Kinan menyeret koper warna biru laut miliknya dengan susah payah. Terlalu besar padahal mereka tidak akan lama di Medan, sekitar seminggu. Namun, Kinan membawa begitu banyak, seolah ia akan menetap di sana sehingga semua isi lemari ia bawa ke kota yang penuh dengan suku batak dan melayu itu. Iqbal hanya tertawa melihat kesusahan Kinan. Lelaki tampan itu hanya menenteng ransel yang menampung beberapa pasang baju saja. Iqbal berencana membeli pakaian di Medan saat mereka tiba, itu pun jika ia kekurangan. Cukup bawa ATM yang isinya memadai, cukup untuk membeli beberapa helai baju mewah dan mahal. Dasar Iqbal. “Sini ... gue bantu,” tawar Iqbal saat mereka memasuki ruang tunggu di bandara Soekarno Hatta sebelum terbang. Kinan memutar bola matanya kesal. Sudut bibirnya naik. “Woi, terlambat

