Kata-kata Nalendra menggantung di udara, bercampur dengan bunyi pelan mesin monitor jantung yang berdetak stabil. Amanda menunduk, menatap lantai putih rumah sakit yang terasa begitu dingin. Jemarinya mengepal, berusaha menahan getaran di tubuhnya. “Aku… butuh waktu,” ucap Amanda akhirnya, suaranya hampir tak terdengar. Nalendra tidak memaksa. Ia hanya mengangguk pelan, meski jelas kekecewaan dan kekhawatiran bercampur di matanya. “Aku tunggu. Tapi tolong… jangan menghilang lagi.” Amanda mengangguk perlahan. Pak Effendi kembali terlelap setelah dokter masuk sebentar untuk memeriksa. Amanda duduk di samping ranjang, sementara Nalendra berdiri di dekat jendela, menatap lampu-lampu kota yang berkelip. Tidak ada percakapan panjang. Hanya kehadiran yang sama-sama terasa berat. Beberapa men

