Bab.5 Side Job

1063 Words
Senja merayap turun perlahan ketika mobil yang dikendarai Amanda berhenti tepat di halaman rumah Nalendra. Hari ini kantor Darwis Grup memang tidak sepadat biasanya, rapat-rapat besar ditunda, beberapa proyek masih menunggu persetujuan, dan suasana kantor jauh lebih tenang dari biasanya. Kesempatan itu digunakan Amanda untuk mengantar Nalendra pulang lebih awal, tepat pukul enam sore. Setelah turun dari mobil, Nalendra memilih duduk di teras. Udara sore begitu nyaman, tapi pikirannya tidak. Ia memperhatikan Amanda yang masih berada di sisi mobil, memeriksa ponsel. Ekspresi perempuan itu berubah sesaat, seperti menahan sesuatu, atau seperti tengah menimbang-nimbang jawaban pada seseorang di ujung telepon. Nalendra tidak mendengar suara siapa pun dari ponsel Amanda, tapi dari cara Amanda berdiri sedikit menjauh, wajahnya mengetat, dan langkahnya tak tenang, ia bisa merasakan bahwa telepon itu bukan sekadar telepon biasa. Hatinya bertanya-tanya. Siapa yang menelepon? Kenapa Amanda terlihat gelisah? Dan kenapa ia tidak mengatakan apa pun pada Nalendra? Tak lama Amanda mendekat. Nafasnya sedikit teratur kembali, tapi nada suaranya tetap seperti orang yang ingin cepat pergi. “Mas, aku mau langsung dulu ya. Ada urusan sedikit. Besok pagi jam tujuh aku udah standby seperti biasa.” Nalendra berdiri. Ada sesuatu yang menegang di dalam dirinya. Entah curiga, entah ingin tahu, entah sekadar takut kehilangan kendali. “Udah tahu pulang sore,” katanya pelan namun tegas, “rehat aja. Udah pulang. Nggak usah kemana-mana.” Amanda tersenyum kecil, tapi itu bukan senyum yang menenangkan. Lebih seperti senyum terpaksa. “Nggak bisa, Mas. Ini kan hari Jumat. Waktunya aku ambil side job. Lumayan buat nambah pengobatan Bapak.” Nalendra meraih pergelangan tangan Amanda, menghentiknya. Sentuhannya tidak kasar, tapi cukup untuk membuat Amanda berhenti melangkah. “Tunggu.” Suaranya dalam. “Kamu mau ke mana? Side job apa, Manda? Kalau kamu kurang uang, tinggal bilang. Apaan sih segala ambil side job segala?” Amanda menatapnya, dan untuk pertama kalinya sore itu, ia terlihat lelah. “Nggak, Mas. Jauh sebelum kita ketemu lagi kayak sekarang, aku memang tiap Jumat, Sabtu, Minggu ambil side job. Udah kebiasaan. Udah dulu ya, nanti aku telat.” Ia menarik tangannya. Nalendra ingin menahan lebih kuat, tapi ia tidak ingin terlihat memaksa. Batas Amanda selalu jelas, dan Nalendra selama ini menghormatinya. Tapi sore ini hatinya terasa tidak enak. Amanda menuruni anak tangga dengan tergesa. Sepeda motornya terparkir dekat pagar. Ia memasang helm, menghidupkan mesin. “Manda!” Nalendra memanggil, satu oktaf lebih tinggi dari biasanya. Bukan marah, tapi takut kehilangan kendali, atau mungkin takut kehilangan dia. Amanda menoleh sebentar. “Besok pagi aku datang, Mas. Jangan khawatir.” Lalu ia melaju pergi. Suara motor Amanda menjauh hingga menghilang. Nalendra masih berdiri di tempat yang sama, merasakan dadanya berat. Bukan karena Amanda pergi, tapi karena ia pergi tanpa menjelaskan apa pun. Nalendra berusaha membuang pikiran buruk. Tapi setiap kerikil di halaman terasa seperti pemicu kecemasan. Apalagi telepon tadi… Siapa yang menelpon? Kenapa Amanda tidak mau cerita? Side job apa yang selalu ia ambil tiap akhir pekan? Nalendra masuk ke rumah, duduk di sofa, menatap kosong. Tatapannya jatuh pada meja kecil yang selalu dipakai Amanda saat menyiapkan dokumen-dokumen kantor di rumahnya. Ada gantungan kunci kecil milik Amanda tertinggal di situ, bentuknya bunga matahari. Nalendra meraihnya perlahan, membalik-balik benda itu di tangannya. “Apa yang kamu sembunyikan, Manda…?” gumamnya pelan. Sementara itu, Amanda mengendarai motornya melewati jalanan kota yang mulai padat menjelang malam. Udara dingin menerpa wajahnya, tapi dadanya terasa lebih dingin, bukan karena angin, tapi karena percakapan barusan dengan Nalendra. Ia benci melihat Nalendra khawatir. Benci membuat laki-laki itu bertanya-tanya. Tapi dia tidak punya pilihan. Ia parkir di sebuah bangunan ruko tiga lantai, lampunya masih menyala meski sebagian toko sudah mulai tutup. Amanda membuka helm dan menurunkan masker, lalu masuk lewat pintu samping. “Eh Manda! Udah datang ya, kita mulai sebentar lagi!” seru seorang perempuan setengah baya dengan celemek, seolah Amanda sudah datang ke rumahnya sendiri. Amanda tersenyum lelah. “Iya, Tante. Maaf agak telat.” Perempuan itu menggeleng. “Nggak apa. Kamu dari kantor kan? Sudah, ganti baju dulu. Nanti jam tujuh lewat dikit pesanan mulai berdatangan.” Amanda masuk ke ruang kecil di belakang ruko. Ia mengganti blus kerjanya dengan pakaian kasual, kaos hitam dan apron. Rambutnya ia ikat sederhana. Side job Amanda bukan pekerjaan glamour, bukan pula sesuatu yang ia banggakan tapi ini pekerjaan yang jujur. Ia bekerja membantu sebuah katering rumahan, mengantar pesanan, menata kemasan, menerima order, sekaligus menjadi tenaga tambahan saat malam ramai. Bayarannya tidak besar, tapi cukup menambah biaya obat ayahnya yang makin tinggi. Amanda menarik napas panjang. Nalendra tidak boleh tahu. Bukan karena ia malu, tapi karena ia tidak mau menyusahkan. Jam menunjukkan pukul delapan malam ketika ponsel Amanda berbunyi lagi. Nama di layar membuatnya terdiam. Mas Nalendra Amanda menatap layar cukup lama sebelum memutuskan mengabaikannya. Ia tahu Nalendra sedang tidak tenang. Ia tahu laki-laki itu pasti menunggu kabar darinya. Tapi bila ia mengangkat telepon, Nalendra pasti bertanya di mana ia berada. Dan jika Nalendra tahu Amanda sedang mengantar pesanan makanan dari satu rumah ke rumah lain, mengangkat kardus-kardus berat, memikul beban tak sesuai tubuh kecilnya… laki-laki itu pasti marah. Atau lebih buruk, tersinggung karena Amanda seolah tidak mempercayainya. Telepon itu berhenti. Lalu berbunyi lagi. Dan lagi. Amanda memejamkan mata sebentar. “Maaf, Mas… bukan karena aku nggak mau jujur. Tapi karena kalau Mas tahu semuanya, Mas pasti mau gantiin semuanya… sampai aku jadi beban buat Mas.” Ia menekan ponsel, memasukkannya ke dalam tas. Kemudian melanjutkan pekerjaannya. Di rumah, Nalendra tidak bisa berdiam diri. Ia menelpon. Tidak diangkat. Mengirim pesan. Centang satu. Lalu dua. Tapi tidak dibalas. Ia berdiri, mengambil kunci mobil. Tapi kemudian berhenti. Pergi ke mana? Mencari Amanda di mana? Ia bahkan tidak tahu Amanda bekerja apa malam ini. Nalendra memijit pelipisnya keras-keras. Rasa frustrasi menumpuk seperti air mendidih. “Amanda… kamu bikin aku gila.” Ia berjalan ke teras, menatap jalan gelap tempat Amanda pergi. Perasaan tidak nyaman itu makin kuat. Ada sesuatu yang ia rasa perlu ia ketahui, sesuatu yang selama ini Amanda sembunyikan. Bukan karena curiga. Tapi karena ia sangat peduli. Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia mendengar dirinya sendiri berbisik: “Mulai besok… aku harus tahu semuanya. Bahkan hal yang kamu pikir nggak perlu aku tahu.” Nalendra menatap jauh ke arah kota yang berkelip. Besok pagi, jam tujuh, Amanda akan datang. Dan ia akan menuntut jawaban, apapun itu. Bahkan bila jawaban itu membuat hubungannya dengan Amanda tidak lagi sama seperti sebelumnya, dia tidak peduli.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD