4. Pelarian√

2408 Words
Seira menyusun pakaiannya ke tas ransel warna hitam. Secara paksa dan tak beraturan. Jangan tanya tentang air mata, karena cairan bening itu terus saja mengalir sejak ia membuka mata pagi buta. “Apalagi? Apalagi?” Seperti orang bod0h bertanya tanpa ada yang menjawab. Sebenarnya, hanya Seira sendiri yang paham akan jawaban yang diperlukan hatinya. Hati selalu menuntun ke jalan yang baik! Mungkin? “Tidak ada lagi?” Menyeka air mata secara kasar. Namun, cairan sebening kristal itu kembali meluncur saat foto sepasang kekasih yang sedang tersenyum tercetak jelas di depan matanya. Lelaki tampan yang tersenyum, menggendong penuh mesra si perempuan manis sembari mengecup bibir ranum. Seira tak kuasa melihatnya! Itu dirinya dan Brian, kekasihnya yang masih tidak tahu akan hidup. Bertahan atau akan tetap tidur tanpa membuka mata lagi! Seira ingat betul, foto itu mereka abadikan saat libur tahun lalu ke kampung halaman Seira, Medan. Seira yang mengambil foto menggunakan kamera ponselnya hadiah ulang tahun dari Brian. Ia sangat mencintai lelaki itu dan berjanji akan tetap di sisi Brian apa pun kehendak Tuhan nantinya. Tangan Seira hendak mengambil foto itu, tapi terhenti saat ketukan di pintu flatnya terdengar. Seira melupakan sesaat soal foto, menghapus air matanya lalu menuju pintu. “Hai,” sapa seseorang di balik pintu saat Seira berhasil membuka pintu lebar. Manik cokelat Seira membulat sempurna. Yang berdiri di depannya itu adalah atasannya yang terkenal sangat baik meskipun ia baru sebulan bekerja di kafe Gemilang. “Boleh masuk?” tanya Iqbal memelas. Wajahnya yang tampan tetap terlihat tanpa meskipun ia membuat dengan berbagai ekspresi sekali pun. Seira mengangguk, menggeser tubuhnya agar Iqbal bisa masuk ke dalam flat kecilnya. Sebenarnya pertanyaan menyeruak di kepala Seira, salah satunya adalah kenapa Iqbal datang ke flat kecilnya yang tidak layak dikunjungi oleh orang-orang berduit. Iqbal dengan senang hati masuk ke dalam flat saat mendapatkan sambutan yang tidak buruk. Bahkan terkesan seperti teman lama yang baru berkunjung. Melihat-lihat sekeliling tanpa ada rasa canggung sama sekali. “Tempat lo lumayan nyaman.” Iqbal bersuara dengan ceria. Di itu bos atau sesama teman? Jarang sekali ada bos yang kelihatan dekat dengan karyawannya apalagi karyawan yang meminta izin untuk tidak datang kepada karyawan lain bukan pada sang bos. Tidak ada sahutan dari Seira. Iqbal membalik, memicingkan matanya saat menatap Seira. “Lo nangis? Kenapa?” tanya Iqbal penasaran. Ia seperti agen rahasia yang ingin mengorek informasi mendasar pada korbannya tanpa tahu apa tujuan sang agen tersebut. Seira menyentuh matanya. Tidak ada air mata lagi, lalu? “Mata lo sembab," kata Iqbal sembari menunjuk mata Seira yang sembab.. Seira tersenyum kikuk. Tidak banyak gerakan yang ia lakukan, terasa sangat canggung, seolah dia adalah tamu di rumah sendiri dan Iqbal adalah pemilik rumah. Ya, seperti itu! “Ma–mas Iqbal mau minum apa?” tanya Seira gugup. Iqbal menjatuhkan dirinya di atas sofa. “Apa