Bab 5 - Mama Menutupinya

1231 Words
Tiga hari kemudian, akhirnya Jenna bisa membawa pulang mamanya setelah kondisinya jauh lebih tenang di rumah Tante Maya. Selama beberapa hari itu, Jenna benar-benar merasa terbantu. Ia tidak pernah menyangka, ternyata Mama punya seorang sahabat lama yang begitu peduli. Tante Maya, sosok hangat yang selama ini tidak pernah disebut Mama, mendadak hadir seperti cahaya kecil di tengah gelapnya masalah. Dalam hati, Jenna bertanya-tanya, kenapa Mamanya tak pernah bercerita soal persahabatan mereka sebelumnya? "Makasih banyak, Tante…" ucap Jenna pelan saat tiba di teras rumah Tante Maya. Ia langsung memeluk hangat tubuh Tante Maya, seakan ingin menyampaikan semua rasa syukurnya. "Kalau bukan karena Tante, mungkin hal buruk udah terjadi sama Mama," lanjutnya dengan suara bergetar. Tante Maya mengusap kepala Jenna lembut. "Sama-sama, sayang. Ingat ya, kalau terjadi apa pun sama Mama kamu, kabari Tante. Tante bakal bantu sebisa mungkin." Jenna mengangguk. "Iya, Tante. Makasih…" Setelah berpamitan, Jenna dan mamanya masuk ke dalam mobil. Suasana sempat hening di sepanjang perjalanan pulang. Jenna beberapa kali melirik ke arah mamanya yang duduk diam di samping, menatap keluar jendela. Meski wajah Mama masih tampak lelah, setidaknya matanya tak lagi sembab seperti tiga hari lalu. "Ma..." Jenna akhirnya membuka suara. Tangannya perlahan terangkat, lalu menggenggam tangan mamanya dengan lembut. "Aku seneng banget Mama udah mau pulang lagi. Aku bener-bener takut kehilangan Mama." Ratna menoleh, tatapannya sendu, lalu tersenyum tipis. "Maaf ya, Sayang. Mama udah bikin kamu khawatir..." suaranya pelan, nyaris berbisik. Air mata Jenna hampir jatuh lagi. Ia menggeleng cepat, menggenggam tangan mamanya lebih erat. "Jangan minta maaf, Ma. Yang penting sekarang Mama ada di sini, sama aku. Itu udah cukup." Jenna menyandarkan kepalanya di bahu Ratna. Keheningan di dalam mobil seakan menelan mereka, hanya suara mesin yang terdengar. Ratna menoleh sebentar, lalu tersenyum tipis. Dengan lembut, ia mengusap pipi putrinya. Sentuhan itu hangat, namun di baliknya Jenna bisa merasakan rapuhnya sang mama, seperti seseorang yang berusaha tetap tegar meski hatinya sudah porak-poranda. Satu jam perjalanan akhirnya membawa mereka tiba di rumah. Begitu mobil berhenti di depan pagar, pandangan Jenna langsung terpaku pada sebuah mobil yang sudah terparkir rapi di halaman. Mobil itu milik Bagas---papanya. Jantungnya berdegup kencang. Satu sisi ia lega karena Papa ada di rumah, tapi sisi lain ada kegelisahan yang menghantui. Bayangan foto yang dikirim Anasera tiga hari lalu kembali muncul di kepalanya. Sosok Papa yang berjalan mesra bersama seorang perempuan. Benarkah papanya selingkuh? Jenna menoleh ke arah Mama. Ratna menatap mobil itu sekilas, lalu menunduk dengan tatapan hambar. Tidak ada raut bahagia seperti seorang istri yang merindukan suaminya. Justru sorot matanya terlihat kosong, seakan sudah terlalu lelah menghadapi sesuatu yang disembunyikannya sendiri. "Ma…" suara Jenna nyaris berbisik, tapi ia urungkan pertanyaan yang ingin keluar. Ada sesuatu yang menahannya, ia tidak ingin Mama tahu soal foto itu. Belum sekarang. Pada akhirnya Jenna memilih untuk membawa mamanya masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu, Bagas sedang duduk di sofa, memegang ponsel dengan ekspresi datar. Begitu melihat Ratna dan Jenna masuk, ia hanya melirik sekilas, lalu kembali sibuk dengan layar di tangannya. "Udah pulang?" tanyanya datar tanpa senyum, seakan tak ada yang pernah terjadi beberapa hari lalu. Ratna terdiam. Wajahnya kaku, tapi ia berusaha menanggapinya dengan tenang. "Iya." Jenna memandang bergantian antara Mama dan Papa. Ada sesuatu yang tidak beres, ia bisa merasakannya. Hubungan keduanya jelas renggang, meski dari dulu papanya tidak begitu peduli, tapi kali ini terlihat lebih kentara lagi. Bagas menaruh ponselnya di meja, lalu berdiri. "Aku ada urusan keluar sebentar," katanya singkat, ia mengambil kunci mobil begitu saja. "Papa udah makan?" tanya Ratna lirih, mencoba menahan. "Nggak usah. Aku ada janji." Tanpa menunggu jawaban, Bagas melangkah keluar, meninggalkan mereka berdua di ruang tamu yang tiba-tiba terasa sesak oleh keheningan. Jenna menggenggam tasnya erat. Hatinya kacau. Foto itu, sikap Papa barusan, semuanya mulai membentuk tanda tanya besar di kepalanya. Sementara Ratna hanya menatap kosong ke arah pintu yang sudah tertutup, lalu menarik napas panjang, seakan mencoba menahan perih yang hampir pecah. *** Setelah memastikan ibunya beristirahat dengan tenang, Jenna melangkah menuju kamarnya dengan langkah pelan. Udara malam terasa berat, seolah ikut menekan d**a yang sejak tadi sesak oleh lelah dan pikiran yang tak kunjung tenang. Begitu pintu tertutup, keheningan menyambutnya. Ia menjatuhkan tubuh di atas ranjang, membiarkan kasur menelan seluruh penat. Kelopak matanya mulai menurun, tapi otaknya masih berputar, mengingat kondisi ibunya, rumah yang tak lagi nyaman, dan bayangan ayahnya yang kini bahkan sulit ia pahami. Tepat ketika kantuk hampir menang, suara notifikasi ponsel memecah hening. Satu pesan masuk. Jenna menoleh malas, namun matanya langsung terbuka lebar ketika melihat nama di layar: Anasera. Telunjuknya ragu saat menyentuh layar, membaca pesan pertama yang terasa biasa—sekadar sapaan, seolah tak ada yang aneh. Tapi ketika Jenna membalas singkat dan percakapan berlanjut, sesuatu di d**a mulai terasa tak nyaman. Beberapa menit berlalu, hingga muncullah bar ketikan di layar. Titik-titik yang menandakan Anasera sedang menulis. Dan saat pesan itu akhirnya terkirim, napas Jenna seketika tercekat. 'Gue punya info, Jen' 'Info apa?' 'Tentang bokap lo' 'Bokap gue?' 'Yap, perempuan itu fix selingkuhan bokap lo' 'Lo punya bukti yang akurat?' 'Kemarin gue nemenin kakak gue yang lagi rawat inap. Tanpa sengaja gue lihat bokap lo sama perempuan itu. Yang bikin gue lebih kaget, mereka berdua pergi ke ruangan dokter kandungan. Gue sempat nguping pembicaraan mereka. Dan bokap lo nggak sabar nunggu anak itu lahir' 'Ternyata lo udah tahu sejauh itu tentang keluarga gue. Lo butuh berapa buat cucup mulut?' 'Astaga, lo Mandang gue serendah itu? Lo pikir semuanya bisa diuangkan? Jenna, gue begini karena gue temen lo. Dan gue ngerasa nggak terima nyokap lo diperlakukan kayak gitu. Gue paling benci sama yang namanya perselingkuhan dan Pengkhianatan. Dan satu hal lagi, gue curiga sama pertunangan lo, apa itu salah-satu rencana bokap lo?' 'Lo udah terlalu ikut campur, Ser' Dengan tangan bergetar Jenna langsung menggulir layar ponselnya. Mencari nama papanya dan mengirim pesan untuk memastikannya. Ternyata ada yang sangat mengejutkan dari respon papanya. Papanya mengatakan apakah sang mama sudah membocorkannya? Jenna menitikkan air mata. Rasanya begitu sakit ketika dia tahu kenyataan ini. Terlebih selama ini mamanya sudah menutupinya. Jadi selama ini mamanya menanggung luka itu sendirian? *** Pagi itu Jenna sudah ada di meja makan. Mamanya baru saja keluar dari dalam kamar dan berjalan menuju meja makan. "Papa nggak pulang, kan?" Ratna hanya tersenyum tipis "Mungkin papa kamu lembur. Nggak sempat pulang dan nginap di hotel." "Sampai kapan mama nutupin ini dari aku?" Kening Ratna mengkerut bingung "Menutupi apa, sayang?" "Soal perselingkuhan papa." Ratna yang saat itu hendak duduk di kursi pun sempat tertegun. "Aku udah tahu semuanya. Papa udah nikahin dia kan? Sekarang dia juga lagi hamil anak papa." "Jenna ..." "Kenapa mama nutupin itu semua dari aku? Biar papa tetap kelihatan baik?" Ratna tak bergeming. Namun benaknya terus bertanya-tanya. Dari mana Jenna tahu tentang ini semua? Padahal selama ini Ratna sudah mati-matian untuk menutupinya. "Jenna, kamu jangan salah paham. Papa cuma butuh anaknya. Nanti saat anaknya lahir, mama akan merawatnya dan menjadikan dia adik kamu." Jenna menggelengkan kepala tak habis pikir. "Mama jangan mau dibodohi sama perempuan licik itu." "Mama nggak punya pilihan lain, Jenna. Mama sudah bikin papa kamu kehilangan anak laki-lakinya. Sebagai gantinya, mama harus menerima keputusan papa kamu untuk punya anak laki-laki dari wanita lain." Suara Ratna terdengar berat, jelas sekali bahwa dia sangat terluka atas keputusan Bagas. Tapi Ratna berusaha mati-matian agar dia tetap terlihat baik-baik saja di depan anaknya Tapi sayangnya Jenna tidak segampang itu dibodohi. Dia jelas tahu kalau mamanya sudah terluka amat dalam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD