awal mula

1074 Words
Di keramaian kota frosera dipenuhi orang-orang melakukan kegiatan sehari-hari. "Cebol jadi kita harus kemana? "Ruka dengan nada malas melihat freya. "Tunggu sebentar kata emily, kita haru!...."freya yang tadinya mencoba membuka surat pemberian emily terdiam saat mendengar keributan. Ruka melihat ke arah keramaian dan mendekat, diikuti freya di belakangnya. "Jangan bergerak! "Kata laki-laki memegang pisau dan menjadikan wanita sebagai sandera nya. Wanita itu ketakutan dan menangis di tidak dapat berteriak karena mulutnya di bekap. "Tuan jangan bergerak! "Ada juga beberapa orang-orang seperti polisi namun mereka menggunakan pedang bukan pistol. "Turunkan senjata kalian! "Laki-laki mulai menusuk sedikit pisaunya ke leher wanita itu. Wanita itu menangis saat darah sedikit menetes di lehernya, "turunkan senjata kalian! "Ketua polisi itu menurunkan senjatanya. Laki-laki itu tersenyum jahat, "cepat siap kan kuda kepadaku, dan bersihkan jalan menuju keluar kota! "Dia meneriaki polisi itu. Ketua kepolisian menahan amarahnya, "cepat bersihkan ja...! "Ketua kepolisian terdiam saat melihat anak laki-laki dengan jubah putih mendekati penjahat. "Nak menjauh lah! "Ketua kepolisian meneriaki anak itu. Freya terdiam saat tidak melihat ruka di samping nya ,"ruka! "Dia terkejut melihat ruka di depan penjahat. Ruka dengan malas menunjuk ke pisau penjahat, "woi paman benda itu berbahaya! "Kata ruka. "Menjauh lah! "Dia meneriaki ruka dan menusukkan pisaunya lagi membuat darahnya makin banyak menetes. Ruka terdiam dan terlihat mata dingin dan tenang tertampil di wajahnya. "Aku paling membenci saat laki-laki melukai wanita! "Ruka dengan mata dingin dan tepat di depan wajah laki-laki itu. Penjahat mulai mencoba menikam wanita itu namun, "thumbs "dia menjatuhkan pisau di belakang nya Tangan ruka menembus tubuh penjahat dan wanita itu, sambil menggenggam pisau yang di jatuhkan penjahat. Semua orang ketakutan melihat kejadian tersebut, ruka mulai menarik tangan nya dan mengambil wanita yang di sanderanya. Wanita itu bingung karena tidak melihat perutnya yang berlubang karena pukulan ruka barusan. "Ahhhhh, kenapa ada pisau di perutku! "Dia berteriak panik karena melihat pisau di perutnya. "Kau operasi saja, untuk membuang pisau itu bodoh! "Ruka dengan nada malas meninggalkan penjahat itu sambil membawa wanita itu. Para polisi mulai memborgol penjahat dengan cepat membawanya ke rumah sakit itu mengeluarkan pisau di perutnya. Wanita yang di selamatkan ruka nampak bingung dengan kejadian barusan. "Tampannya! "Wanita itu dengan pipi merona melihat ruka. Semua penduduk dengan kagum melihat ruka terdiam saat, "kalian pergilah ini bukan tontonan! "Ruka membentak semua penduduk. Ruka meninggalkan wanita itu bersama polisi dan pergi tanpa mengucapakan sepatah katapun. Freya dan ruka mulai berjalan meninggalkan keramaian, namun semua orang masih memandang ruka dan freya. "Kau menjadi pusat perhatian lagi! "Freya agak kesal melihat ruka. "Sial, .... Aku tidak ingin melihat wanita terluka di depanku! "Ruka dengan nada malas namun kesal. Freya terkejut, "(saat dia mendaratkan pukulannya barusan,dia sekaligus menyembuhkan lukanya....dia gegabah namun nampaknya dia sudah merencanakannya )"freya melihat ke arah ruka. "Kenapa cebol "ruka bingung melihat freya yang menatapnya. "Tidak ada"freya menutup matanya dengan senyuman kecil di wajahnya. Ruka masih agak bingung dan akhirnya di sebuh cafe, ruka dan freya memesan minuman karena cuaca agak panas. "Jadi nenekku mengatakan aku harus bersekolah"ruka meniup minumannya membuat gelembung kecil. "Ya begitulah, ini yang tertulis di suratnya"freya menunjukan suratnya. Ruka nampak malas melihat ke langit yang nampak cerah, "sekolah ya"ruka dengan tenang. "Jika emily mengatakan sekolah berarti, havard akademi? "Freya dengan nada malas. "Havard, woi kau pikir ini boston huh? "Ruka dengan wajah bodoh melihat freya. "Boston apa, ini sekolah yang dibuat kakek mu"freya kesal melihat ruka. "Heh, (kakek jangan-jangan kau menamai kota ini mirip seperti dunia kita atau mungkin menara jam itu juga!) "ruka berpikir menyamakan menara jam dikota ini dengan big band yang ada di inggris. "Oke ayo kita pergi, untung aku masih ingat jalan di kota ini walaupun sudah banyak berubah! "Freya tersenyum dan berjalan mendahuluiku. "Cebol tunggu! "Ruka berjalan mengikuti freya di belakangnya. Tak beberapa lama kemudian sekitar 30 menit ruka dan freya berjalan, namun entah kenapa freya menunjukan raut wajah agak sedih kondisi tempat yang amat berbeda. Freya hanya teringat kota ini tidak sebesar dulu, lahan pertanian dimana-mana saat tuan dan nyonya bercocok tanam. "Kalau tidak salah ini tempat nyaaaa! "Freya terkejut saat melihat sekolah yang amat megah ... ... "Gila mirip sekolah orang kaya saja, bahkan ini lebih Bagus dari universitas harvard yang ada di amerika! "Ruka terkagum-kagum. Freya hanya menunjukan wajah bodoh karena melihat perkembangan yang begitu pesat di kota ini. Mendadak ruka dan freya menjadi pusat perhatian karena mereka tidak memakai seragam sekolah. "Kau jangan malu-maluin cepat! "Freya menarik tubuh ruka masuk ke dalam sekolah ini. Saat freya masuk kedalam sekolah bersama ruka matanya terkagum karena keindahan tempat ini. Karena tempat ini yang begitu besar selama 20 menit freya dan ruka hanya berada di tempat yang sama berulang-ulang. "4 kali ketempat ini! "Ruka melihat tanda yang dia buat di dinding. Freya menahan amarahnya dan membanting ruka, "jalan sendiri tanganku pegal! "Freya dengan tangan memerah. "Baik-baik wohhhhhh lihat! "Ruka terkagum melihat rumah kaca yang dipenuhi akar. Ruka berlari ke arah sana dan masuk kedalam rumah kaca, "woi tunggu! "Freya mengejar ruka. Ruka terkagum-kagum, melihat tanaman yang agak berbeda dengan dunianya, namun ada beberapa kemiripan juga. Saat ruka melihat-lihat dia terkejut saat melihat wanita yang merawat tanaman. Rambut hitam panjang yang amat Indah seperti langit malam yang gelap, dan saat dia menyentuh bunga terlihat es menutup kuncup nya. Saat es mencair bunga mulai mekar, dan terlihat kuncup bunga biru menyala bersinar amat terang. "Indahnya! "Ruka terkagum-kagum. Wanita itu mendengar suara ruka dan melihat ke arahnya, cahaya yang amat terang menyinari rumah kaca ini membuat bunga-bunga memantulkan cahayanya. ...  ... Wanita itu terkejut matanya tidak mempercayai apa yang dia lihat, mata biru muda yang terlihat mirip seperti kenalannya dulu dengan rambut hitam gelap. Mulutnya tidak dapat menahan lagi dan mengucapkan, "reiji! "Dia dengan detak jantung yang agak kencang. Ruka menunjukan raut wajah penuh ke bingung gan karena wanita itu menyebut nama kakek moyangnya, namun perasaan yang dirasakan ruka sekarang adalah kesedihan namun kebahagian juga saat melihat wanita itu membuat dia menampilkan senyuman senang di bibirnya. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD