Matahari pagi mulai menembus tirai tipis vila keluarga Darwis. Cahaya lembut itu menyelinap masuk, menyapu lantai marmer, dan akhirnya berhenti di tepi ranjang besar tempat Amanda masih terlelap, terbungkus hangat oleh selimut dan kemeja yang semalam sempat dipakai Nalendra. Aroma maskulin yang melekat pada kainnya membuat tidur Amanda terasa lebih dalam, seolah tubuhnya menolak bangun dari ketenangan yang sudah lama tidak ia rasakan.
Di dapur, Nalendra bergerak pelan agar tidak membangunkannya. Roti panggang sudah keluar dari toaster, aroma coklat panas mengepul dari cangkir. Nalendra menata semuanya di atas nampan kayu, melirik ke arah tangannya yang sedikit bergetar.
Ini pertama kalinya aku masakin dia lagi… setelah semua yang terjadi…
Perasaan itu membuat dadanya sesak, campuran bahagia, takut, dan harapan yang belum sepenuhnya berani ia ucapkan dengan lantang.
Ia berjalan ke kamar, membuka pintu perlahan. Senyum muncul begitu ia melihat Amanda masih meringkuk, wajahnya tenang, rambutnya acak-acakan, kemeja miliknya tampak kebesaran dan tergulung di bahu Amanda.
Nalendra meletakkan nampan di meja kecil dekat ranjang. Lalu ia duduk di sisi tempat tidur, tubuhnya condong mendekat.
“Manda… sayang,” bisiknya sambil menyentuh pelan lengan Amanda. “Hei, kamu masih ngantuk ya? Bangun dulu yuk… aku masakin sarapan.”
Amanda bergumam kecil sebelum membuka mata perlahan. Cahaya pagi membuat matanya terlihat lebih bening dari biasanya. Ia sempat bingung sedetik, lalu wajahnya memerah saat menyadari kemeja yang ia kenakan.
“Mas…” suaranya serak. “Kamu bangun pagi-pagi?”
Nalendra tertawa pendek. “Iya. Aku sengaja. Mau manjain kamu.”
Amanda memalingkan wajah sebentar, mencoba merapikan rambutnya yang kusut. “Aku masih pakai… baju kamu.”
“Aku tahu.” Nalendra tersenyum hangat, matanya tak lepas dari Amanda. “Dan kamu kelihatan cantik banget.”
Amanda menggigit bibir menahan malu. Tapi tatapan Nalendra membuatnya tidak bisa bersembunyi. Laki-laki itu tidak mengedip sedikit pun, seolah ingin menangkap setiap detail wajahnya.
Nalendra mengusap pipi Amanda dengan ibu jarinya.
“Kamu masih cantik persis seperti dulu. Dan kamu nggak boleh sampai sakit…” Suaranya merendah. “Maaf… atas semua luka yang mungkin aku tinggalin dulu.”
Air mata tiba-tiba mengalir di wajah Nalendra. Tanpa ia tahan. Tanpa ia ingin.
Amanda kaget. “Mas… heii… sudah ah. Aku udah maafin kamu.”
Namun Nalendra menggeleng. “Aku bener-bener nyesel, Manda.”
Ia membelai rambut Amanda perlahan, seakan takut menyakitinya lagi.
“Kamu sayang nggak sama aku?”
Amanda menarik napas panjang. Ia menatap wajah laki-laki itu dalam-dalam. Mata yang selalu ia ingat. Mata yang pernah membuatnya merasa berharga… dan hancur sekaligus.
“Kalau aku nggak sayang…” Amanda berhenti sejenak, menunduk malu. “Nggak mungkin aku kasih kamu dekat lagi sama aku semalam.”
Nalendra tertawa kecil lega, meraih tangan Amanda lalu menciumnya lembut.
“Tapi lain kali…” Amanda melanjutkan, pipinya merah. “Pelan-pelan, Mas. Jangan terlalu hyper gitu.”
Nalendra menunduk, geleng-geleng sambil tertawa. “Aku kangen banget… takut kehilangan kamu lagi. Serius.”
Nadanya berubah lirih. “Makanya aku nggak bisa ngerem.”
Amanda menghela napas. “Mas…”
Lalu, pelan-pelan, ia menatap Nalendra. “Tapi gimana sama Sintia?”
Seketika senyum Nalendra menghilang. Tatapannya berubah tajam, teguh, dan penuh tekad.
“Biar aku yang urus,” katanya mantap. “Terserah papa, mama, perusahaan atau siapa pun. Yang jelas…”
Jemarinya menggenggam tangan Amanda lebih kuat.
“Cuman kamu yang berhak atas aku.”
Amanda menatapnya lama. Tidak percaya sepenuhnya. Tidak berani sepenuhnya. Tapi ia bisa merasakan keseriusan itu.
Dan itu membuat dadanya hangat sekaligus takut.
Nalendra memindahkan nampan ke pangkuannya.
“Nih, sarapan. Roti panggang sama s**u coklat hangat. Kamu harus makan.”
