasanya cukup menyenangkan. Mereka selalu ada untukku. Berbeda dengan Kala yang selalu sibuk karena program study-nya, pun Galang yang tidak menomorsatukan aku lagi. Aku sering merasa kesepian. Tidak menyangka jika akhirnya Mario setuju. Mengingat orang tuanya yang tinggal di Negeri Ratu Elisabeth tersebut.
“Kita bicarakan nanti.” Aku menghela napas. Segera membuka sabuk pengaman karena mobil sudah berhenti di depan gedung kantorku berada.
Seperti biasa, Mario turun dari mobil. Dia membukakan pintu dan memegang tanganku supaya aku lebih mudah untuk turun.
“Jangan lupa untuk segera menelpon kalau keram perut lagi.” Dia merapikan rambutku yang diterpa angin. Udara begitu dingin karena langit masih terlihat muram. Hari ini bisa dipastikan akan kembali hujan. Semoga saja tidak banjir. Hal itu akan sangat merepotkan.
“Biasanya tidak terjadi di hari ketiga.” Aku ingin segera masuk kantor. Kenapa aku tidak memakai baju hangat tadi? Ini benar-benar menyiksa diri namanya.
Mario memelukku singkat dan memberiku kecupan di dahi. Dia mengantarku sampai undakan depan gedung, lalu segera kembali ke mobil karena gerimis mulai turun. Marcedes S-Class warna biru tua itu meluncur dan bergabung dengan deretan mobil lain di jalan raya. Dadaku terasa sesak. Sampai kapan kami menganggap semua baik-baik saja?
Dengan langkah lunglai aku mendorong pintu kaca berukuran besar sebagai akses masuk ke gedung. Gedung dua puluh enam lantai ini menampung ratusan orang, karena ada beberapa perusahaan di dalamnya. Namun, suasana cukup hening sekarang. Apa aku kepagian? Rasanya mustahil. Aku mendongak, menemukan beberapa orang lalu lalang tanpa suara. Mereka seperti sepakat, pagi ini adalah hari membungkam mulut sedunia. Sampai aku menemukan alasan kenapa semuanya diam.
Di dekat meja lobi, seseorang berdiri tegak dengan kedua tangan di saku celana. Dia menjadi pusat perhatian. Namun, seseorang itu justru menatapku. Aku segera menoleh ke halaman gedung. Mobil Mario memang sudah tidak ada di sana. Aku yakin dia telah melihat kedatanganku tadi. Susah payah aku menelan ludah. Entah kenapa aku merasa bersalah. Aku seperti seorang istri yang ketahuan selingkuh.
***