Bab 8 - Tempat Berbagi

1002 Words
Karena kabar yang diberikan papanya tadi pagi membuatnya tidak tenang, Jenna memilih untuk mengajak Arga bertemu dan menanyakan kebenaran pertunangan itu. Jenna sudah sampai di sebuah kafe yang tak jauh dari kampus mereka. Selang beberapa menit Arga pun akhirnya tiba. Pria itu kini duduk di hadapannya dengan senyum yang mengembang. Sementara Jenna masih memasang wajah datar tanpa ekspresi. "Kamu mau bicarain apa?" tanya Arga penasaran "Apa bener kamu pengin pertunangan kita dipercepat? Kenapa kamu nggak ngasih tahu aku? Kenapa ini terjadi secara tiba-tiba? Apa ini jebakan kamu?" Arga terkekeh pelan melihat kekhawatiran yang memancar jelas di wajah Jenna. "Kamu bicara apa sih, Jen." "Papa aku yang bilang. Kamu pengen pertunangan ini dipercepat. Maksudnya apa?" Terdengar helaan napas dari mulut Arga. "Jenna, dari kemarin-kemarin aku udah bilang kalau aku bakal melindungi kamu dari orang-orang serakah itu. Apalagi setelah insiden mama kamu pergi dari rumah. Meski aku nggak tahu permasalahannya, tapi aku tahu itu semua pasti sangat memberatkan kamu. Dengan cara bertunangan secepatnya, aku bisa memprioritaskan kamu untuk aku lindungi. Begitupun dengan Mama kamu. Aku akan melindungi kalian berdua dari Om Bagas." Jenna masih belum bersuara. Kalimat Arga membuat hatinya tersentil. Ada seseorang yang ingin melindungi mamanya? Dan kepedulian Arga membuat Jenna ingin menceritakan apa yang terjadi di dalam rumahnya. Tentang perselingkuhan papanya yang bahkan akan memiliki anak dari wanita lain. "Kenapa kamu nggak bilang sama aku." "Hari ini aku mau bilang, tapi ternyata papa kamu lebih dulu sampaiin itu ke kamu." Kata Arga, Jenna masih diam dan belum bersuara "Kamu jangan khawatir, aku bukan bagian dari mereka. Aku bisa melindungi kamu sebagai seorang adik, teman bahkan sahabat." Kini dua pasang mata itu saling bertemu. Otak Jenna belum bisa sepenuhnya percaya, tapi anehnya hatinya bisa percaya hanya dengan tatapan yang Arga berikan. "Sebenarnya banyak hal yang bikin aku khawatir dan ngerasa banyak serangan dari segala sisi." Ucapan Jenna berhasil membuat Arga menangkap sesuatu. Arga yakin pasti ada hal lain yang sedang memberatkan hidup perempuan itu. "Dengan cara kamu bikin keputusan untuk mempercepat pertunangan, jujur aja aku curiga kalau kamu punya maksud lain." "Jenna, kita ada di posisi yang sama, harus terjebak dalam langkah orang-orang licik itu. Kita cuma punya satu sama lain untuk bisa melawan mereka. Sekarang kasih tau aku apa yang bikin kamu ngerasa diserang dari segala sisi?" Jenna menghirup udara sebanyak-banyaknya, rasa sesak di dalam dadanya semakin menghimpit dan membuat pasokan udara terasa semakin menipis. "Papa aku selingkuh." Ucap Jenna lirih, sangat lirih seperti seseorang yang kehabisan tenaga hingga tak punya banyak tenaga untuk bersuara. "A--apa?" "Aku yakin hal itu bikin mama pergi dari rumah, bahkan papa aku udah menikahi perempuan itu diam-diam, bukan cuma itu, perempuan itu hamil." Jenna menunduk, tangannya mulai meremas baju yang dia kenakan. "Papa minta agar anak perempuan itu masuk ke dalam rumah aku dan dijadikan anak secara resmi. Mama aku harus mengurus anak itu sebagai pengganti kak Genta." Arga menelan ludah secara kasar. Ternyata ayah Jenna benar-benar sangat bermasalah. "Gimana respon tante Ratna?" "Mama setuju. Lebih tepatnya mama aku nggak punya opsi lain selain setuju