Bab.32 Ketakutan Amanda

804 Words

Pelukan Nalendra tak goyah meski tubuh Amanda bergetar hebat. Tangisnya perlahan mereda, berubah menjadi isakan kecil yang tertahan di sela napas. Di luar, suara kota masih berdengung, seolah dunia tetap berjalan tanpa peduli pada hancurnya hati seseorang di lantai apartemen lantai dua puluh itu. Nalendra menggendong Amanda menuju sofa, mendudukkannya dengan hati-hati. Ia berjongkok di hadapan Amanda, menatap wajah yang basah oleh air mata itu dengan kesungguhan yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun. “Manda,” ucapnya pelan, namun tegas. “Lihat aku.” Amanda mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah, tapi di sana ada sesuatu yang lain, kerapuhan yang bercampur harap. “Aku nggak datang ke sini buat main-main,” lanjut Nalendra. “Aku tahu aku punya salah. Aku tahu aku punya tanggung jaw

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD