Setelah pesawat mendarat, Seira buru-buru mendekati Oma Farida, kemudian turun bersama sembari menggandeng tangan sang Oma.
Setelah urusan selesai di bandara, Seira menyeret Oma Farida menuju taksi online yang sudah ia pesan saat turun dari pesawat. Memasukkan barang-barang mereka ke dalam bagasi lalu kembali membimbing Oma Farida ke mobil.
“Alamat sesuai yang tadi, Mbak?” tanya sopir taksi online lagi.
Seira mengangguk.
“Apa itu perumahan?” tanya Seira.
“Saya kurang paham, Mbak.”
Seira menaikkan sudut bibirnya kesal. Sopir taksi tapi tidak yakin dengan alamat yang dituju.
Lantas ekor matanya menatap Oma Farida yang tertidur pulas bersandar pada bahunya. Perempuan tua yang cantik meskipun sudah berumur itu kelihatan sangat lelah. Seira sedikit menebak, nenek tua itu seperti menyimpan luka yang teramat dalam.
Seira membuang pikiran buruknya. Itu hanya tebakan, belum tentu benar.
Setelahnya, merogoh saku celana jeans yang ia kenakan untuk mengambil ponselnya.
Satu chat masuk dan itu dari atasannya, Iqbal.
“Datanglah bekerja besok. Gue janji gak bakalan membahas soal apa yang terjadi antara lo dan Jeza.”
Seira menimang-nimang, apa perlu ia balas atau tidak. Sudah ia putuskan untuk menetap di Medan, mencari kerja di sana dan memulai hari yang baru. Toh, di Jakarta ia tak punya harapan lagi.
Brian sudah menjadi asing dan masa lalu!
Ponselnya kembali berbunyi. chat kembali masuk, tapi dari nomor yang berbeda.
“Seira, ini gue Kinan. Gue harap kita bisa bicara secepatnya. Ini sangat penting!”
Seira ingat siapa Kinan. Sepupu dari lelaki yang telah menghancurkan masa depannya. Apa lagi yang mau dibicarakan oleh perempuan itu?
Masa depan? Apa kehancuran?
Seira hendak menyimpan ponselnya. Namun, lagi-lagi ponselnya berbunyi.
“Gue rela bersujud di kaki lo demi sepupu berengs3k gue itu.”
Hati Seira terenyuh. Jeza tidak peduli sama sekali, tapi Kinan? Sepupu yang luar biasa. Mereka malah terlihat seperti saudara kandung.
Seira terpaksa membalas pesan itu untuk Kinan.
“Tidak ada yang perlu dibicarakan. Tidak perlu bersujud di kakiku. Aku akan melupakannya. Aku kembali ke kampung halaman.”
Seira menyimpan ponselnya. Semoga Kinan mengerti. Tidak ingin menambah masalah dengan masalah baru lagi.
“Mbak, kita sudah sampai.”
“Oh!” Seira mengedarkan pandangannya ke luar melalui jendela kaca. Mereka berada di kompleks perumahan.
Segera Seira membangunkan Oma Farida
“Oma, kita sudah sampai.”
Oma Farida membuka mata perlahan. “Benarkah?”
Seira mengangguk. Segera turun dari taksi dan mengambil barang-barang dari bagasi. Setelah itu membayar taksi lalu membimbing oma turun dari taksi.
Kemudian taksi berlalu.
Seira sedikit kebingungan. “Oma, rumah anak Oma yang mana?”
Oma Farida menggeleng. Seira membulatkan matanya, mulutnya menganga. Kenapa Oma Farida tiba-tiba menggeleng.
“Oma lupa?”
Oma Farida menggeleng.
“Lah?” Seira mengacak rambutnya frustrasi. Jika begini, yang ada malah nyasar.
Perumahan itu terlalu sepi. Seira melirik kanan dan kiri, senyum merekah saat melihat penjaga perumahan berjalan ke arah mereka. Mungkin satpam itu menyadari kebingungan mereka.
“Cari alamat rumah siapa, Dek?” Satpam itu lumayan ganteng, bertanya pun dengan nada sopan.
Seira mengguncang pelan tangan Oma Farida. “Katakan, Oma.”
Oma Farida mengambil selembar foto dalam tas kecilnya, menyerahkan kepada satpam itu.
Satpam tampan itu tersenyum sendu kepada Seira.
“Ada apa, Mas?” tanya Seira bingung.
“Ini kan satu keluarga sudah meninggal setahun yang lalu.”
“What?” Nada suara Seira meninggi. Sumpah, ia tidak tahu jika orang Oma Farida cari sudah meninggal.
“Mereka dibunuh saat malam. Satu keluarga. Tanpa sisa. Bapak ini tentara, putranya tentara dan istrinya ibu rumah tangga biasa.”
Seira membungkam mulutnya. Takdir apa lagi yang ia jalani kali? Kenapa harus berurusan dengan hal semacam ini?
Seira menoleh pada Oma Farida. Seira tidak tega memarahi Oma apalagi saat mata indah itu sudah berair.
“Apa rumah itu masih atas nama keluarga yang ada di foto itu?
“Setahu saya, rumah itu sudah dijual sama anak perempuan pak Ali Akbar.”
Seira mengentakkan kakinya ke lantai. Lalu, ia harus menitipkan Oma Farida ke mana? Sedangkan hidupnya saja di Medan belum jelas. Tempat tinggal belum tentu ia dapatkan. Hanya tekad untuk kembali ke kampung halaman.
Ibunya sudah lama meninggal, dan papanya sudah menikah lagi dengan perempuan kaya raya. Bahkan Seira tidak pernah dianggap saat berada di sana. Lebih mirip pembantu daripada anak.
Lantas?
“Oma, oma punya saudara lain? Oma bilang tadi, anak Oma baru meninggal tiga hari lalu dan cucu Oma baru ngabarin, mereka tinggal di mana?”
Oma Farida menggeleng. “Oma tidak tahu. Oma hanya punya satu anak. Mereka baru meninggal.”
“Dek, sepertinya Oma ini memiliki gangguan ingatan. Jangan ditinggal ya Dek, ntar malah dimanfaatin sama orang yang gak bertanggung jawab.”
Seira menghembuskan napas kasar. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah terlalu sore bahkan sudah hampir petang.
Tidak ada pilihan lain.
“Oma, ayo ikut Seira.”
Oma Farida mengangguk.
****
Seira membawa Oma Farida ke tempat di mana dulu ia pernah tinggal, di jalan SM.Raja dekat Yuki Simpang Raya. Memilih kos di sana untuk beberapa hari hingga ia punya keberanian untuk kembali ke Jakarta mengantar Oma Farida.
“Oma tunggu di sini, ya?” Seira menyuruh Oma Farida duduk menunggu di kursi kosong yang ada di ruang depan kos. “Jangan ke mana-mana,” peringat Seira.
Oma Farida mengangguk. Seira buru-buru masuk ke dalam mencari seseorang yang dikenal.
“Mbak Ila,” sapa Seira.
Perempuan bernama Ila itu menoleh. “Seira.”
Seira mengangguk.
“Kapan datang dari Jakarta?”
“Baru, Mbak. Oh iya, mami Arin mana?”
“Mau ngekos?” tanya Ila.
Seira mengangguk.
“Kamu terlambat. Baru aja kamar yang sebulan lalu kosong, ditempati lagi. Kamar penuh.”
“Benarkah?”
Ila mengangguk.
Seira menunduk. Ya Tuhan, kenapa sangat sulit. Mereka harus tidur di mana malam ini?
“Makasih, Mbak. Aku pamit.”
“Eh, tunggu.”
“Ya?”
“Kenapa ngekos lagi di sini? Bukannya kamu di Jakarta tinggal?”
Seira menggaruk tengkuknya. “Untuk beberapa hari aja. Ada urusan di Medan.” Seira berbohong.
Kemudian buru-buru pergi dari sana.
“Oma,” panggil Seira lemah.
Oma Farida menyodorkan dompetnya dan juga buku ATM beserta buku tabungan. Seira mematung karena tidak paham.
“Di dompet ada uang tunai. Itu ATM Oma, isinya tidak seberapa. Seira bisa pakai untuk kita menginap di hotel malam ini.”
Jantung Seira seolah berhenti berdetak. Apalagi saat mengintip isi dompet. Tebal bukan main! Seira yakin, uang dalam dompet itu lumayan banyak.
“Pin ATM pakai angka 123456.”
Seira belum bereaksi.
“Oma sangat mengantuk.”
Seira terperanjat kaget saat Oma Farida mengelus pucuk kepala Seira.
“Maafkan Oma. Oma lupa kalau anak sama cucu Oma udah meninggal setahun yang lalu.”
Seira membawa Oma Farida dalam pelukannya. Ia tahu, bukan niat hati perempuan tua itu mempermainkan dirinya.
“Oma tidak punya siapa-siapa lagi. Cucu Oma yang di Jakarta tidak peduli dengan Oma.” Mata Oma Farida berkaca-kaca.
“Mungkin mereka butuh waktu, Oma.” Seira mencoba menenangkan.
Oma Farida menggeleng. “Seira mau tinggal bersama Oma? Di Jakarta?”
Seira tidak menyahut.
“Oma akan memenuhi kebutuhan Seira.”
“Oma, kita cari penginapan dulu ya. Ntar lagi bahas soal ini.”
Oma Farida mengangguk. “Baiklah.”
Seira tersenyum kikuk.