aja, asal bisa bikin gue betah di sini.” Seperti anak kecil yang sudah lama tidak duduk di sofa murah. “Ke–kenapa harus betah?” Lagi-lagi Seira gugup. “Karena ada hal penting yang ingin gue bicarakan ke elo.” Iqbal memasang wajah seriusnya. Seira mengangguk. Ia harus pasrah dan menerima kenyataan. Sudah pasti atasannya itu datang untuk menegur karena tidak masuk kerja hari ini. Seira meninggalkan ruang tengah menuju dapur yang jaraknya hanya 2 meter. Mengambil jus Jeruk kemasan lalu menungkannya ke dalam gelas bening. Dan, setelah itu kembali ke ruang tengah. “Silakan diminum, Mas,” ucapnya pelan sembari menyodorkan gelas berisi jus kepada Iqbal. Iqbal mengangguk. Mengambil jus dan tanpa berpikir panjang meneguk tandas tanpa sisa. Amazing! Seira tidak menyangka jika atasannya itu memiliki sifat rakus juga. Apa rakus itu sifat? Seira menepuk jidatnya pelan. Sejak kejadian di mana kehormatannya diambil paksa oleh lelaki bernama Jeza itu, pemikiran bod0h selalu menghantuinya. “Masih betah berdiri?” tanya Iqbal. Seira tersadar dari pikirannya, menatap fokus pada Iqbal. “Tidak mau duduk? Gue mau ngomong sesuatu, loh.” Iqbal kembali berkata. Seira mengangguk, lantas duduk tepat di samping Iqbal. Lelaki tampan itu tersenyum, membuat dimple tercetak jelas di pipi. Sangat tampan sampai membuat Seira hampir membandingkan wajah lelaki itu dengan Brian. “Gue emang tampan, Sei. Tidak perlu diperhatikan sedemikian rupa.” Iqbal menggoda Seira di sela-sela senyumnya yang merekah indah yang mampu membuat siapa pun luluh lantah pertahanan. Iqbal makhluk Tuhan yang tampan yang tidak akan mungkin diragukan! Salah tingkah. Seira membuang tatapannya saat Iqbal memergokinya yang begitu mengilhami menatap lelaki itu. Jika saja dia tidak ingat Iqbal adalah atasannya, mungkin sudah ia usir detik itu juga. Namun .... “Kita fokus pada pembahasan.” Iqbal semakin terlihat serius. Seira meremas jarinya yang saling menaut. “Soal apa, Mas? Soal pemecatan?” tanyanya cemas dan tentu saja dengan nada suara takut-takut. Apa yang akan Iqbal katakan padanya? Apa sesuatu menyangkut pekerjaan? Pemecatannya? Entahlah! Yang jelas, Seira sangat ingin pergi dari hadapan Iqbal saat ini agar telinganya tidak mendengar apa pun yang akan diucapkan Iqbal. Iqbal mengacak gemas rambut Seira. Demi Tuhan, gadis berusia sembilan belas tahun di depannya itu ingin sekali ia jadikan adik angkatnya. Terlalu menggemaskan. Dan terkutuklah Jeza karena menghancurkan hidup seseorang yang begitu polos seperti Seira. “Bukan, tapi ini soal yang lain. Soal teman gue.” “Teman, Mas? Maksudnya?” Seira terlihat bingung. Ia menatap dalam pada Iqbal mencari tahu apa yang sebenarnya ingin dibicarakan lelaki itu padanya. “Gue mau curhat sedikit. Boleh?” Seira mengangguk walau ia heran kenapa Iqbal ingin curhat padanya. “Begini. Gue punya teman, dia baru putus dari pacarnya, terus ... dia menghabiskan waktu di klub malam, you know, lah? Mabuk gitu.” Seira hanya menjadi pendengar budiman tidak berniat menyahut sama sekali. Curhat bukan berarti ia harus ikut bersuara, kan? Cukup mendengar dan mendengar saja. “Kemudian pas mau pulang, dia pingsan dan seorang gadis yang baik hati menolongnya, mengantar hingga ke rumah.” Seira masih diam. Namun, matanya mulai sendu. Hatinya tiba-tiba ingin memberontak, tapi tertahan oleh sesuatu hal yang belum bisa ia pastikan. “Lalu ... dia tidak sengaja meniduri perempuan itu.” Seira menghela napas pelan. “Kenapa Mas menceritakan ini ke aku?” Kisah itu persis seperti kisahnya. Kenapa sama? Kenapa mirip? Atau yang diceritakan Iqbal dirinya? Tidak mungkin! Itu hanya kemiripan semata walau sangat persis sepenuhnya. Iqbal menaikkan bahunya. “Hanya meminta pendapat. Bagaimana menurut lo? Apa yang harus dilakukan teman gue?” Seira bangkit dari tempatnya. Semua kalimat yang diucapkan Iqbal merujuk ke dirinya. Kebetulan atau memang Iqbal tahu sesuatu? “Sebaiknya lelaki itu mati saja! Karena otaknya tidak ia gunakan dengan benar. Apa ia tidak berpikir, bagaimana kalau perempuan itu punya kekasih? Tunangan?” Air mata Seira jatuh tiba-tiba. Entah kenapa Seira yakin jika itu adalah dirinya. Cerita yang terdengar adalah cerita tentang dirinya. Iqbal terdiam. Jadi dugaannya benar, jika Seira yang dimaksud Jeza adalah karyawannya itu. “Sei, Jeza tidak sengaja melakukannya.” Iqbal mencoba menjelaskan lebih detail. Mencoba membujuk dan memberi pemahaman. Ia tidak membela Jeza, justru sebaliknya ia ingin ada jalan keluar untuk semua masalah yang ada. Jantung Seira seperti berhenti! Ya, sesaat jantung itu berhenti berdetak. Ternyata Iqbal dan Jeza memiliki hubungan yang tidak ia paham. “Maksud, Mas?” tanya Seira dengan air mata yang terus membanjiri pipi putih pucat itu. “Jeza, yang gue ceritakan tadi itu teman gue. Jeza! Gue tahu apa yang terjadi antara lo dan dia. Gue tahu karena si berengsek itu baru aja bercerita ke gue.” Iqbal kembali menjelaskan. “Itu pintu keluar! Mas bisa keluar dari sana.” Seira mengusir Iqbal secara halus. Tidak peduli jika lelaki itu adalah atasannya. “Sei, dia sungguh ingin menikahimu.” Iqbal masih setia membujuk. Kebaikan untuk Jeza dan Seira adalah pernikahan. Percayalah! “Lalu menceraikanku setelah itu? Sebenarnya tidak masalah. Tapi ia terlalu angkuh. Lelaki sepertinya tidak berhak hidup di dunia ini!” Amarah Seira semakin menjadi. Ia tidak bisa menerima apa yang terjadi dan apa yang ada di depan matanya tentang nasib buruknya. “Ucapanmu itu!” geram Iqbal. “Mas lihat ini.” Seira mengambil foto dirinya dan Brian. Melempar ke pangkuan Iqbal. Iqbal melotot tajam melihat foto yang terlempar di pangkuannya itu. “Lelaki itu kekasihku. Tunanganku! Aku harus bilang apa padanya? Tolong beri tahu aku?” Air mata Seira semakin menjadi. Bahkan ia tidak peduli di depan siapa ia menangis. Iqbal membungkam mulutnya. Ah, ternyata apa yang ia pikirkan memang benar semua. Seira sudah memiliki tunangan. Jeza dalam masalah besar karena menghancurkan masa depan seseorang. “Tolong bilang sama teman, Mas. Simpan kesombongannya itu untuk perempuan lain. Simpan aja sifat berengs3knya itu! Aku tidak ingin jatuh pada tipu dayanya!” Seira menarik Iqbal agar berdiri dari tempat duduknya, mendorong hingga menuju pintu. “Keluar dari tempatku. Terserah jika Anda mau memecat saya!” tambah Seira lagi. Menutup pintu kuat hingga membuat Iqbal terkejut bukan main. Blam “Jeza sialan! Lo dalam masalah besar.” Menggeleng kepala karena bingung sendiri. Ia menghela napas lalu berjalan menjauh dari flat milik Seira. Dengan langkah tergesa menuju mobilnya. “Astaga, Jeza. Lo ngehancurin hidup seorang gadis yang sudah bertunangan! Seira, ah ... Seira!” Iqbal mengacak rambutnya frustrasi. Sahabatnya yang berbuat, ia yang malah pusing! **** Saat Iqbal kembali ke kafe, Jeza sudah tidak ada di sana lagi. Sahabatnya itu sudah memilih pulang tanpa menunggunya. Jeza gila! Iqbal keluar dari kafe, tujuannya hanya satu ketemu dengan Jeza dan membicarakan semua tanpa celah sedikit pun. Mobil warna hitam Iqbal membelah jalan raya nan sepi, berhubung jam masih menunjuk pada angka tiga. Hanya butuh lima belas menit untuk tiba di halaman rumah Jeza. Sepi! Iqbal turun dari mobil segera masuk ke dalam. Dan saat menekat bel, pintu terbuka karena seseorang membuka dari dalam. Kinan di sana. Berdiri dengan wajah kesal luar biasa. “Nan, kenapa?” tanya Iqbal penasaran dengan mimik wajah Kinan saat ini. Kinan mengentakkan kakinya ke lantai. Menunjuk seseorang yang tengah tertidur di sofa. “Noh, teman lo yang gila itu. Gila pokoknya. Gimana bisa dia nganggap sesuatu yang ia perbuat itu sebagai hal sepele? Gimana bisa menghancurkan anak orang itu sebagai hal sepele, coba katakan ke gue, Bal? Lo bayangin gih!” Kinan rasanya ingin menendang bok0ng Jeza hingga terbang ke Afrika Utara atau Afrika mana pun yang bisa menelan sepupunya itu. “Soal cewek bernama Seira.” Iqbal menebak. Kinan terkejut. “Lo tahu? Tahu dari mana?” Ia tidak menyangka jika Iqbal tahu. “Si bod0h itu memberitahu ke gue,” kata Iqbal cepat. Kinan mendengkus pelan. Jeza memang benar-benar tidak waras. Memberitahu Iqbal, tapi malah ia santai seolah tidak terjadi apa-apa. Dasar gila! “Ayo bicara sebentar.” Menarik tangan Kinan agar keluar dari rumah. Mereka menuju samping untuk berbicara hal penting. “Ada apa?” tanya Kinan penasaran. “Seira itu karyawan di kafe gue. Dia baru bekerja sebulan ini. Tadi, gue mendatanginya di flat karena kebetulan dia gak kerja, walau sekalian mau mencari info tentang fakta yang terjadi.” Iqbal menjelaskan soal apa yang ia tahu dan ia lakukan hari ini untuk menolong Jeza. “Terus?” Kinan penasaran. “Gue harap lo gak terkejut batin,” kata Iqbal lagi. “Kenapa?” Kinan makin penasaran. “Alasan Seira gak mau menikah sama Jeza, bukan hanya karena Jeza angkuh dan mengatainya pelΔcur.” Iqbal menghela napas pelan. “Lalu?” Kinan yang makin penasaran terus bertanya. “Karena Seira memiliki kekasih atau tepatnya tunangan. Dan sekarang gadis manis itu sedang bingung menghadapi situasi yang terjadi. Ia tidak tahu harus bertindak seperti apa,” tutur Iqbal. Kinan mengusap wajahnya kasar. “Jeza sialan. Lo ngehancurin hidup calon istri orang. Sialan!” Iqbal bersandar di dinding. “Tapi apa pun itu Jeza harus bertanggung jawab. Gue takut gadis itu tidak diterima ketika ia jujur nantinya pada keluarga tunangannya. Bisa aja ia diusir atau–“ Iqbal mencoba mengambil antisipasi untuk masalah seserius ini. “lo benar. Gue bakalan membujuk semampu gue. Lagian itu anak, mau aja diperdaya sama alkohol.” Kinan ikut mencari jalan untuk menyelesaikan masalah yang ada. “Putus sama Kayla!” seru Iqbal. “Semua ini terjadi lantaran ia putus dengan Kayla,” tambah Iqbal lagi. “Gue gak kena Kayla,” elak Kinan. “Dan gue gak mau tahu siapa itu Kayla.” Kinan bersikeras dengan apa yang ia katakan bahwa Kayla tidak ia kenap sama sekali. Kayla menyebalkan menurut Kinan! Karena Kayla juga semua kacau balau! Jeza hancur karena perempuan iblis itu! Iqbal terkekeh. Kinan benar-benar menggemaskan jika sudah bertingkah seperti itu. Ingatkan dia agar menyeret ke kamar, menelanjΔngi dan meniduri sampai puas. Oh Tuhan, pikiran m3sum apa itu? Iqbal menggeleng untuk menghilangkan pikiran kotornya. “Lo kenapa?” Kinan yang menangkap basah Iqbal yang menggeleng bertanya. “Gak apa-apa,” elak Iqbal. Berlari masuk ke dalam rumah. Kinan mengedikkan bahu cuek, kemudian menyusul Iqbal. Masa bod0h dengan apa yang sedang Iqbal pikirkan. Seandainya itu pun tentang dia, biarkan saja. Toh, Iqbal tidak melakukan hal yang merugikan untuk dirinya. Saat tiba di dalam rumah, Kinan melihat Iqbal dan Jeza yang sedang adu tatapan horor. Membuat Kinan memutuskan untuk duduk di antara ke duanya. “Kalian kenapa sih?” tanya Kinan melirik Iqbal lalu Jeza. “Ini bocah bikin gue emosi mulu,” seru Jeza. “Gue itu hanya membantu lo, Monyet. Dan gue bukan bocah!” gerutu Iqbal tidak terima. “Jez, lo bisa gak sih nerima masukan sedikit aja?” Kinan menatap horor pada Jeza. Jeza menunduk. Tak ingin berlama-lama terjebak dalam tatapan mengerikan seorang Kinan. Kinan mirip iblis bertaring jika sudah marah. “Lo harus menerima nasihat orang lain, agar hidup lo gak apes mulu.” Kinan berucap menasihati Iqbal lagi dan lagi. Entah untuk ke berapa kali mengeluarkan petuahnya untuk sesepupunya itu. Iqbal mengangguk membenarkan ucapan Kinan. “Serah kalian deh.” Jeza pasrah. “Jez, perempuan itu udah punya tunangan.” Iqbal memberitahu soal status Seira pada Jeza. Refleks Jeza menoleh ke Iqbal. Keningnya mengerut sempurna. “Dan lo tahu maksud gue. Kalau mereka tahu Seira udah gak suci lagi, bisa aja mereka melepaskannya. Bahkan bisa saja dituduh selingkuh atau apa gitu. Sebelum itu, baiknya lo lakukan sesuatu.” Iqbal menambahkan lagi kalimatnya. Jeza terdiam. Memejam mata lalu menghembuskan napas kasar. “Gue gak peduli!” katanya tanpa perasaan sama sekali. Iqbal dan Kinan hanya bisa saling menatap dan kemudian menghela napas. “Jangan sampai lo menyesal aja, Jez.” Iqbal masih berharap Jeza memiliki niat baik pada Seira. “Karena penyesalan selalu datang terlambat,” timpal Kinan. Ia menarik tangan Iqbal dan meninggalkan Jeza sendirian di ruang tamu! “Sialan!” umpat Jeza.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD