Video call berakhir dengan janji manis Nalendra yang masih bergema di telinga Amanda. Layar ponselnya kembali gelap, menyisakan refleksi wajahnya sendiri yang sembab dan lelah. Amanda meletakkan ponsel di meja dengan gerakan lambat, seolah benda itu terlalu berat untuk dipegang lebih lama. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit ruangannya. Dalam kepalanya, perang antara logika dan hati sedang berlangsung sengit. Logikanya berteriak bahwa ia seharusnya mengakhiri semua ini, memutus kontak dengan Nalendra, dan melanjutkan hidupnya. Tapi hatinya, hatinya yang terluka dan rapuh itu, masih menggantungkan harapan pada kata-kata Nalendra tadi. "Tiga hari lagi," bisik Amanda pada diri sendiri. "Tiga hari lagi dia akan datang. Tiga hari lagi aku akan tahu apakah semua ini nya

