Pagi datang tanpa benar-benar memberi Amanda kesempatan untuk menyesuaikan diri. Cahaya matahari menembus celah tirai apartemennya, jatuh tepat di wajahnya, membuat ia terbangun dengan perasaan asing yang bercampur antara hangat dan perih. Ia duduk di tepi ranjang cukup lama, menatap jari-jarinya sendiri. Ingatannya kembali pada malam sebelumnya, hujan, mobil hitam, aroma jas Nalendra, dan perasaan yang belum juga ia beri nama. Semua itu terasa terlalu nyata untuk disebut mimpi, namun terlalu rumit untuk diterima begitu saja sebagai kenyataan. Hari ini, ia harus menyelesaikan semuanya. Amanda mandi lebih lama dari biasanya, membiarkan air hangat mengalir, berharap bisa meluruhkan beban di dadanya. Ia mengenakan pakaian kerja terakhirnya dengan hati-hati, seolah setiap lipatan kain adala

