Bab.8 Kegugupan Amanda

1153 Words
Amanda masih duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan menutupi wajah, sementara Nalendra tertawa pelan, memeluk pinggangnya dari belakang seolah ingin menenangkan getaran gugup yang jelas terasa. “Mas… serius kamu mau bawa aku ketemu keluarga kamu sekarang?” Amanda mencicit dari balik telapak tangannya. “Serius,” jawab Nalendra mantap. “Nggak ada latihan dulu, nggak ada gladi resik. Langsung.” Ia menempelkan dagu di pundak Amanda. “Aku mau mereka lihat perempuan yang aku pilih.” Degupan jantung Amanda melonjak. Kalimat itu sederhana, tapi terasa sangat dalam, dan menakutkan. “Baju aku apaan tau, Mas. Aku tuh… lihat nih.” Amanda menarik sedikit kain kemeja putih yang ia kenakan. “Kayak nyolong dari lemari kamu terus kabur tengah malam.” Nalendra makin keras tertawanya. “Justru itu lucunya. Kamu kelihatan… nyaman. Kayak kamu udah lama tinggal di sini.” Amanda mendorong bahunya pelan. “Mas, jangan bercanda. Aku tegang ini.” “Nggak usah tegang.” Nalendra memutar tubuh Amanda, tangan besarnya mengelilingi pipi Amanda yang memanas. “Aku di samping kamu. Aku yang ngomong, aku yang tanggung semua kalau ada apa-apa.” Tatapan matanya sungguh-sungguh, membuat paru-paru Amanda terasa sesak. “Kalau aku bilang jangan takut… berarti jangan takut,” ucap Nalendra lirih. Amanda mengangguk, walau kegugupannya belum sepenuhnya hilang. Tapi ada sesuatu di dalam diri Nalendra yang membuatnya tenang, ketegasan itu, keyakinan itu, cara laki-laki itu menatapnya seperti seluruh dunia bisa runtuh dan ia tetap akan memeluk Amanda duluan. Mandi dan heboh kecil yang tak terhindarkan “Ayo mandi,” ulang Nalendra sambil mengusap lembut puncak kepala Amanda. “Aku sendiri!” Amanda refleks berdiri, menatapnya dengan waspada. Nalendra memasukkan kedua tangan ke kantong celana. “Aku nggak bilang mau bareng, lho.” Amanda terdiam dua detik. Nalendra menaikkan alis sebelah. “Kalau kamu yang minta sih, aku juga nggak nolak...” “MAS!” Tawa Nalendra memenuhi kamar. Amanda memukul lengannya, tapi tidak keras. Hanya malu. Sangat malu. Wajahnya panas seperti baru disetrika. “Ya ampun, Mas. Serius dikit dong,” gerutu Amanda sambil mengambil handuk. “Nggak bisa. Kamu itu lucu banget kalau grogi.” Nalendra mengedip. “Dan aku seneng lihat kamu lucu.” Amanda hanya bisa menunduk, menahan senyum kecil yang mau tidak mau muncul. Di belakangnya, Nalendra memperhatikan langkah Amanda menuju kamar mandi, lalu berkata pelan sebelum pintu tertutup: “Manda… kamu cantik apa adanya. Beneran.” Amanda berhenti sejenak. Ia tidak menoleh, tapi ia tahu Nalendra tersenyum. Dan untuk beberapa detik, dunia terasa sangat ringan. Persiapan yang berjalan setengah gugup, setengah manis Setelah selesai mandi dan berdandan seadanya, bedak tipis, lip balm, dan rambut yang dikeringkan sekenanya, Amanda berjalan keluar dari kamar mandi. Ia menggunakan sweater soft beige dan celana jeans yang ia bawa kemarin. Sederhana, tapi rapi. Nalendra, yang baru selesai menyetrika kemejanya sendiri, kebiasaan lama yang belum hilang, berhenti dan memandangi Amanda dari kepala sampai kaki. Terdiam lama. “Mas?” Amanda mengerutkan kening. “Bajuku aneh ya?” Nalendra menggeleng pelan, mendekat, dan memegang kedua bahunya. “Nggak.” Ia menatap Amanda seolah baru menemukan sesuatu yang ia cari selama ini. “Kamu cantik banget. Natural. Pas banget buat ketemu keluarga aku.” Amanda mencubit lengan Nalendra spontan. “Jangan lebay.” “Aku nggak lebay.” Nalendra menarik Amanda ke pelukannya. “Aku cuma jujur.” Amanda mencoba menolak, tapi tangannya hanya menyentuh d**a Nalendra sebelum akhirnya jatuh lemas, membalas pelukan itu. “Mas…” bisiknya. “Aku beneran takut.” “Aku tahu.” Nalendra mencium keningnya. “Tapi kamu nggak sendirian. Toh kamu kan udah sering ketemu Mamaku." Turun ke ruang makan, kedekatan kecil yang mulai terasa wajar Saat mereka turun ke lantai bawah, aroma roti panggang dan coklat panas dari dapur masih menguar. Amanda mengintip dapur sebentar, melihat nampan sarapan yang tadi ia makan bersama Nalendra. Ada perasaan hangat yang merayap. “Ada apa?” tanya Nalendra sambil mengambil kunci mobil. “Kayak… rumah.” Amanda tersenyum kecut. “Padahal ini vila keluarga kamu.” Nalendra menghampirinya, merapikan sedikit rambut Amanda yang jatuh di pipinya. “Rumah itu bukan soal bangunan.” Ia menatap Amanda dalam-dalam. “Rumah itu orangnya.” Amanda memalingkan wajah. “Mas suka ngomong hal-hal yang bikin aku deg-degan.” “Bagus dong.” Nalendra mengambil jaket, memakaikannya ke bahu Amanda. “Supaya kamu nggak lari.” Amanda mendengus. “Masih bisa aku lari kalau perlu.” “Nggak akan.” Nalendra tersenyum miring, memegang tangan Amanda. Dan benar saja. Amanda tidak melepasnya. Perjalanan pulang canggung, manis, dan penuh rasa Mobil melaju turun dari area villa menuju jalan utama. Pemandangan pegunungan perlahan berganti deretan rumah dan toko kecil. Amanda duduk dengan punggung tegak, kedua tangan meremas pangkuannya sendiri. “Gugup banget ya?” tanya Nalendra sambil mengintipnya sekilas. “Banget.” Amanda mengeluarkan napas panjang. “Mas, aku tuh, bagaimana kalau mereka nggak suka? Atau mereka nanya macam-macam? Aku harus jawab apa?” “Jawab apa adanya.” “Terus kalau mereka bilang, aku bukan pilihan yang tepat buat kamu?” Nalendra langsung mengulurkan tangan kanannya, menggenggam tangan Amanda yang dingin. “Kalau mereka bilang begitu…” Ia menatap Amanda. “Aku tetap pilih kamu.” Amanda membalas genggaman itu, tapi tatapannya masih gelisah. “Nggak semuanya harus kamu hadapi sendiri, Manda.” Nalendra mengusap punggung tangannya. “Kali ini aku ada di depan kamu.” Amanda menoleh. “Mas… kamu yakin?” “Lebih yakin daripada keputusan apa pun yang pernah aku buat.” Mobil hening sesaat. Tapi keheningan itu bukan hampa. Lebih seperti ketenangan yang belum sepenuhnya berani diterima Amanda. Tiba di kediaman keluarga Darwis Gerbang besar kediaman keluarga Darwis terbuka otomatis begitu mobil mendekat. Amanda menelan ludah. Rumah besar itu terlihat mewah, bersih, tertata rapi rumah keluarga terpandang yang namanya sering muncul di berita. Ia hampir merasa seperti tokoh utama drama yang nyasar ke set film orang kaya. “Mas…” bisiknya. “Aku makin takut.” “Nggak apa. Pegang tangan aku.” Nalendra mematikan mesin, lalu mencondongkan tubuh ke arah Amanda, menatap wajahnya dengan lembut. “Aku di sini. Aku nggak akan ninggalin kamu walau satu langkah.” Amanda mengangguk pelan, meski jantungnya berdebar begitu keras. Begitu pintu mobil dibuka, angin sejuk langsung menyambut. Nalendra meraih tangan Amanda, menggenggamnya erat. Amanda hanya bisa menurut. Dari depan pintu, dua sosok sudah berdiri: ibunya Nalendra, Bu Anindya, dan ayahnya, Pak Setiawan Darwis. Keduanya menatap Amanda tajam, bukan jahat, tapi jelas menilai. Nalendra menegakkan tubuh, suaranya tenang namun tegas. “Pa, Ma.” Ia menarik Amanda maju setengah langkah. “Aku bawa seseorang yang penting buat aku.” Amanda hampir berhenti bernapas. Nalendra meremas lembut jemarinya, seolah berkata: Aku di sini. “Ini Amanda.” Nalendra menambahkan pelan namun mantap. “Perempuan yang aku pilih.” Hening. Detik itu, Amanda merasa seluruh hidupnya digantung di udara. Tapi tangan Nalendra tetap di genggamannya kuat dan begitu teguh. Seperti janji yang tak diucapkan, namun terasa jelas: Apapun yang terjadi, kita hadapi sama-sama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD