Setelah kejadian itu, Wiliam menarik Sheila keluar dari kantornya dan pulang lebih awal menuju rumah orang tuanya Wiliam. William duduk di kursi mobilnya dengan tangan masih gemetar. Pipinya masih terasa panas dari tamparan Amanda, tapi rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa bersalah yang menghancurkan dadanya. Ia melirik Sheila yang duduk di kursi penumpang dengan ekspresi puas, seolah ia baru saja memenangkan sesuatu. "Puas kamu sekarang?" William berbicara dengan nada dingin yang tidak pernah ia gunakan sebelumnya. "Aku cuma menuntut hakku, William. Hak anakku," jawab Sheila sambil mengelus perutnya. William menggenggam setir dengan keras. Ia tahu ia harus bertanggung jawab, tapi caranya Sheila melakukan ini, di depan semua orang, di depan Amanda, membua

