Brian!
Nama kekasihnya itu terus saja melayang-layang di pikirannya. Wajah tampan yang sudah sangat melekat dihatinya. Ia merasa seperti mengkhianati Brian saat ini.
Oh Tuhan!
Apa dirinya terlalu kejam?
Ada banyak air mata yang keluar dari netranya bercampur dengan rasa kecewa mendalam. Jika saja ia tahu akan berakhir seperti ini, ia tidak akan menjadi orang baik. Ia tidak akan menjadi pahlawan yang bod0h yang pada akhirnya menghancurkan sirinya sendiri!
Namun, semua sudah menjadi bubur! Nasib yang tidak layak untuk ditangisi, tapi tetap harus berusaha untuk kuat demi segala hal yang ia dambakan dalam hidupnya.
Masa depan? Apa masa depannya masih ada? Tolong siapa pun memberitahu masa depan bagaimana lagi yang bisa ia dambakan sebagai perempuan yang kehormatannya telah direnggut oleh lelaki asing? Adakah yang bisa menjawab?
Tidak! Ia hanya gumpalan asa dalam kabut yang tidak akan pernah bisa bahagia pada akhirnya.
Tuhan menciptakan takdir apik yang sulit ia jalani, tapi terpaksa ia jalani!
****
“Jika air mata adalah wadah untuk menampung rindu dan bahagia, maka aku akan ikhlas menangis tiap waktu.”- Seira Cantika
***
Jeza terbangun dari tidur panjangnya setelah ponsel canggih di atas nakas meraung-raung layaknya anak kucing kelaparan. Setelah melakukan peregangan sebentar, Jeza meraih benda pipih itu. Sebuah pesan w******p dari asisten. Isinya sudah pasti tentang pekerjaan!
Jeza bangkit dari tempat tidur, mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi. Air dingin mengguyur tubuh Jeza yang tanpa sehelai benang. Terlalu sejuk sehingga lelaki tampan itu lebih ingin berlama-lama di sana. Namun, entah pikiran kot0r mana yang membuatnya membayangkan kejadian di mana ia meniduri Seira, si perempuan asing yang malang.
Jeza b*******h. Tangannya mulai bermain sendiri di bawah sana, mencari kenikmatan hingga lepas.
“Sial!” Jeza menjatuhkan dirinya ke lantai kamar mandi setelah puas menyemburkan cairan kental miliknya. Guyuran air dari shower masih setia jatuh ke tubuhnya yang menggoda.
Cukup membuat Jeza lelah.
Setelah merasa sudah bisa mengatur kondisi tubuhnya. Jeza kembali melanjutkan mandinya.
Hari ini, pakaian yang ia kenakan tidak terlalu formal, malah lebih kasual. Celana berbahan katun panjang warna cokelat tua dipadukan dengan kaos putih berkerah V, dipadukan dengan kemeja lengan panjang motif kotak kombinasi warna merah hitam. Sepatu warna putih menghiasi kakinya. Dan jelas, kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya.
Terlalu sempurna untuk seorang Jeza.
Jeza meraih kunci mobilnya. Ia sedikit bersyukur karena Kinan begitu baik membawa pulang mobilnya yang teronggok di parkir klub malam tempat ia menghabiskan waktu bersama alkohol kemarin malam.
Baru saja Jeza menutup pintu kamar, suara Fara sudah terdengar memekakkan telinganya.
“Kamu harus mencari Seira.”
Jeza menghela napas. Pembahasannya masih tentang perempuan berusia sembilan belas tahun. Bukan salah Jeza lagi! Ia sudah mengalah, mencoba bertanggung jawab, tapi toh ... Seira tidak ingin terjebak dalam pernikahan tanpa cinta.
Bagus, bukan?
“Jeza, kamu dengar mama?” Fara menepuk pundak Jeza kuat.
“Ma, buat apa sih susah-susah nyari itu cewek, toh dia juga gak mau nikah sama Jeza.”
Fara menggertakkan giginya. Putranya itu sungguh tidak memiliki hati.
“Sebagai lelaki, kamu harus bertanggung jawab setelah melukai hati seorang perempuan.”
“Melukai? Ayolah Ma, siapa yang melukai hatinya? Justru sebaliknya, Jeza yang terluka di sini. Kekasih yang ingin aku nikahi justru memilih menikah dengan lelaki kaya.” Jeza menaikkan nada suaranya.
Fara melotot. Untuk pertama kalinya Jeza berbicara padanya dengan nada tinggi.
“Jadi, yang terluka siapa?”
Fara terdiam.