dengan keputusan papa." Arga terdiam cukup lama. Napasnya terasa berat, seperti ikut merasakan sesak yang menjerat Jenna. Tatapannya turun ke kedua tangan Jenna yang meremas ujung bajunya seakan itu satu-satunya pegangan agar ia tidak runtuh saat itu juga. "Jen… sini," suara Arga terdengar lebih lembut dari sebelumnya. Ia menggeser kursinya sedikit mendekat, tapi tetap memberi jarak agar Jenna tidak merasa terpojok. "Lihat aku." Perlahan Jenna mengangkat wajahnya. Matanya memerah, menahan sesuatu yang sejak tadi ia paksa untuk tidak jatuh. "Kamu tahu nggak?" Arga menghela napas. 'Nggak ada manusia yang pantas diperlakukan sekejam itu, apalagi kamu dan Tante Ratna. Papa kamu udah keterlaluan." Jenna mengatupkan bibirnya erat, kalau ia buka sedikit saja, ia takut suara tangisnya bakal pecah. "Aku tahu kamu berusaha kuat," lanjut Arga, nada bicaranya semakin dalam, "tapi kamu nggak harus pura-pura baik-baik aja di depan aku." "Kalau mama aku... kalau mama suatu hari capek dan pergi lagi, gimana?" suara Jenna bergetar. "Aku cuma punya Mama, Ga. Cuma mama satu-satunya yang aku punya." Arga langsung menggeleng cepat. "Nggak. Sekarang kamu punya aku juga." Jenna terdiam. "Aku serius," lanjutnya lagi, menatap Jenna tanpa berkedip. "Kalau kamu takut, bilang sama aku. Kalau mama kamu butuh bantuan, aku bakal bantu. Kalau kamu ngerasa sendirian, kamu tinggal cari aku. Bahkan tengah malam sekalipun." Jenna menghela napas berat, suaranya lirih. "Aku cuma benci kenyataan bahwa aku bahkan nggak bisa ngapa-ngapain. Papa aku seakan bisa ngatur semua orang sesuai kemauannya." "Tapi dia nggak bisa ngatur kamu lagi," tegas Arga. "Dan dia nggak akan bisa nyentuh kalian kalau aku ada." Jenna menatapnya. "Kamu ngomong gitu kayak kamu yakin banget bisa ngelawan papa aku." "Aku mungkin bukan siapa-siapa,tapi aku nggak bakal mundur kalau itu soal kamu. Mau dia pakai kekuasaan, aku tetap akan berdiri di pihak kamu.' Jenna memejamkan mata sesaat. Ada sedikit ruang lega di dadanya. "Jadi," Arga menyandarkan punggungnya ke kursi, suaranya lebih tenang, "kita percepat pertunangan bukan karena aku punya maksud lain. Tapi karena aku butuh kamu berada di sisi yang aman." Jenna membuka mata, menatap Arga yang kini terlihat jauh lebih dewasa dibanding lima menit lalu. "Aku nggak akan biarin kamu hadapi ini sendirian," katanya pelan. "Sampai kapan pun." Kata-kata itu, entah kenapa menjatuhkan satu tetes air mata yang sejak tadi Jenna tahan. Ia buru-buru menghapusnya, tapi Arga sudah melihatnya. Dan bukannya menertawakan atau berpura-pura nggak melihat, Arga hanya berkata satu kalimat yang membuat d**a Jenna kembali bergetar pelan: "Mulai sekarang, bagi beban kamu sama aku. Mau sekecil apa pun itu." Jenna tersenyum getir melihat kepedulian Arga padanya. "Makasih ya, Ga." Arga menganggukkan kepalanya. "Sama-sama." Arga Melur jam yang ada di tangannya. "Kamu udah nggak ada kelas, kan? Aku antar pulang ya." "Nggak apa-apa, Ga. Aku pulang sendiri aja. Nanti malah ngerepotin kamu." "Nggak ngerepotin sama sekali. lagipula aku pengin ketemu mama kamu." "Ketemu mama aku?" "Hemm, ada hal yang mau aku bicarain." "Tentang?" "Rahasia. Nanti, kamu bakal tahu sendiri." Kedua bola mata Jenna mendelik. Arga mendadak menyebalkan. Padahal tadi pria itu membuatnya tersentuh. Tapi sekarang tiba-tiba dia malah berubah menjadi pria yang menyebalkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD