Bab 7 - Dipercepat?

1028 Words
Bagas tiba di restoran dengan napas sedikit tertahan. Ada rasa khawatir yang menganggu pikirannya karena Arga mengajaknya bertemu secara mendadak yang katanya ingin membahas perihal pertunangannya dengan Jenna. Bagas terus melangkah memasuki private room dan di sana Arga sudah menunggunya. Begitu Bagas masuk, Arga berdiri sebentar sebagai bentuk hormat. "Silakan duduk, Om." Bagas duduk perlahan, mencoba tetap tampak tenang meski pikirannya berkecamuk. "Ada apa, Arga? Kenapa tiba-tiba kamu ingin membahas pertunangan dengan Jenna? Apa Jenna lakukan kesalahan?" Arga langsung menggeleng. "Tidak, Om. Jenna sangat baik." Jawab Arga tegas Bagas menunggu kelanjutannya dengan tatapan menahan. "Saya justru merasa… cocok dengan Jenna," lanjut Arga pelan. "Karena itu saya ingin pertunangan kami dipercepat." Sebentar saja, hanya satu detik, tetapi cukup untuk membuat d**a Bagas terasa lega. Lega yang bukan berasal dari kebahagiaan seorang ayah, melainkan untuk kepentingan pribadinya.Pernyataan Arga terasa seperti pintu keluar yang tiba-tiba terbuka. Bagas menahan napas, menyembunyikan gejolak kecil di dadanya. "Dipercepat?" ulangnya dengan suara lebih halus, seolah masih mencerna kabar baik. Arga mengangguk sopan. "Ya, Om. Keluarga saya setuju." Keheningan singkat tercipta. Bagas menatap meja, seolah sedang mempertimbangkan. Padahal yang ia pertimbangkan bukan perasaan putrinya, melainkan angka, laporan keuangan, dan perusahaan yang masih ia genggam dengan sisa tenaga. Ketika Bagas kembali menatap Arga, sorot matanya sudah berbeda, lebih lembut, namun juga lebih dalam. "Kalau begitu… saya sangat menghargai keputusan itu, Arga," ucap Bagas, suaranya rendah tetapi penuh makna. "Kamu tidak tahu betapa banyak hal akan terasa lebih mudah jika semuanya dipercepat. Jadi kapan kira-kira waktunya?" "Minggu depan ." Bagas kembali tersenyum tipis "Baiklah," katanya lirih. "Saya akan bicara dengan Jenna." Kurang lebih tiga puluh menit berlalu pertemuan itu pun benar-benar usai. Bagas pergi lebih dulu, langkahnya terdengar tergesa. Kini hanya Arga yang tersisa. Ia duduk diam, jarinya mengetuk permukaan meja dengan pelan. Suara ketukan itu memantul di ruangan VIP yang sunyi, menjadi satu-satunya tanda bahwa pikirannya sedang bekerja keras. Bukan tanpa alasan Arga ingin semuanya dipercepat. Sejak hari ketika mama Jenna meninggalkan rumah, sejak ia melihat langsung bagaimana Jenna menahan luka seorang diri, tubuhnya gemetar, air mata berjatuhan, dan Bagas sama sekali tidak peduli, ada sesuatu dalam diri Arga berubah. Ada rasa marah yang tidak ia ucapkan. Ada rasa iba yang tidak bisa dia jelaskan. Dan ada keinginan kuat untuk menghentikan semua penderitaan itu. Ia menatap gelas di depannya, kedua matanya mengeras perlahan. Pertunangan yang dipercepat bukan sekadar keputusan. Itu adalah caranya memastikan Jenna punya tempat untuk kembali. Tempat yang tidak membuatnya hancur seperti rumah yang seharusnya melindunginya. Arga mengembuskan napas pelan, jarinya akhirnya berhenti mengetuk meja. "Setidaknya… aku bisa melindungi kamu Jenna" gumamnya nyaris tak terdengar. *** Suasana ruang keluarga malam itu jauh lebih sunyi dari biasanya. Lampu gantung yang temaram hanya menerangi sebagian ruangan, sementara Erlan Wiranata---ayah Arga---duduk di sofa dengan tangan terlipat di d**a. Tatapannya kosong mengarah ke salah satu sudut ruangan, seperti sedang menimbang sesuatu yang berat. Rianti keluar dari dapur sambil membawa dua cangkir teh hangat. Ia meletakkan satu di depan suaminya lalu duduk di sampingnya tanpa bersuara. Seolah mereka berdua masih menunggu siapa yang memulai. Sampai akhirnya Rianti menarik napas pendek. "Jadi Arga benar-benar mau mempercepat pertunangan itu," ucapnya lirih. Erlan mengangguk pelan tanpa menoleh. "Sudah dia putuskan. Minggu depan." Rianti menatap suaminya dengan raut muram. "Kita bahkan belum mengenal Jenna sedalam itu. Sementara ayahnya...." Ia menggantung kalimatnya, tak sanggup melanjutkan, tapi Erlan tahu maksud dari ucapan istrinya itu "Keluarganya bermasalah," sambung Erlan tegas. "Terutama ayahnya. Kalau bukan karena Bagas tahu rahasia besar kita, aku bahkan tidak sudi menjadi besan pria licik itu." Ia mengembuskan napas panjang, mengusap wajahnya. "Aku tidak pernah menyangka Arga akan mengambil keputusan ini tanpa melibatkan aku. Padahal sebelumnya dia menolak karena alasan ada wanita lain yang dia sukai. Tapi...." Erlan tak melanjutkan lagi karena tidak paham dengan jalan pikiran Arga "Ada yang aneh. Apa ada sesuatu yang dia sembunyikan?" tanya Rianti bimbang Erlan akhirnya menoleh "Entalah, tiba-tiba dia mengatakan kalau dia sudah cocok dengan Jenna. Itu alasan yang dia berikan. Tapi entah kenapa aku merasa ada alasan yang lain." "Kita harus pantau Arga, Pa. Jangan sampai dia gegabah dan menghancurkan semuanya." Kata Rianti memperingati suaminya. Erlan menganggukkan kepala. Tentu dia akan memantau langkah Arga, jangan sampai anak itu mengacaukan kesepakatan yang sudah ditetapkan. *** Matahari naik ke peraduan, sinarnya menembus tirai tipis ruang tamu rumah Jenna. Cahaya kuning keemasan itu jatuh di lantai marmer yang dingin, memantul pelan, seolah mencoba menghidupkan suasana rumah yang sudah lama kehilangan kehangatan. Di dapur, Ratna duduk sambil memegangi kepala, matanya sembap namun berusaha tampak tenang. Sejak kepergiannya dari rumah beberapa waktu lalu, ia masih belum sepenuhnya pulih, tetapi ia memaksa tersenyum setiap kali Jenna muncul di hadapannya. Jenna baru saja keluar dari kamar dan melangkah mendekati Ratna. "Mama udah minum obat?" tanya Jenna pelan, suaranya serak khas bangun tidur. Mamanya mengangguk kecil, meski jelas-jelas belum menyentuh gelas di depannya. Tak lama terdengar langkah kaki seseorang yang mendekati mereka. Jenna menoleh, papanya sudah rapi mengenakan jas dan bersiap-siap pergi ke kantor. "Jenna..." Sapa Bagas sambil tersenyum. "Papa bangga sama kamu." Kening Jenna mengkerut, dia terdiam untuk beberapa detik dan mencerna kalimat sang papa. Bangga? Bangga apanya? Bahkan hubungan mereka semakin tidak baik sejak Jenna tahu perselingkuhan papanya itu. Lantas sekarang papanya mengatakan kalau dia bangga padanya? "Arga ingin pertunangan kalian dipercepat. Minggu depan, papa benar-benar tidak menyangka kalau kamu berinteraksi sebaik itu dengan Arga. Dia yakin untuk memilih kamu. Kalau sudah begini, perusahaan kita akan segera pulih." "Be--bentar. Papa bilang apa tadi? Dipercepat?" "Lho, memangnya Arga gak ngomong sama kamu?" Melihat wajah Jenna yang kebingungan Bagas tertawa pelan. Dia tidak peduli, yang paling penting pertunangan itu akan dilangsungkan secepatnya. Dengan begitu media juga akan tahu kalau sebentar lagi mereka juga akan segera menikah. "Papa berangkat kerja dulu. Inget, kamu harus datang ke kampus dan beritahu teman-teman kamu kalau pertunangan kamu dipercepat." Kata Bagas, dia langsung bergegas pergi tanpa menyapa Ratna. Begitu saja, seolah Ratna sudah tidak ada artinya lagi baginya Sementara Jenna teduduk lemas di atas kursi. Ratna menyentuh bahu putrinya dengan lembut. "Kamu baik-baik aja, Jen?" "Hmmm?" "Memangnya Arga gak bilang ini ke kamu?" "Arga gak bilang apa pun, Ma." Jenna hanya menggelengkan kepalanya. Apa-apaan ini? Kenapa Arga memutuskan sesuatu tanpa memberitahunya terlebih dahulu? Apa jangan-jangan Arga juga ingin menjebaknya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD