Kenapa aku marah?
Pertanyaan itu cukup mengguncangku setelah Kala mengatakannya. Dia bersedekap di depanku dengan tatapan lurus yang mengisyaratkan aku harus memberinya jawaban. Andai matanya memiliki kekuatan laser, aku sudah hangus sekarang.
“Kenapa lo marah?” Dia mengulangnya lagi.
Aku memijat pelipis. Bukan hanya perut, kepalaku juga ikut pusing sekarang. Kombinasi yang cukup mampu untuk membuatku meledak. Dadaku berdebar, napasku ngos-ngosan, lalu otakku rasanya mengebul. Belum lagi lambungku yang bergejolak. Situasi ini membuatku gila.
“Lo butuh istirahat. Otak lo sering konslet saat ovarium lo memuntahkan lahar panas. Gue heran, deh. Jarak rahim lo ke kepala itu cukup jauh padahal. Kenapa konektingnya begitu akurat.” Kala beranjak dari duduknya. Dia mengenakan sneli dan memeriksa jam tangan. Waktu istirahatnya sudah selesai. Dia harus menuju unit gawat darurat, tempatnya praktik hari ini. Pengusiran yang cukup halus, tapi kurang manusiawi menurutku. Aku butuh otaknya yang waras untuk memberiku masukan. Aku harus apa?
“Gue bingung, Kal.” Tanganku berpindah ke perut. Nekat datang ke rumah sakit karena Kala tidak bisa dihubungi memang tidak patut untuk dijadikan alasan. Kala menilaiku lebai, plin-plan, tidak punya pendirian, dan sederet sebutan lain yang tidak bisa kubantah. Aku memang seperti itu. Seharusnya kehadiran Jovan bukan apa-apa. Kami sudah selesai. Itu yang harusnya kutanamkan di kepala. Seperti paku yang menembus tengkorak Suketi. Siapa Suketi? Cari saja di google, aku sedang malas menjelaskannya sekarang.
“Lo sakit. Lo harus istirahat. Saat masalah bulanan lo ini kelar, otak lo baru bisa jalan. Sekarang percuma. Mau gue kasih masukan macam apa, hormon lo yang lagi swing itu akan menolak mati-matian. Lo akan bertahan pada perasaan galau lo itu. Nggak guna juga. Mending lo pulang. Laki lo sudah chat gue, nih. Kalau lo mau ngamuk, ngamuk saja sama dia, kenapa dia bohongin lo selama ini? Gue yakin dia akan diam saja. Gue tahu benar, betapa cintanya Mario sama lo, Flo. Dia akan nerima semua kemarahan lo. Jika lo masih berpikir ini kebohongan. Dari kacamata gue, lo hanya sedang mengalami syok terapi. Lo terkejut. Menurut gue, apa yang Mario lakukan itu wajar. Dengar, Flora. WAJAR.” Kala memasukkan ponsel yang baru saja dia pegang ke saku celana.
“Lo ngusir gue?” Aku menoleh pada Kala yang berjalan lurus ke pintu.
“Gue harus kerja, Flora. Gue butuh nilai, selain gaji. Gue nggak punya calon suami CEO yang bakal mencukupi semua kebutuhan gue kalau santai-santai seperti lo sekarang. Mario sudah di depan. Sana pulang.” Kala membuka pintu. Dia benar-benar menendangku.
“Galang bilang nggak, ya, sama Mario?” Aku menghela napas. Kabur dari rumah dengan hanya membawa dompet semata itu bukan sesuatu yang cerdas. Aku meninggalkan ponsel di nakas karena terburu-buru turun. Mengejutkan sekali aku bisa sampai ke rumah sakit dengan selamat dan dalam kondisi sadar. Jarak apartemen kami dengan Bumi Sentosa Hospital lumayan jauh padahal. Galang dan Mario bergantian menghubungi Kala saat aku tidak bisa dihubungi. Aku yakin, Mario meninggalkan apa pun yang dia kerjakan untuk memeriksa di mana keberadaanku sekarang.
“Mereka sahabatan. Lama. Menurut cerita lo yang menyatakan mereka masih saling berhubungan tanpa sepengetahuan lo saja, itu cukup membuktikan betapa solid persahabatan mereka. Tanpa terganggu fakta keberadaan lo di antara mereka. Lo berharap apa memangnya? Mereka akan terbuka satu sama lain di depan lo, gitu? Yang satu cinta pertama lo, satunya lagi mantan pacar lo, sekarang yang satunya lagi calon suami lo. Gue penasaran, apa mereka pernah ngebahas lo? Kalian luar biasa.” Kala terkekeh. Dalam kondisi genting semacam ini dia masih sempat tertawa. Kalau dipikir-pikir, benar juga. Yang pasti mereka bertiga tidak mungkin membahasku. Mereka akan menganggapku sesuatu yang tabu untuk dibicarakan. Lalu, aku mau berharap apa?
“Gue pulang.” Aku berjalan pelan sambil memegang perut.
“Ntar gue mampir.”
“Nggak usah. Lo nggak memberi solusi apa-apa.” Aku mendengkus.
Kala mengedikkan bahu sambil terkekeh. Dia menutup pintu ruangannya setelah kami sama-sama di luar. Aku menghela napas saat menemukan Mario duduk di salah satu kursi tunggu pasien sambil memegang tablet.
“Lo lihat, orang-orang yang duduk di sana itu, mereka seperti mau nerkam laki lo. Mario selalu ada buat lo selama ini. Dia pantas mendapatkan seluruh perhatian dan cinta lo. Jangan sia-siakan sesuatu yang sudah jelas di depan mata.” Kala berbisik dan mengusap bahuku yang dia rangkul. Kami berjalan pelan menuju deretan kursi yang lumayan penuh. Hari Senin yang benar-benar sibuk.
“Sudah baikan?” Mario mendongak saat kami berada di depannya. “Kurasa belum.” Dia tersenyum dan segera berdiri. Postur tubuhnya yang lumayan tinggi membuat Kala mendongak.
“Gue mau ke UGD. Bawa bini lo pulang. Ikat kakinya supaya kagak kabur. Nggak sadar diri banget kalau kondisinya memprihatinkan seperti ini.” Kala menoleh padaku, lalu beralih ke Mario kembali.
“Makanya kalau gue telepon langsung angkat.” Aku mendengkus lagi.
“Memangnya lo siapa? Miss Universe? Istri Kepala Rumah Sakit? Atau Istri Presiden? Gue lagi kerja.” Kala mencibir. Dia mendorongku hingga tepat di sebelah Mario.
Mario langsung merangkulku. Dia terkekeh. “Kalian belum makan pasti. Jangan lupa makan, Bu Dokter. Jangan sampai ikut-ikutan jadi pasien.”
“Siap. Gue duluan, ya. Dan lo, tidur. Jangan banyak berpikir. Tidur. Dengar, tidur. Otak lo lagi masuk frezer sekarang, percuma juga buat mikir. Yang ada sakit kepala.” Tatapan tajam Kala sudah seperti Mama saat memaksaku minum obat. Ah, aku kangen Mama. Mama pasti mempunyai solusi untuk masalahku sekarang.
“Siap, Bu Dokter.” Mario terkekeh dan mulai membawaku berjalan. Kami memandang kepergian Kala yang melambaikan tangan ke atas kepala. Dia menjauh sambil memunggungi kami.
“Nggak kerja?” Aku mendongak sekilas. Mario masih tersenyum.
“Kamu menghilang, gimana bisa kerja. Mbak Tia histeris di rumah.”
“Mbak Tia lebai.” Aku mendengkus lagi. Aku memang keluar dari rumah saat Mbak Tia berada di belakang. Sepertinya dia sedang berkutat dengan laundrian.
“Jangan lakukan ini lagi. Oke? Jangan tiba-tiba menghilang. Tidak membawa ponsel. Kalau terjadi apa-apa bagaimana?” Mario menatapku dengan binar lembut yang membuatku menahan napas. Benarkah dia sengaja membohongiku? Atau yang dia lakukan sebenarnya wajar, seperti yang Kala katakan. Mario wajar melakukan itu. Apakah benar begitu?
“Mar. Adakah yang ingin kamu ceritakan padaku?”
“Mengenai?”
Aku menelan ludah. Bagaimana jika ini hanya ketakutanku semata? Sebenarnya memang tidak ada yang perlu kami bahas. Ini hanya efek sakit kepala sekaligus keram perut yang aku alami. Aku akan menundanya sampai masa kritis bulananku ini usai. Mungkin dengan begitu otakku sudah bekerja normal seperti biasa. Menanyakan sekarang, lalu aku akan mendapatkan kejutan lain, maka aku tak punya tenaga lagi untuk mencernanya. Aku belum siap.
“Something happen?” Langkah Mario berhenti. Dia memegang kedua bahuku dengan lengannya. Matanya yang keemasan itu menatapku dalam. Satu alisnya naik ke atas. Beberapa kerutan kecil muncul di keningnya. Itu menandakan dia sangat penasaran.
Aku menggeleng. Aku tidak bisa membahasnya sekarang. Tidak di sini. Banyak orang lalu-lalang melewati kami. Beberapa bahkan sampai berhenti, layaknya kami adalah sebuah tontonan yang pantas untuk mendapatkan perhatian lebih.
“Kita pulang, makan, dan tidur.” Mario merangkulku lagi.
“Kamu tidak kembali ke kantor memangnya?”
Mario menggeleng. “Aku akan ke kafe Galang. Kami kedatangan seorang teman lama.”
***