Bab 6 - Kehilangan Yang Masih Menyimpan Luka

1103 Words
Jenna berhenti tepat di depan makam kakaknya. Tiga hari lalu, ia sempat ke sini bersama mamanya. Tapi hari ini, entah kenapa Jenna ingin datang lagi, sendiri, tanpa siapa pun. Jenna mulai mengganti bunga-bunga yang kemarin dia taburkan dengan bunga yang baru. Ia menatap bunga-bunga itu dan memastikan semuanya terlihat rapi seolah ingin membuat makam itu lebih indah dari biasanya. Setelah selesai menaburkan bunga dan mengirimkan doa untuk sang kakak, Jenna mengusap batu nisan secara perlahan. Air matanya berjatuhan begitu saja tanpa dapat ia cegah. Semakin lama air matanya semakin banjir hingga isakan pun samar-samar mulai terdengar. Jenna masih belum mampu bersuara, dadanya masih terasa berat. Cukup lama Jenna dalam posisi seperti itu. Hingga akhirnya setelah cukup tenang, ia mulai bersuara dan menyapa kakaknya itu. "Kak.... Ada banyak hal yang aku rasa berat untuk aku lewatin. Semuanya benar-benar berantakan, aku nggak tahu gimana caranya buat ngadepinnya sendirian." Bibirnya bergetar, Jenna menghirup udara sebanyak-banyaknya dan mengembuskannya perlahan. "Ternyata selama ini mama udah tahu soal perselingkuhan papa, mama juga udah tahu kalau selama ini papa udah menikahi perempuan itu. Dan yang lebih menyakitkan, mama bersedia menerima anak perempuan itu, Kak." Jenna menunduk, jemarinya menggenggam bunga yang ada di atas pusara sang kakak. Hujan tipis mulai turun, namun Jenna hanya mengabaikannya. "Kadang, aku iri sama kakak." Ucap Jenna pelan, sangat pelan, nyaris tak terdengar telinga. "Kakak nggak perlu lihat semuanya berantakan kayak gini, kakak nggak perlu ngerasain sedih karena keluarga kita yang dulu penuh kebahagiaan udah benar-benar hancur." Hujan tipis mulai deras, membuat Jenna basah kuyup. Jenna mengusap air mata yang bercampur hujan. "Aku benar-benar capek, Kak. Aku udah ikutin semua kemauan papa dengan mengorbankan hidup aku. Tapi apa yang aku dapetin? Aku cuma dapat sakit, bukan cuma aku. Tapi mama kita juga sakit, Kak." Isakan Jenna semakin keras terdengar. "Papa nggak pernah tahu gimana rasanya jadi aku. Papa selalu jadi aku pion yang dia mainkan demi kepentingannya sendiri. Dan aku... Aku benci sama perasaan aku sendiri, aku sayang sama papa tapi aku juga benci sama papa...." Hari itu Jenna benar-benar meluapkan semua emosinya di sana. Tanpa Jenna sadari seseorang berdiri di ujung sana, tepat di bawah pohon besar sambil memegang payung hitam. Dia terus memperhatikan gerak-gerik Jenna. *** "Kamu habis dari mana, Laras?" "Lho, Mas Bagas? Kok bisa ada di sini?" Laras menahan napas sepersekian detik, jantungnya sempat mencelos. Dialah perempuan simpanan Bagas, bayangan gelap dalam rumah tangga orang tua Jenna, dan kini Bagas berdiri tepat di hadapannya. "Aku habis beli mangga, Mas." jawab Laras sambil mengangkat kantong kresek berisi beberapa buah. Untung saja tadi ia sempat mampir membeli apa pun yang terlihat, sekadar alibi. Setidaknya Bagas tak akan tahu bahwa beberapa menit lalu ia memata-matai Jenna. "Kenapa kamu nggak bilang sama aku? Aku kan bisa beliin sekalian sebelum ke sini." "Maaf, Mas… aku benar-benar nggak tahan. Ngidam banget. Anak kamu nggak sabaran," katanya sambil menepuk ringan perutnya. Senyum Bagas merekah. Dia mendekat, berjongkok di depan Laras, dan menempelkan telapak tangan ke perut Laras yang mulai tampak membulat. "Bener ya? Kamu pengin makan mangga, Nak?" "Iya, Papa…" Laras mengecilkan suara, menirukan gaya anak kecil yang manja. "Aku pengin mangga sekarang…" Bagas terkekeh, lalu berdiri dan menatap Laras seolah ia adalah satu-satunya perempuan di dunia. "Ya sudah. Kamu duduk. Biar aku yang potongin." Laras membiarkan Bagas merangkul bahunya, membawanya duduk di kursi dekat meja makan. "Iya, makasih ya, Mas… Anak kita beruntung banget punya papa kayak Mas." "Tentu. Dia harus senang," balas Bagas, penuh keyakinan. Dalam hatinya, ia sudah membayangkan bayi laki-laki yang akan lahir. Laras tersenyum tipis. Setiap detik, cengkeramannya pada hati Bagas makin kuat. Pelan-pelan, ia tahu pria itu tak akan sanggup kehilangannya. Kelak, Bagas pasti akan meninggalkan istri sah-nya, Ratna. Dan kalau semua berjalan sesuai rencana, anaknyalah satu-satunya pewaris. Tak lama, Bagas kembali dengan sepiring mangga yang dipotong rapi. "Nih. Coba dulu." Laras memajukan bibir, pura-pura merengek. "Mas… suapin, dong. Tanganku pegel… hamil tuh capek..." Bagas tertawa kecil. "Ya ampun, manja banget kamu." "Tapi Mas suka, kan?" Laras mengedip sembari tangannya menyentuh dagu Bagas dengan telunjuknya. Bagas mengangkat satu irisan mangga dan menyuapkannya. Laras sengaja memejamkan mata, menikmati perlakuan itu dengan dramatis. "Hmm… enak banget. Papa hebat." Setelah beberapa suapan, Bagas melihat jam di pergelangan tangannya. Wajahnya berubah sedikit ragu. "Sayang… aku harus pulang sekarang." Untuk sepersekian detik wajah Laras mengeras, lalu berubah menjadi cemberut halus. "Mas… cepet banget? Baru juga datang. Aku kira bakal nginep." "Aku janji besok bakal nginep di sini, sekarang ada yang harus aku bicarakan dengan Jenna." Bagas mengelus kepalanya. Laras menghela napas panjang, pura-pura mengalah. "Iya… pulang aja. Ratna juga pasti nunggu. Aku nggak mau Mas dimarahin." Bagas mencium keningnya sekilas. "Kamu istirahat, ya. Jangan kemana-mana." Saat pintu menutup, Laras menatap punggung Bagas yang semakin jauh. Bibirnya melengkung, bukan lagi manja, tapi dingin dan penuh perhitungan. "Tenang aja, Mas… suatu hari nanti, kamu nggak bakal balik ke Ratna dan anak kamu itu lagi." *** Jenna baru saja tiba di rumah, tubuhnya sangat lelah tapi pikirannya jauh lebih lelah. Begitu melihat sang papa dan sang mama ada di meja makan, entah kenapa sekelebat bayangan indah masa kecil muncul di benak Jenna. Sang papa langsung menyapa dan meminta Jenna untuk ikut duduk dan makan malam bersama. "Kamu sudah dihubungi Arga soal pertunangan kalian?" Jenna tak menjawab. Papanya masih bersikap biasa saja setelah ketahuan selingkuh? Bukannya minta maaf, papanya malah membahas soal pertunangan lagi? "Kamu harus bersikap baik sama Arga, Jenna. Papa nggak mau pernikahan kalian batal." "Papa nggak bosen selalu bahas itu? Hidup aku udah papa kendaliin, jadi aku nggak punya opsi lain selain ikut maunya papa, kan?" "Jangan seolah-olah paling tersakiti. Ini demi kebaikan semua." Jenna membuang napas. Kalau memang untuk kebaikan? Kenapa dia harus merasakan sakit? "Mas, cukup. Kamu jangan menekan Jenna terus menerus." "Kamu itu selalu belain anak kamu ini!" Bagas berdiri dan menggeser kursi, menatap keduanya dengan penuh kekesalan. Tanpa mengatakan apa pun lagi, Bagas meninggalkan kedua orang itu. "Jenna, maafin mama, ya. Mama nggak bisa berbuat apa-apa." "Mama nggak perlu minta maaf, ini bukan salah Mama." Jenna menggenggam tangan mamanya dan mengusapnya dengan pelan. Dia tersenyum dan berusaha meyakinkan pada mamanya kalau semuanya akan baik-baik saja "Mama yakin kalau Arga itu orang yang baik. Kamu, pasti bisa menemukan kebahagiaan kamu bersama dia. Mungkin cara kamu bersatu dengan Arga nggak seperti orang-orang pada umumnya. Tapi, mama yakin. Cuma Arga yang bisa bantu." "Kenapa mama bisa seyakin itu?" "Karena mama seorang ibu. Feeling Mama nggak mungkin salah, Jenna." Jenna terdiam untuk beberapa saat. Arg memang cukup terlihat baik, tapi bagaimana kalau ternyata Arga punya rencana lain? Bagaimana kalau ternyata Arga tidak benar-benar tulus seperti yang dia lihat? "Yaudah sekarang kamu makan ya. Kamu pasti capek." "Iya, Ma..." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD