Pagi datang dengan langkah ragu, seolah ikut meniru perasaan Amanda. Cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai, jatuh tepat di wajahnya. Amanda membuka mata perlahan, kepalanya masih berat oleh mimpi-mimpi semalam, mimpi tentang Nalendra, tentang pelukan yang terasa begitu nyata, kehangatan saat di atas ranjang, hingga membuat dadanya sesak saat terbangun. Ia bangkit dan duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya pelan. Di meja kecil di samping tempat tidur, ponselnya tergeletak dalam keadaan mati. Amanda menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya menyalakannya. Tidak ada pesan baru. Entah kenapa, rasa lega dan kecewa datang bersamaan. Hari pertama dari tiga hari. Amanda menjalani rutinitas paginya dengan mekanis. Mandi, berdandan, memilih pakaian kerja yang rapi namun sederhana. Ia