“Jika Mama masih membicarakan soal perempuan bernama Seira itu lagi, mending Mama jangan datang ke rumah aku dulu deh.”
“Baik. Tapi kamu bakalan menyesal nantinya.” Fara mengambil tas lalu pergi dari rumah Jeza.
Jeza mengacak rambutnya frustrasi. “Dasar mamak-mamak!” gerut Jeza.
****
Pemotretan kali ini tidak memakan waktu terlalu lama, hanya mengambil beberapa gambar dan lokasinya dalam studio milik Jeza.
“Oke, terima kasih atas kerja samanya.” Jeza membungkuk memberi penghormatan kecil kepada dua modelnya.
“Terima kasih kembali,” jawab serentak keduanya.
“Bos, makan siang?” Mega yang merupakan asisten Jeza bertanya sembari mengikuti langkah Jeza.
“Di luar saja. Lo ikut gue.” Jeza membelok menuju ruangannya.
“Bos yang traktir?” Mega menunduk saat Jeza menatapnya horor.
“Kalau gue yang ngajak itu berarti gue yang bayar. Lo kok polos banget sih?” Jeza mengacak rambut Mega geram.
“Siapa tahu aja. Bos kan kadang kumat. Tiba-tiba berubah haluan dalam hitungan detik.” Mega mengeluarkan unek-uneknya.
“Gue yang traktir. Pastikan dua model itu udah pulang, baru kita keluar makan siang.”
Mega mengangguk. Lalu pintu ruangan Jeza tertutup rapat.
“Sabar banget gue menghadapi bos kayak dia.” Mega mendengkus kasar. “Tapi ganteng. Udah gitu perhatian walau nyebelin.” Mega berlalu. Memastikan kedua model itu sudah pulang atau masih bersiap-siap!
****
Jeza menggeleng menyaksikan Mega yang makan seperti orang rakus. Atau lebih tepat seperti orang yang tidak makan selama berbulan-bulan. Semua masuk ke dalam tenggorokan tanpa pilih.
Udang besar pun hanya sekali masuk ke dalam mulutnya. Bahkan jus alpukat yang takaran gelas besar sekali teguk tanpa peduli risiko keselek.
“Asisten lo kasihan amat ya, Jez.” Iqbal, sahabat Jeza ikut duduk bersama mereka. Karena kebetulan Jeza membawa Mega ke kafe milik Jeza.
“Biarkan aja. Masa pertumbuhan kali.” Jeza menyahut.
Sedang yang dibicarakan masih tidak mau peduli dengan keadaan apa pun.
“Apa gak pernah makan? Gak takut gemuk?”
Jeza menaikkan bahunya pelan. “Dari gue kenal dia setahun yang lalu sampai sekarang kini, ya ... tubuhnya gitu-gitu aja sih. Gak ada gemuk-gemuknya sama sekali.”
“Bos sama temannya bos ngomongin saya, ya?” Mega menatap harap pada dua lelaki tampan di depannya.
Iqbal hampir saja tertawa melihat ekspresi lucu Mega. Entah di mana Jeza menemukan perempuan unik seperti itu.
“Udah makan aja dulu. Gue ada urusan sama Iqbal. Lo tunggu di sini. Kalau kurang pesan lagi aja. Gak apa-apa.” Jeza mencolek Iqbal untuk ikut dengannya.
“Ada apa?” Iqbal mengikuti langkah Jeza menuju ruangan Jeza.
Yang punya kafe siapa, yang berkuasa siapa?
“Gue mau bicara serius,” kata Jeza. Mendudukkan dirinya di kursi kebesaran Jeza.
Iqbal pasrah. Kursi kebesarannya lagi-lagi dikuasai oleh teman yang pengin digiling.
“Soal apa?”
Jeza mengusap wajahnya frustrasi.
“Kayla mutusin gue.”
Iqbal menutup mulutnya rapat. Namun, detik berikutnya ia tertawa.
“Jangan bercanda. Cewek yang gak mau jauh dari lo meskipun sedetik aja mutusin lo? Gue gak percaya. Jangan bikin gue senang, Brother.”
Jeza memejam mata. “Gue serius. Gue diputisin sama dia demi cowok yang lebih kaya. Lo tahu ‘kan? Uang menyilaukan segalanya.”
Iqbal bertepuk tangan. “Selamat kalau begitu. Berarti gue gak perlu susah payah dong buat mencari cara supaya kalian berdua putus.”
“Otak lo gila!”
“Gila? Hei, gue berkata apa adanya. Gue senang bukan main.” Iqbal masih setia tertawa.
“Teman gue gini amat, Tuhan!” Jeza menaikkan kakinya ke atas meja.
Iqbal memilih duduk di sofa. Tidak mau kalah, ia ikut menaikkan kakinya di atas meja kaca.
Ayolah, ia pemilik kafe, tapi Jeza berkuasa bukan main. Sedangkan saat ia berkunjung ke studio Jeza, lelaki itu terus menghalanginya berbuat semena-mena.
Penindasan yang hakiki.
“Dan ....”
Iqbal menengadah saat Jeza kembali bersuara.
“Dan apa? Jangan bikin gue penasaran.”
“Dan tanpa sengaja gue masuk ke klub malam, menghabiskan waktu sampai mabuk.”
“gak apa-apa selagi gak merugikan orang lain.”
Jeza menghela napas kasar. “Masalahnya, gue meniduri cewek yang nolongin gue malam itu.”
Iqbal spontan berdiri dari duduknya. “Serius?”
Jeza mengangguk.
“Ya Tuhan! Lo kenapa bisa sampai bod0h gitu sih? Terus gimana?”
Iqbal ikut khawatir. Masalahnya, ia tidak pernah sekali pun berpikiran menyakiti perempuan meskipun tidak suka.
“Mama dan Kinan tahu. Mereka yang menemukan cewek itu di kamar mandi dalam keadaan pingsan karena berniat bunuh diri.”
Iqbal kembali duduk.
“Lo pasti meniduri gadis baik-baik.” Iqbal menebak.
“Mama minta gue nikah sama cewek itu. Gue jelas nolak, karena ancaman mama akhirnya gue iyakan. Masalahnya ada sama cewek itu.” Jeza mencoba menjelaskan secara rinci.
“Masalah apa?”
“Dia gak mau terjebak pernikahan tanpa cinta sama gue. Jadi, dia kabur. Awalnya gue merasa khawatir, tapi setelah gue pikir-pikir, kenapa gue harus khawatir. Toh, dia yang gak mau nikah. Di yang gak mau terjebak. Gue harus bersyukur dong.”
“Tapi tetap, lo udah menghancurkan hidup cewek yang baik. Gimana kalau dia seorang yang sudah bertunangan?”
Jeza terdiam. Ia menurunkan kaki dari Meja.
Apa yang dikatakan Iqbal ada benarnya juga.
“Lo bayangin aja, dia udah punya tunangan, terus dalam sebulan udah mau nikah. Tiba-tiba dia hamil, sedangkan tunangannya gak pernah nyentuh dia. Apa gak kasihan?”
“Bisa aja dia pelΔcur!”
“Otak lo kot0r mulu ya. PelΔcur gak akan bunuh diri.”
“Lo udah kayak nyokap gue aja. Ngomong sok iya.”
Iqbal melempar Jeza menggunakan bantal sofa.
Jeza menangkis hingga bantal sofa tergelatak jatuh ke lantai.
“Gue serius, Za. Jangan sampai lo nyesal aja nantinya. Lo bayangkan itu terjadi sama Kinan. Lo gak mau, ‘kan?”
“Sialan. Jangan bawa-bawa sepupu gue dong.”
“Gue hanya ngasih sedikit perbandingan. Lo gak mau. Keluarga cewek itu juga pasti gak mau lo gituin anak mereka. Mending saran gue, lo cari deh itu cewek. Gue yakin juga, hubungan lo sama nyokap lo udah gak baik kan?”
Jeza mengangguk. “Dia udah neror gue. Bahkan pake aksi ngambek segala. Mak-mak bikin ribet tahu.”
“Nyokap lo tuh. Lo bersyukur karena lo gak digantung. Kalau gue, udah pasti tinggal nama. Lo tahu sendiri bokap gue gimana?”
“Bokap lo kan udah kayak mafia.”
“Serah lo deh. Ngomong-ngomong, siapa nama cewek yang lo tiduri itu. Gue penasaran.”
Jeza berpikir sejenak.
“Seira Cantika.”
Iqbal mengangguk.
“Kenapa gak asing ya?”
Iqbal menuju meja kerjanya. Mengotak atik komputernya dan hela napas terdengar dari mulutnya.
“Karyawan gue.” Tunjuknya tepat pada komputer yang mencetak nama Seira Cantika.
Jeza melotot tajam. Kenap ia tidak tahu? Kenapa dunia sangat sempit?
“Baru sebulan bekerja di sini?” Jelas Iqbal lagi.
Jeza lemas.
“Lo tunggu di sini.” Iqbal keluar dari ruangannya.
Langkah cowok tampan itu sedikit terburu-buru. Mendekat kepada salah satu karyawannya yang sedang berdiri sembari tertawa.
“May,” panggil Iqbal.
“Ya, Mas Iqbal?” Maya berhenti tertawa.
“lihat Seira?” tanya Iqbal.
Maya berpikir sejenak. “Oh, Si bungsu yang manis sedikit pendiam itu gak nongol hari ini, Mas. Tadi, dengar dari Aura, dia nitip pesan gitu deh sama Mas, tapi gak tahu. Coba tanya sama Aura.”
“Barusan?”
“Tadi pagi teleponnya.”
“Dan gak ada satu pun yang ngasih tahu ke gue? Kalau gue gak tanya pasti kalian diam aja.”
“Mas Iqbal jangan ngamuk sama saya dong. Sama Aura sana.” Maya berlalu meninggalkan atasannya itu.
Iqbal menggeleng. Dia yang atasan. Dia yang ditegur. Hebat!
Iqbal kembali melanjutkan langkah mencari Aura.
Dan, sudut bibirnya naik saat melihat karyawannya itu tengah makan siang di ruangan khusus.
Iqbal menarik kerah baju Aura hingga membuat si karyawan terangkat sedikit.
“Gue lagi makan, woi!” protes si karyawan tanpa melihat siapa yang menarik kerah bajunya. Ia benar-benar menikmati makannya sampai tidak sadar jika bosnya yang mengancam dirinya saat ini.
“Apa gue peduli! Gue pecat, mau!” Iqbal bukan hanya menggertak, tapi bisa saja ia menjadikan itu nyata. Namun, karena Iqbal dikenal dengan kebaikan dan keramahan, semua karyawan kadang hanya menganggap itu candaan semata.
“Mas Iqbal.” Aura tersenyum kikuk. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
“Kok lo gak bilang ke gue kalau Seira gak masuk hari ini.” Iqbal menatap nyalang pada Aura. Aura semakin dibuat kikuk.
Aura kembali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Lupa Mas.” Dengan berat sekali mengatakan kalimat itu. Ia benar sangat lupa, tapi bosnya seolah tidak peduli pada alasan semacam itu.
“Gaji lo, gue lupakan juga berarti.” Iqbal semakin menjadi. Astaga, kenapa para bos suka sekali mengancam?
“Pak bos jangan main ngancam dong. Iya, maaf.” Aura tidak terima jika gajinya dipotong hanya karena lupa memberi tahu soal Seira yang tidak masuk kerja. Sangat tidak lucu, bukan? Aura memasang mimik sedih.
“Apa alasannya?” Iqbal semakin menancapkan pertanyaan pada Aura. Ia ingin tahu alasan Seira tidak masuk kerja hari ini.
“Alasan apa, Mas?” Aura layaknya orang bodoh. Berhadapan dengan Iqbal lama-lama membuat Aura bod0h seketika.
Iqbal menarik pelan rambut Aura. “Alasan kenapa Seira gak kerja.”
“Oh. Dia bilang sih sakit. Tapi gak tahu sakit apa. Ngomong-ngomong suaranya serak, Mas. Mungkin habis putus cinta.” Aura hanya asal bicara. Karena sejujurnya dia tidak tahu alasan yang pasti soal Seira tidak masuk kerja hari ini. Emang dia mamaknya Seira? Atau adiknya Seira?
“Jangan bikin gosip, Aura.” Iqbal menegur karena tidak ingin kafenya tiba-tiba menjadi tenar karena gosip yang tidak jelas.
“Siapa yang menggosip?” Aura tidak terima dikatakan menyebar gosip.
“Elo. Udah ah, gue mau ke ruangan gue lagi. Awas aja kalau sekali lagi ada kabar apa gak lo lapor ke gue, gue pecat lo!” Iqbal kembali mengancam Aura. Aura menghela napas kasar karena lagi-lagi dapat ancaman dari bosnya.
“Mas Iqbal sotoi.” Aura menggerutu sangat keras. Suaranya terdengar nyaring sekali..
Iqbal menggeleng. Sepertinya ia harus mengubah image mulai sekarang. Nyatanya, tak satu pun karyawannya takut padanya.
“Jez, gue yakin Seira yang lo tiduri itu karyawan gue.” Iqbal baru nongol langsung menghadiahi Jeza kalimat yang aduhai. Namun, Iqbal harus menelan pahitnya diabaikan, karena sahabatnya itu sudah tertidur lelap di sofa.
“Sialan. Oke, gue bakalan mendatangi Seira.” Keputusan Iqbal tak bisa diganggu gugat lagi. Ia akan menemui Seira di rumah sang karyawan itu dan meminta bukti yang pas soal ini semua.
Soal Jeza yang meniduri Seira. Apa itu benar?