Bab.6 Vila Keluarga Darwis

892 Words
Pagi itu, Amanda tiba di rumah Nalendra tepat pukul tujuh seperti biasa. Rambutnya masih sedikit basah, sisa dari tergesa bersiap. Ia menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu, berharap pagi ini bisa berjalan seperti biasa. Namun begitu pintu terbuka, ia langsung tahu harapannya sia-sia. Wajah Nalendra menegang. Rahangnya mengeras. Tatapannya dingin, namun penuh luka dan keresahan yang tak mampu ia sembunyikan. “Kamu kenapa nggak angkat telepon aku sampai berkali-kali?” suaranya rendah, tapi menusuk. “Kamu di mana semalam, Manda?” Amanda menelan ludah. “Mas… jangan kayak gini. Aku...” “Kamu pikir aku bisa diem aja?” Nalendra mendekat, suaranya mengeras namun nada di dalamnya penuh kecemasan. “Lebih baik kamu jujur sekarang. Atau aku sendiri yang cari tahu side job apa yang kamu ambil.” “Mas… kamu kenapa? Kamu ini aneh apa gimana sih?” Amanda mundur setengah langkah. “Kita udah nggak ada urusan. Paham nggak? Urus aja itu Sintia… tunangan kamu.” Ucapan itu seperti pisau yang langsung menghujam d**a Nalendra. Tanpa berkata apa pun lagi, ia meraih pergelangan tangan Amanda. Tidak kasar, tapi tegas. Cukup kuat untuk menghentikan langkah perempuan itu. “Ayo masuk mobil.” “Mas, apaan sih.” “Kita harus bicara.” Nada itu tidak memberi ruang untuk menolak. Amanda menahan napas, lalu dengan jantung berdebar, mengikuti langkah Nalendra menuju mobil. Perjalanan tiga jam menuju vila keluarga Darwis terasa panjang dan hening. Tidak ada yang berbicara. Hanya suara mesin dan ketegangan yang terus memenuhi kabin. Nalendra menggenggam kuat setir, otot rahangnya tegang. Sesekali ia melirik Amanda, memastikan perempuan itu masih ada di sampingnya. Amanda hanya menatap keluar jendela, menahan banyak sekali perasaan yang ingin meledak. Begitu mobil berhenti di vila besar yang dikelilingi pepohonan pinus, Nalendra turun dengan cepat lalu membuka pintu untuk Amanda. “Manda, turun.” Di dalam vila, suasana jauh lebih hening, seolah waktu berhenti. Nalendra menggenggam tangan Amanda lagi, membawanya masuk ke kamar besar di lantai dua. Begitu pintu tertutup, Amanda hendak memprotes. Namun Nalendra tiba-tiba menariknya ke dalam pelukan. Hangat. Kuat. Seolah seluruh kegelisahan semalam tertumpah dalam dekap itu. “Manda…” suara Nalendra bergetar. Ia memejamkan mata. Air mata menetes di pundak Amanda. “Kamu kenapa kayak gini sekarang?” bisiknya. “Ya… aku salah. Aku bodoh ninggalin kamu dulu. Tapi setidaknya kasih aku kesempatan buat perbaiki semuanya.” Amanda membeku di dalam pelukan itu. “Kamu nggak angkat telepon aku semaleman” lanjut Nalendra, suaranya pecah. “Aku hampir stres tahu nggak. Khawatir kamu kenapa-napa, aku takut kehilangan kamu lagi.” Amanda menghela napas panjang. Dan kata-kata yang ia tahan sejak lama akhirnya keluar. “Terlambat, Mas…” bisiknya lirih. “Terlambat kamu peduli sama aku. Di saat aku udah mau lupain kamu.” “Nggak…” Nalendra memegang wajah Amanda dengan kedua tangannya, memaksanya menatap. “Aku nggak mau kamu lupain aku. Jangan pernah berniat sedikit pun buat lupain aku." Detik itu, dunia seakan menyempit hanya pada dua pasang mata yang saling menahan rasa sakit. Nalendra memeluk Amanda lebih erat lagi, seolah takut perempuan itu akan menghilang jika ia sedikit saja mengendurkan pelukannya. Amanda ingin melepaskan diri, namun tubuhnya bergetar dalam dekap itu. Hangatnya, aroma tubuhnya, cara tangan Nalendra merengkuhnya… Semuanya membawa Amanda kembali pada ribuan kenangan yang selama ini ia kubur. Seketika, pertahanannya runtuh. Amanda membalas pelukan itu, pelan, ragu, namun penuh kerinduan yang selama ini ia ingkari. Tidak ada kata-kata. Hanya isak pelan, napas yang saling bersinggungan, dan rasa yang akhirnya pecah setelah sekian lama. Di siang yang tenang itu, mereka akhirnya kembali menyatu dalam cara yang paling manusiawi, dengan kejujuran, tangis, dan kerinduan yang membludak. Tanpa kata vulgar. Tanpa penjelasan berlebihan. Hanya dua orang yang masih saling mencintai, walau pernah saling menyakiti. Saat napas mereka mulai tenang, Nalendra masih memeluk Amanda, seolah enggan melepas walau sedetik. “Manda…” Nalendra menatapnya dekat, suaranya lirih namun jelas. “Maafin aku.” Amanda terdiam. “Semua ini… perjodohan itu… aku dipaksa. Papa sama Mama nyuruh aku nerima perjodohan itu demi penyatuan perusahaan besar.” Nalendra mengusap punggung Amanda perlahan. “Tapi sumpah, demi apa pun… aku nggak pernah sentuh Sintia.” Matanya kembali berkaca-kaca. “Dari dulu… sampai sekarang… cuma kamu.” Amanda memejamkan mata. Dadanya sesak. “Mas… aku capek.” “Aku tahu.” Nalendra memeluknya lagi. “Aku janji… aku bakal selesain semuanya. Aku bakal pilih kamu. Aku nggak peduli perusahaan, politik keluarga, apa pun itu.” Ia menahan napas. “Manda… aku masih sayang sama kamu. Masih setengah mati. Jadi… jangan bikin aku khawatir lagi. Tolong…” Amanda terdiam lama. Ia tahu Nalendra tidak sedang berbohong. Laki-laki itu tidak pernah menangis sebelumnya. Tidak pernah menunjukkan kepanikan seperti semalam. Tidak pernah menunjukkan sisi paling rentannya kecuali padanya. Dan itulah masalahnya. Hatinya masih mencintai Nalendra. Sangat dan terlalu. Setelah begitu lama berusaha membenci… satu pelukan saja cukup untuk membuat semuanya kembali berantakan. “Aku… nggak tahu, Mas,” suara Amanda perlahan pecah. “Aku nggak tahu aku masih sanggup atau nggak.” Nalendra memegang wajahnya lagi, ibu jarinya menghapus sisa air mata. “Kamu nggak perlu jawab sekarang. Tapi jangan tutup pintunya, Manda. Jangan hilang lagi.” Amanda menggigit bibir, menahan emosinya yang berhamburan. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia membiarkan dirinya diam dalam pelukan laki-laki itu, tanpa menyembunyikan apa pun. Siang itu, vila besar itu menjadi saksi dua hati yang remuk. Yang mungkin masih bisa disatukan kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD