Menuju kantor Amanda. Amanda duduk di kursi kerjanya dengan tubuh kaku. Layar komputer di hadapannya menyala terang, menampilkan deretan data yang seharusnya ia analisis pagi ini. Namun matanya hanya menatap kosong, tidak benar-benar membaca apa pun. Jari-jarinya bertumpu di atas keyboard, gemetar ringan setiap kali ia mencoba mengetik. "Aku harus fokus," gumamnya pelan, hampir seperti mantra. "Aku harus bisa melewati ini." Amanda mengambil napas panjang, menahan air mata yang mengancam akan tumpah lagi. Ia sudah menangis sepanjang hari hingga matanya bengkak dan sembab. Ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak menangis lagi di kantor. Ia harus profesional. Ia harus kuat. Setidaknya di depan rekan-rekan kerjanya yang terus berlalu lalang di luar ruangannya. Ponselnya tiba-tiba b