Amanda membuka selimut setengah, masih mengenakan kemeja Nalendra yang kebesaran. “Mas… kamu masak beneran?”
“Kamu kira siapa? Pagar vila?” goda Nalendra.
Amanda terkekeh. “Aneh banget kamu masak.”
“Nggak aneh dong. Aku kan… calon suami yang baik.” Nalendra sengaja berkata ringan, tapi matanya serius.
Amanda langsung memukul bantal dengan wajah memerah. “Mas! Jangan gitu…”
Nalendra tertawa dan menyuapkan sepotong roti panggang ke mulut Amanda. “Ayo makan. Nanti kamu sakit.”
Amanda mengunyah sambil memandangnya curiga. “Kamu perhatian banget ya pagi ini.”
Nalendra memegang dagunya pelan, ibu jarinya menyeka sisa remah roti di bibir Amanda.
“Aku harus… karena aku hampir gila semalam mikirin kamu.”
Amanda terdiam.
“Waktu kamu nggak angkat telepon,” lanjut Nalendra, “aku mikir hal-hal paling buruk. Aku panik. Kamu nggak tahu betapa banyak hal lewat di kepala aku.”
Amanda menunduk. Ada rasa bersalah menggelayut.
“Maaf…” ucap Amanda pelan. “Aku nggak bermaksud bikin kamu khawatir.”
“Aku bukan marah. Aku cuma takut.” Nalendra memejamkan mata sejenak. “Takut kamu hilang tanpa aku bisa berbuat apa-apa.”
Ia menarik Amanda mendekat, membiarkan kepala Amanda bersandar di dadanya.
“Mulai sekarang… kalau kamu susah, kalau kamu capek, kalau kamu butuh apa pun, bilang ke aku. Jangan pendam sendiri.”
Amanda mengangguk kecil, meski hatinya masih ragu.
“Aku terbiasa ngurus semuanya sendirian, Mas…” katanya lirih.
“Sekarang nggak perlu lagi.” Nalendra mengecup puncak kepala Amanda. “Aku ada di sini.”
Setelah sarapan, Amanda duduk di ujung ranjang sambil memandangi pemandangan pinus dari jendela besar vila. Nalendra berdiri di belakangnya, memeluk dari belakang, dagunya bersandar di bahu Amanda.
“Mas,” ujar Amanda tiba-tiba, suaranya pelan. “Kalau keluarga kamu maksa kamu tetap sama Sintia… terus gimana?”
Nalendra memejamkan mata. “Mereka boleh maksa. Tapi keputusan terakhir tetap aku.”
“Apa mereka bakal terima?”
“Mungkin nggak.”
Ia mengusap lengan Amanda lembut.
“Tapi aku sudah siap. Aku udah pikirin ini dari lama. Sekarang aku tahu apa yang aku mau.”
Amanda menggigit bibir. “Aku nggak mau jadi alasan kamu ribut sama keluarga.”
“Kamu bukan alasan,” jawab Nalendra tegas. “Kamu tujuan.”
Amanda memejamkan mata, terenyuh.
“Kamu pikir aku balik lagi sama kamu karena ego?” lanjutnya. “Aku balik karena selama kita jauh… nggak ada satu hari pun aku bener-bener bisa lupain kamu. Kamu selalu ada di kepala aku.”
Amanda menahan napas. Kalimat itu masuk terlalu dalam ke relung hatinya.
Lalu Nalendra berkata pelan, penuh ketulusan:
“Aku masih sayang sama kamu, Manda. Sampai sekarang. Sampai tadi malam. Sampai nanti.”
Amanda memutar tubuhnya, menatap laki-laki itu. Ada ketakutan. Ada harapan. Ada cinta yang masih mencoba sembuh.
“Mas…” suaranya pecah. “Aku juga sayang sama kamu. Tapi aku takut. Kita udah pernah gagal sekali…”
Nalendra memegang kedua pipinya. “Kalau jatuh sekali bukan berarti kita nggak bisa berdiri lagi kan.”
Amanda menghela napas, akhirnya membiarkan dirinya jatuh lagi ke dalam pelukan itu.
Dalam dekap tersebut, ia tahu satu hal:
Cintanya pada Nalendra tidak pernah benar-benar padam. Hanya terkubur. Dan sekarang, perlahan-lahan… hidup kembali.
“Ayo mandi,” kata Nalendra tiba-tiba.
Amanda menegang. “Hah? Kenapa?”
“Kita mau pulang jam sebelas. Aku mau kenalin kamu ke keluarga aku.”
Amanda tercengang. “Mas! Aku pakai kemeja kamu… rambut acak-acakan… wajah belum make up sama sekali lho.”
“Cantik.” Nalendra memotong cepat. “Kamu cantik. Apa adanya.”
Amanda menutupi wajah dengan kedua tangan, sementara Nalendra tertawa, memeluk pinggangnya dari belakang.
“Nggak usah takut lagi, Manda.”
Ia mengecup pelipis Amanda.
“Sekarang kamu sama aku.”
Dan untuk pertama kalinya sejak lama. Amanda percaya. Atau setidaknya, mulai belajar percaya lagi pada Nalendra.