Keesokan harinya, Amanda bangun dengan perasaan yang lebih ringan. Tidurnya semalam lebih nyenyak dibanding malam-malam sebelumnya, seolah percakapan terakhir dengan Nalendra benar-benar menutup satu bab panjang dalam hidupnya. Ia bersiap-siap untuk ke kantor dengan lebih bersemangat, memilih blazer biru navy favoritnya dan sepatu heels cream yang selalu membuatnya merasa percaya diri. Di kantor, Amanda langsung tenggelam dalam kesibukan. Ada presentasi untuk klien besar di siang hari, dan ia harus memastikan semua data dan proyeksi keuangan sudah sempurna. Rekan kerjanya, Sarah, menghampirinya dengan secangkir kopi. "Kamu kelihatan lebih segar hari ini," komentar Sarah sambil meletakkan kopi di meja Amanda. "Ada kabar baik?" Amanda tersenyum tipis. "Mungkin karena aku sudah membuat kep

