Bab 9 - Anak Yang Tumbuh Sendiri

1020 Words
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya Arga dan Jenna sampai di rumah. Kedatangan keduanya langsung disambut hangat oleh Ratna. "Mama seneng banget kamu mau main ke sini, Arga. Apalagi sampai bawain Tante bunga mawar kayak gini. Rasanya udah lama banget nggak ada seseorang yang kasih Tante bunga secantik ini." Arga tertawa pelan. Melihat senyum di wajah Ratna membuat Arga ikut senang. Begitu pun dengan Jenna. Senyuman mamanya sangat jarang dia lihat, dana hari ini Arga membuat mamanya tersenyum selebar itu. "Arga, kamu makan malam di sini ya." Arga menganggukkan kepala pertanda setuju dengan ajakan mama Jenna. Pandangan Jenna beralih pada Jenna, putrinya. "Jenna, kamu temenin Arga dulu. Mama bantu mau bantu bibik siapin makan malam dulu." Jenna tersenyum tipis seraya menganggukkan kepalanya. Sekarang hanya ada Arga dan Jenna, suasana mendadak hening semala beberapa saat "Arga, makasih ya. Hari ini kamu udah bikin mama aku seneng." Arga tersenyum tipis, dia bahkan jauh lebih seneng kalau berhasil membuat Jenna dan mamanya kembali merasa hidup dan ceria seperti sebelumnya. "Aku jauh lebih seneng saat lihat mama kamu bahagia. Dengan begitu, kamu pasti akan ikut bahagia, kan?" Jenna menganggukkan kepalanya. Tak lama kemudian, suara deru mobil terdengar berhenti tepat di depan rumah. Jenna refleks menoleh ke arah jendela, lalu melirik jam dinding yang baru menunjukkan pukul lima sore. Tumben papa pulang cepat? Gumam Jenna dalam hati. Beberapa detik kemudian, suara gesekan sepatu memenuhi teras, langkah yang sangat familiar bagi Jenna. Benar saja, Bagas muncul di ambang pintu dengan wajah sedikit terkejut melihat ada tamu. "Arga, kamu di sini?" tanyanya, nada suaranya datar tapi wajahnya sangat jelas menunjukkan bahwa dia tidak menyangka kalau Arga ada di sini. Arga yang melihat kedatangan Bagas langsung menegakkan tubuh. "Iya, Om. Saya pengin main ke sini." "Saya sangat senang, Arga. Dengan begini, hubungan kalian pasti akan terus erat. Jenna, papa senang kamu bisa membangun hubungan yang baik dengan Arga." Jenna tak menjawab. Ujung mata Arga mengarah ke Jenna. Dia bisa melihat jelas bahwa Jenna tidak nyaman dengan papanya sendiri. "Yaudah, kalian lanjutin ngobrolnya. Jenna, kamu temanin Arga. Papa bersih-bersih dulu dan ganti baju. Arga, kamu makan malam di sini, ya." "Iya, Om." Bagas berlalu begitu saja, dia melangkahkan menaiki satu persatu anak tangga, setelah Bagas menghilang dari pandangan, Arga berbalik menatap Jenna. "Kamu baik-baik aja?" Jenna mengembuskan napas resah. Sekarang bertemu papanya justru seperti beban. Terlebih tak ada raut bersalah bahkan penyesalan dari wajah sang ayah, hal itu membuat Jenna merasa semakin muak. Andai saja papanya itu mau mengakui kesalahannya dan minta maaf pada mamanya, pasti Jenna akan merasa sedikit lebih lega. Setidaknya ada penyesalan dari papanya karena telah berkhianat. Untuk kedepannya, Jenna tidak bisa memprediksi apa-apa. Terlebih ketika anak haram papanya itu dimasukkan ke dalam rumah ini. "Ga, kamu di sini sebentar gapapa? Aku mau ke kamar mandi sebentar." Bukannya menjawab pertanyaan Arga, Jenna malah pamit untuk ke kamar mandi "Iya, gapapa." Jenna langsung pergi begitu saja. Tak lama Ratna kembali datang membawakan segelas jus jeruk untuk Arga dan Jenna. Namun keningnya mengkerut saat melihat hanya ada Arga di atas sofa. "Lho, Jenna ke mana, Ga?" "Lagi ke kamar mandi, Tante." "Ohhh... Oh iya, ini Tante bikin jus jeruk buat kalian." "Makasih, Tante. Maaf ngerepotin." "Nggak ngerepotin sama sekali, Arga. Mama justru senang melakukan ini. Kamu calon suami Jenna. Itu artinya kamu akan jadi anak laki-laki Mama juga." Hati Arga terenyuh mendengarnya. "Tante, aku boleh bicara?" "Bicara tentang?" "Om Bagas dan perempuan simpanannya." "Arga, kamu--- kamu tau dari mana?" "Jenna udah cerita semuanya." Ratna terdiam, dia tidak menyangka kalau Jenna bisa menceritakan itu semua pada Arga. Ratna sangat mengenal anaknya, Jenna tidak pernah asal cerita permasalahan keluarganya pada siapa pun. Apalagi rahasia besar seperti ini. Kalau Jenna sampai menceritakannya pada Arga, itu artinya Jenna sudah sangat mempercayai Arga. "Jenna bilang Tante bersedia membesarkan anak itu?" Ratna hanya mengangguk pelan "Maaf kalau aku terlalu ikut campur. Tapi tindakan Tante melukai Jenna." "Melukai Jenna?" "Dia kehilangan kakaknya, dia juga kehilangan keluarganya, Tante selalu disalahkan atas kematian Genta, kan?" Kedua bola mata Ratna terpejam selama beberapa saat. Kalimat Arga seolah menyentuh titik yang sangat sensitif "Selama ini Tante sudah terlalu larut dalam kesedihan sampai tanpa sadar Tante sudah mengabaikan Jenna. Jenna tumbuh sendiri, dia kehilangan mama dan papanya. Jenna benar-benar sendirian, Tante. Dia seolah-olah nggak punya siapa-siapa untuk melindungi dirinya." Arga menarik napasnya dalam-dalam. "Dia bahkan nggak bisa berbuat apa-apa di atas kekuasaan ayahnya. Dijodohkan dengan aku, itu juga bukan atas kemauannya. Lantas sekarang Tante bersedia mengurus anak perempuan simpanan itu? Apa Tante nggak kasihan sama Jenna?" Ratna merasa dadanya seperti dihimpit beban berat. Pertahanannya seakan mulai goyah. "Arga, Mama cuma mau menebus kesalahan Mama." "Apa menebus kesalahan harus mengorbankan Jenna?" Ratna tersentak mendengar. Perkataan itu menghantam tepat di pusat hatinya. Ratna sadar selama ini dia sudah menutup mata atas luka yang juga Jenna rasakan, dan itu adalah hal yang paling takut untuk ia akui. "Tante nggak boleh kalah. Tante harus benar-benar bangkit. Lakuin itu buat Jenna. Kita sama-sama melindungi Jenna. Berikan dia hal yang selama ini sudah hilang." Kata-kata itu mengguncang Ratna. Air mata jatuh tanpa bisa ia tahan, sementara Arga melihatnya dengan penuh empati. Pelan-pelan Rata menganggukkan kepala, Arga benar, selama ini dia sudah terlalu membiarkan dirinya tenggelam. "Tentang Jeongha Corp. Aku tahu itu bukan milik om Bagas. Perusahaan itu adalah milik keluarga Tante, Jadi Jenna yang paling berhak untuk mendapatkan perusahaan itu. Aku akan bantu Tante untuk merebutnya kembali." Ratna menutup mulut dengan tangannya, tak percaya Arga bisa tahu sejauh itu. Sesuatu yang selama ini tidak pernah dia ceritakan pada siapa pun. "Arga, kamu tahu dari mana?" "Itu semua nggak penting, Tante." Kata Arga. "Intinya aku bakal mengusahakan agar semua kembali pada tempat semestinya. Tante mau pun Jenna nggak berhak terus-terusan ada dibawah tekanan om Arga." Ratna menatap Arga cukup lama. Sekali lagi, Ratna benar-benar yakin bahwa Arga satu-satunya yang bisa menyayangi Jenna setelah dirinya. "Mama bersyukur kamu ada di hidup Jenna, Arga. Mungkin papa Jenna tidak sebaik itu, tapi lewat dia, Jenna bisa bertemu orang baik seperti kamu." Arga yang mendengarnya hanya bisa tersenyum tipis. Meski tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, Arga akan tetap berusaha dan memastikan Jenna dan ibunya aman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD