"Mama yakin nggak mau cerita sesuatu sama aku?" tanya Jenna pelan. Dia yang sedang memeluk ibunya itu pun mendongakkan kepala, berusaha menangkap sorot mata Ratna.
Ratna yang belum sepenuhnya tertidur kembali membuka mata. Bibirnya melengkung lemah, terlihat senyum kecil yang dipaksakan. Perlahan tangannya terulur, mengusap pelan lengan Jenna yang tengah memeluk tubuhnya.
Kini mereka berdua menginap di rumah Maya. Awalnya Jenna keras kepala menolak, ingin sekali membawa mamanya pulang. Tapi ucapan sahabat mamanya itu ada benarnya, bahwa mamanya butuh waktu, butuh tempat untuk menenangkan diri, sebelum akhirnya ia membawa mamanya kembali pulang.
"Apa Papa nyakitin Mama?" Suara Jenna bergetar ketika pandangannya jatuh pada pergelangan tangan Ratna yang lebam.
"Seharusnya Mama nggak nutupin ini dari aku," lanjutnya. "Apa pun yang terjadi Mama harus bilang sama aku, bukannya diam dan memendam semuanya. Apa Mama nggak sayang sama aku?"
Ratna kembali tersenyum, meski matanya jelas menyimpan genangan yang ditahannya mati-matian.
"Kayaknya kamu terlalu cemas akan hal itu, Jenna. Maafin Mama ya, udah bikin kamu merasa seperti itu. Kamu salah kalau kamu bilang Mama nggak sayang sama kamu. Justru Mama sangat menyayangi kamu." Suaranya lembut, hampir berbisik.
"Tapi, Maa…" Jenna menatap dalam-dalam, nadanya menekan,
"kamu nggak usah pikirin apa yang terjadi antara Mama dan Papa. Itu cuma salah paham." Ratna menghela napas pelan.
"Lebih baik kamu fokus sama pertunangan kamu dan Arga."
Jenna menunduk. Ada sesak yang menumpuk di dadanya. Dia tidak bisa mengabaikan sesuatu yang jelas-jelas membekas di tubuh mamanya.
"Apa ini masih soal kematian Kak Genta? Papa masih nyalahin Mama, ya?" tanyanya lirih.
Dalam sekejap, wajah Ratna menegang. Ada guratan luka lama yang ditarik paksa keluar setiap kali nama itu terdengar di telinganya.
"Padahal itu bukan salah mama."
Meski Jenna saat itu baru tiga tahun, Jenna masih menyimpan bayangan samar tentang hari itu, tentang tubuh mungil Genta, kakaknya yang baru berusia tujuh tahun, terkulai dingin setelah ditemukan di danau belakang rumah nenek mereka. Semua orang panik, semua orang menangis. Dan yang paling disalahkan saat itu adalah Mamanya.
"Ma..." suara Jenna pecah, "aku tahu itu bukan salah Mama. Aku ingat kalau kak Genta itu jatuh sendiri."
Ratna menggigit bibirnya, air matanya akhirnya pecah, jatuh satu per satu.
"Kamu masih kecil, Jenna. Kamu nggak harus mengingat semua itu..."
"Tapi aku nggak bisa lupa!" potong Jenna, nadanya meninggi,
"Nggak ada seorang ibu yang sengaja mencelakakan anaknya. Aku tahu Mama sudah berusaha nyelamatin Kak Genta! Seharusnya mereka juga tahu kalau yang paling berduka atas kematian kak Genta itu Mama!"
Ratna terisak pelan.
"Karena di mata Papa, Mama tetap gagal. Mama nggak bisa jagain anak Mama sendiri."
Jenna menatap ibunya, hatinya hancur mendengar kalimat itu.
"Mama nggak gagal. Kak Genta kecelakaan, itu bukan salah Mama. Kalau Papa nggak bisa ngerti itu, biar aku yang lawan Papa dan bikin papa sadar!"
"Jangan, Jenna… jangan bikin semuanya tambah runyam. Mama nggak mau hubungan kamu dan papa kamu semakin buruk."
Jenna terdiam. Air matanya menetes begitu saja, jatuh membasahi bantal di antara mereka. Hatinya berteriak, menolak diam, menolak pasrah seperti yang selama ini dilakukan Ratna.
"Tapi Ma, aku juga nggak sanggup lihat Mama terus-terusan diperlakuin kayak gini. Aku udah besar, aku bisa jagain Mama." Jenna menggenggam erat tangan ibunya, berusaha menyalurkan kekuatan yang bahkan dirinya sendiri nyaris tak punya.
Ratna menatap anaknya. Mata itu, mata yang begitu mirip dengan almarhum Genta, bening sekaligus penuh cinta.
"Kak Genta pasti nggak mau kalau papa terus terus nyalahin Mama dan sebaliknya. Aku yakin itu. Karena kak Genta sayang banget sama Mama." Kata Jenna
Ratna menutup mulutnya dengan telapak tangan, bahunya terguncang menahan isak. Kenangan itu menyeruak---sore terakhir, tawa bocah tujuh tahun yang berlarian di tepi danau, dan suara tercekatnya ketika tubuh itu tak lagi bernyawa.
"Papa nggak pernah bisa nerima, Jenna," ucap Ratna lirih di sela tangisnya. "Buat Papa, kehilangan Kakak kamu adalah bukti kalau Mama gagal jadi seorang ibu."
Ratna menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca,
"Ini udah malam, kita tidur ya." Kata Ratna, dia sengaja menutup percakapan agar Jenna tak terus-terusan membahas hal itu.
Ratna takut dia kelepasan dan Jenna tahu rahasia yang dia tutupi salama ini. Bagaimanapun Jenna tidak boleh tahu tentang keburukan papanya
***
Jenna terperanjat saat membaca pesan dari Anasera beberapa menit yang lalu. Di sana, jelas terlihat foto papanya sedang bersama seorang perempuan di pusat perbelanjaan. Mereka tampak begitu dekat, seolah bukan hanya sekadar teman biasa.
Hatinya langsung berdegup kencang. Apa Papa sudah berkhianat? Pertanyaan itu terus menggema di kepalanya. Lalu, bagaimana dengan Mamanya? Apakah Mamanya sudah tahu soal ini? Atau justru Mamanya sengaja diam selama ini?
Pikiran Jenna kalut. Rasa marah, kecewa, dan takut bercampur jadi satu. Ia menggenggam ponselnya erat, menahan gejolak dalam dadanya.
"Aku harus bicara sama Papa… sekarang juga," gumamnya.
Ia tahu, kalau sampai dugaan itu benar, jika Papa benar-benar mengkhianati Mama, ia tidak akan pernah bisa memaafkan papanya.
Dia langsung mengirim pesan kepada papanya untuk menanyakan hal itu:
'Papa di mana? Udah ketemu sama mama?'
'Papa nggak sempat cari mama kamu. Palingan dia nginep di hotel. Nggak usah terlalu dipikirkan, Jenna. Kamu tahu sendiri kalau papa ini sibuk sama perusahaan'
'Sibuk sama perusahaan atau sibuk sama perempuan ini?'
'Kamu dapat foto itu dari mana'
'Nggak penting'
'Kamu jangan salah paham. Dia cuma sekretaris papa dan papa nemenin dia makan' karena sudah larut malam'
'Seharusnya dia bisa pergi makan sendiri. Dan seharusnya papa lebih pentingin mama daripada makan sama dia'
'Mama kamu bukan anak kecil, Jenna! dia bisa pergi ke mana pun dia mau'
Pandangan Jenna jatuh pada sosok mamanya yang tertidur pulas. Wajah itu terlihat letih, dengan garis-garis lelah yang tak pernah benar-benar hilang. Hatinya langsung teriris. Ia tak sanggup membayangkan bagaimana perasaan Mama jika tahu kebenaran ini.
Bertahun-tahun Mama harus menanggung beban yang berat, disalahkan atas kematian anak pertamanya. Sekarang... Mamanya juga harus menghadapi kemungkinan dikhianati oleh orang yang ia percaya sepenuh hati.
Air mata Jenna menetes tanpa bisa ia cegah. Dadanya terasa sesak, seperti ada yang menghimpit dari dalam.
"Nggak, demi apa pun, aku nggak akan pernah bisa menerima perbuatan Papa," bisiknya lirih, penuh getir. Jenna menghapus air matanya. jangan sampai mamanya terbangun dan melihat dia yang menangis. Mamanya pasti akan terus bertanya alasan dia menangis saat ini