Seira menghembus napas kasar saat kakinya memijak lantai rumah sakit. Ini ketiga kalinya ia mendatangi rumah sakit di mana Brian berada.
Jangan salah tafsir. Brian bukan dokter, bukan juga pemilik Rumah Sakit Medistra, melainkan pasien.
Kekasihnya sudah berada di sana sekitar setahun. Tertidur nyenyak di atas ranjang sederhana di Rumah sakit yang sudah 29 tahun beroperasi tepat berada Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 59 – Setiabudi, Jakarta Selatan, Jakarta, Indonesia 12950.
Seira tidak tahu kenapa kekasihnya itu memilih tidur terlalu lama di sana daripada terbangun dengan senyum cerah dan bercanda seperti dulu kepadanya.
Semua karena salahnya. Memang! Namun, tidak bisakah kekasihnya itu kembali sadar dan tetap memberinya kesempatan kedua?
Lupakan saja!
Seira memilih berjalan terus. Brian dirawat di lantai dua. Semoga saja belum pindah. Karena selama setahun Brian di rawat, hanya tiga kali Seira menjenguk. Bukan karena ia tidak menginginkan menjenguk kekasihnya itu. Siapa yang tidak rindu dengan orang yang dicintai. Masalahnya adalah keluarga dari kekasihnya sangat tidak menyukai kehadirannya di sana apalagi menjenguk Brian.
Sepi!
Tidak ada yang menunggu di depan kamar rawat Brian. Seira segara memutar kenop pintu dan menelisik ke dalam. Tidak ada siapa pun! Ranjang kelihatan sangat rapi seolah tidak pernah ditempati oleh siapa pun. Sepertinya baru saja dibereskan oleh suster yang bertugas.
Jantung Seira berdetak tidak karuan. Tidak mungkin Brian pergi selamanya!
Seira seperti orang kebingungan.
Berlari tanpa peduli jika tubuhnya berapa kali menabrak suster-suster yang melewatinya atau yang beriring. Baginya, mencari Brian adalah hal terpenting.
“Aw!” Seira terduduk di lantai saat menabrak seorang dokter.
“Berhati-hatilah,” tegur dokter cantik itu. Sembari membantu Seira berdiri.
“Maaf, aku terburu-buru.” Seira hendak pergi, tapi tangannya di tahan oleh Dokter itu.
“Kita sepertinya pernah bertemu. Tapi ... di mana, ya?” Dokter itu bingung.
Seira juga ikutan bingung. “Maaf, Dok. Ntar aja bicaranya, aku harus mencari seseorang.” Seira mulai terisak.
“Siapa?” tanya dokter itu lagi.
“Pasien bernama Brian Okantara. Yang kamar rawatnya di–“
“Pasien yang koma selama setahun itu?” potong dokter itu begitu saja..
Seira mengangguk. Dalam hati berharap tidak ada kejadian buruk yang menimpa Brian.
Dokter itu tersenyum. “ Dia sudah sadar dari komanya seminggu yang lalu. Kamu tidak tahu?”
Seira tersenyum di sela tangisnya. Kemudian ia menggeleng.
“Hubunganmu?” tanya Dokter itu ambigu.
“Brian dan aku pacaran. Em ... tepatnya kami sudah bertunangan,” cicit Seira ragu. Ragu akan status setelah dia kehilangan banyak waktu dengan Brian.
“Pindah ke rawat inap biasa. Kamar 209. Aku baru dari sana.” Dokter cantik itu menunjuk ke arah dari mana ia datang.
Seira mengangguk. “Terima kasih.”
Tidak menunggu jawaban dari sang dokter. Seira meluncur bebas begitu saja menuju kamar yang diberitahu dokter cantik itu.
Hanya butuh waktu sebentar, Seira menemukan kamar 209. Seira membasahi bibirnya sedikit. Lalu, memutar kenop pintu dan ia tersenyum manis saat melihat Brian yang sedang duduk manis di atas ranjang.
“Brian!” teriak Seira menyapa. Berlari memeluk Brian tanpa memberi akses kabur untuk Brian. Ia bahagia bukan main! Akhirnya tunangannya itu terbangun dari koma yang berkepanjangan!
Brian hanya terdiam tanpa membalas pelukan Seira.
“Brian. Kamu sudah siuman?” tanya Seira melepas pelukannya. Menyentuh wajah pucat Brian yang belum pulih seutuhnya kekuatan lelaki tampan itu.
Sebenarnya pertanyaan itu tidak layak ditanyakan karena Brian memang sudah siuman.
Brian menepis tangan Seira. “Kenapa lo baru datang sekarang? Lo tahu, gue sudah siuman dari seminggu yang lalu, tapi lo gak pernah nongol. Bahkan mama bilang, setiap kali menghubungi nomor lo, lo selalu mematikan. Ada apa?”
Seira melotot. Oke, ia salah karena baru datang. Namun, bukan kesalahan dia sepenuhnya. Toh, orangtua Brian tidak menginginkan dia di sana. Soal menghubungi nomornya, itu kebohongan. Orang tua Brian tidak pernah melakukan itu.
Sangat pandai mengotori otak putra mereka.
“Dan, mama juga bilang, selama gue koma, lo Cuma datang sekali dan itu pun lo hanya mau memastikan apa aku masih hidup atau mati. Kenapa lo jahat banget?” Brian menggoyangkan tubuh Seira kuat.
Seira tidak mengatakan apa pun. Keluarga Brian telah menyusun rencana begitu matang untuk menyingkirkannya dalam hidup si tampan itu.
“Apa lo belum puas membuat gue kecelakaan? Padahal, gue begitu mencintai lo, tapi kenapa lo begitu jahat ke gue. Gue rela mati gue demi lo. Tapi itu dulu, sekarang gue menyesal karena gue menghabiskan waktu gue sia-sia.” Brian marah padanya.
“Aku tidak seperti itu, Brian. Aku datang menjenguk kamu, tapi ... mama dan–“
“Dan apa? Kamu mau buat lelucon apa untuk Brian? Jangan kacaukan otaknya. Dia baru sadar! Kondisi fisiknya belum pulih sepenuhnya. Jangan kacaukan!” Mamanya Brian memotong ucapan Seira. Perempuan yang baru masuk itu mendorong Seira hingga membentur meja.
“Tante, kenapa memfitnah aku begitu kejam?” Seira benar-benar menangis.
Bukan ini yang dia harapkan!
“Memfitnah apa? Kenyataannya memang begitu, bukan? Kau tidak pantas lagi berada di keluarga kami. Ah, padahal, sebelum kejadian ini terjadi, aku sudah berniat menyetujui hubungan kalian. Tapi sekarang gak.” Mamanya Brian berucap penuh kebohongan. Membalikkan fakta yang ada dan seolah Seira uang salah dalam segala hal.
Seira mengepalkan jari-jarinya.
“Brian, dengarkan aku. Mama kamu bohong.”
“Pergilah. Mulai sekarang, hubungan kita berakhir. Lo dan gue benar-benar berakhir.
Seira hendak mendekat pada Brian, tapi mama dari kekasihnya yang sebentar lagi jadi mama dari mantan kekasihnya itu menahan dan mendorong kuat hingga membuat Seira jatuh karena tak seimbang.
“Jangan sampai saya kasar ke kamu!” peringat mamanya Brian.
Seira menatap perempuan itu lalu beralih ke Brian.
“Baiklah, aku anggap ini jeda sebentar supaya kita bisa saling merindu. Aku juga ingin bilang, aku akan menghabiskan waktu merinduku di Medan. Jam 16:00 aku akan berangkat.”
Brian tidak menyahut.
“Maaf, karena aku telah membuatmu terluka,” pamit Seira bersamaan dengan air matanya.
Cinta yang begitu menyakitkan!
****
Seira duduk di bangku tunggu yang ada di bandara Soekarno Hatta. Menatap fokus pada tiket penerbangan. 15:00 WIB, itu yang tertulis di kertas yang ukurannya tidak begitu lebar itu.
Dalam hati, Seira berharap tidak ada kendala pada penerbangannya ini. Semoga cuaca mendukung meskipun hatinya dalam keadaan kacau sekali pun.
Mengambil earphone menyambungkan ke ponselnya. Tangannya mengutak atik aplikasi musik, memilih mendengarkan lagu milik K.Will yang judulnya ‘Hello, Auntumn’. Lagu yang alunan melodinya yang begitu indah, seolah mengiris tepat di jantung hati.
Seira menjatuhkan bulir air matanya. Entah kenapa belakangan ini ia sangat suka mendengarkan lagu dari negeri penghasil boyband terbanyak di dunia itu.
Kemampuan tidak membohongi hasil. Suara penyanyi solo itu emang luar biasa sangat keren.
Seira berharap bisa bertemu dengannya.
Meskipun itu terdengar mustahil!
“Ke Medan, ya, Nak.” Seorang Ibu duduk di samping Seira. Seira sedikit terkejut, lantaran perempuan yang usianya mungkin enam puluh tahun itu memegang bahu Seira.
“Iya, Nek. Kenapa?” Seira melepas sebelah earphone-nya.
“Nenek juga. Tapi, nenek gak berani naik pesawat sendiri.”
“Anak Nenek?” tanya Seira pelan.
“Mereka di Medan. Dan ....” Bulir air mata jatuh dari mata yang auranya sedikit kelam.
“Dan apa?” Lagi-lagi Seira menanyakan hal yang seharusnya bukan urusannya.
“Meninggal karena kecelakaan. Cucu Nenek baru memberitahu setelah tiga hari dimakamkan.” Air mata semakin merembes keluar dari mata itu.
Seira tidak bisa berkata apa-apa. Ternyata ada kisah yang lebih menyedihkan dari kisahnya. Tuhan selalu memiliki cara beda untuk menguji kesabaran makhluk ciptaannya.
“Nenek boleh minta tolong?”
Seira mengangguk.
“Saat tiba di bandara Kualanamu, tolong antarkan Nenek ke alamat ini.”
Seira mengambil alamat di kertas kecil itu. Membaca sesaat dan kemudian mengangguk. Tidak terlalu sulit mencari alamat itu. Jika kesulitan, bisa ia tanyakan pada orang-orang di pinggir jalan. Tidak susah.
“Baik, Nek.” Seira tersenyum. Nenek itu pun ikut tersenyum.
“Farida. Itu nama saya! Panggil aja Oma.”
Seira mengangguk.
“Baiklah, Oma.”
“Kamu asli sana?” tanya Oma Farida.
Seira mengangguk. “Mama saya campuran Nias-Mandailing. Papa saya suku Melayu.”
Oma Farida tersenyum. “Perpaduan yang indah. Yang oma tahu, suku Nias itu cantik-cantik layaknya orang China.”
Seira tersenyum menanggapinya.
“Oma keturunan apa? China?” Seira iseng bertanya.
“Jawa-Sunda. Suami oma, Batak!” Terkekeh karena ucapannya sendiri. “Dia gak ada gantengnya sama sekali. Tapi, dia itu berjuang untuk rakyat. Seorang tentara! Anak Oma paling kecil juga tentara. Bentar lagi udah mau nikah.”
Seira hanya mengangguk. Betapa senangnya hidup Oma Farida.
“Oma salah. Anak Oma yang paling kecil perempuan.” Lagi-lagi terkekeh. “Cucu Oma yang mau nikah.” Kembali membenarkan kalimatnya.
Seira tersenyum. “Aku mengerti kok, Oma.” Seira mengelus tangan Oma Farida.
“Makasih ya, Cu. Oma senang bisa mengenal kamu.”
Memeluk Seira erat. Seira ikut membalas pelukan itu. Dan sejenak rasa hangat mengalir, bahkan kesedihan akibat ulah keluarga Brian teralihkan begitu saja. Tulus cinta memang benar-benar beda dan mampu mendatangkan rasa yang lain.
Seira melepas pelukannya dari Oma Farida. Bersandar pada kursi tunggu. Begitu juga dengan Oma Farida.
Tidak lama panggilan untuk penerbangan ke Medan terdengar. Seira membantu tangan Oma Farida dan menenteng tas jinjing milik sang Oma. Kemudian menyeret koper miliknya sendiri. Emang kelihatan sulit, tapi Seira senang saja. Ia sudah terlanjur berjanji, jadi ia harus melaksanakannya.
Jarak duduk Seira dan Oma Farida cukup jauh. Seira berada di kursi depan sedang sang oma berada di bagian belakang. Seira tersenyum melambai pada Oma Farida yang sedang menatap Seira serius.
“Nanti kita sama turunnya!” teriak Seira.
Oma Farida mengangguk.
Dan setelah itu, seorang Pramugari datang, memberi aba-aba agar segera pada posisi masing-masing dan mengenakan sabuk pengaman.
Setelah itu, pesawat lepas landas!