Amanda berjalan tanpa arah menyusuri trotoar yang mulai dipenuhi lampu kota. Langit senja telah benar-benar berubah menjadi gelap, dan udara malam San Francisco terasa dingin menusuk kulit, seolah ikut menekan dadanya yang sesak. Setiap langkah terasa berat, pikirannya penuh oleh suara Nalendra, oleh kenangan yang selama ini dia paksa terkubur. Tangannya bergetar ketika akhirnya dia menghentikan langkah dan bersandar di sebuah halte bus. Dia mengeluarkan ponselnya, menatap layar yang menyala dengan nama Wiliam tertera sebagai panggilan tak terjawab. Ada lima panggilan, dan satu pesan singkat. “Amanda, kamu di mana? Aku khawatir.” Air mata kembali menggenang. Amanda menutup mata sejenak, mengatur napas, lalu menghubungi Wiliam kembali. Panggilan itu dijawab hampir seketika. “Kamu ke man

