Sesampainya Nalendra di apartemen Amanda, waktu seolah kehilangan maknanya. Pintu baru saja tertutup ketika keheningan menyelimuti ruang tamu yang remang, hanya cahaya lampu kota yang menyusup dari balik jendela besar. Amanda berdiri terpaku beberapa detik, menatap Nalendra seakan lelaki itu bukan nyata, seakan jarak, air mata, dan malam-malam panjang yang penuh rindu baru saja berakhir dalam satu tarikan napas. Tanpa berkata apa pun, Amanda melangkah maju dan menarik Nalendra ke dalam pelukannya. Erat. Putus asa. Seolah jika ia melepaskan, Nalendra akan kembali menghilang seperti mimpi yang terlalu indah untuk dipertahankan. Nalendra membalas pelukan itu, tangannya mengusap rambut Amanda dengan gerakan lembut namun penuh kepemilikan. “Aku kangen banget sama kamu,” bisik Amanda parau, wa

