Teman

1039 Words
Wanita itu nampak gelisah dengan detak jantung yang tidak beraturan karena melihat temannya yang telah meningal 20 tahun lalu, di depan matanya masih hidup yang nampak mudah. "Maaf mengecewakan anda, perkenalkan namaku ruka muramasa"ruka menundukkan kepalanya. Wanita itu mulai tenang dan menampilkan senyuman di wajahnya, "namaku adalah tsuki salam kenal ruka!..."tsuki terkejut karena sebuah tendangan menghantam wajah ruka. "Sudah aku bilang jangan pergi kemana-mana !"freya mencengkram kerah baju ruka. "Aku enggak kemana-mana cebol, kan sudah melihat aku pergi ke rumah kaca ini"ruka menarik pipi freya. "Freya! "Tsuki terkejut sambil mengarahkan tangan kanannya karena tidak percaya apa yang dia lihat. Freya melihat ke arah tsuki, "tsuki! "Freya menampilkan senyuman dan memeluk tsuki dengan penuh kesenangan. "Lama tidak bertemu freya, kau tidak berubah sama sekali! "Tsuki memeluk freya dengan senyum kebahagian. "Kau juga, tetap sama walaupun sudah 80 tahun"kata freya. "Ngomong-ngomong bagaimana bisa anda berada disini!"tsuki melepaskan pelukannya. "Kalau itu sebenarnya karena dia juga! "Freya menunjuk ke arah ruka yang nampak bingung. "begitu ya jadi nak apa hubunganmu dengan freya"tsuki tersenyum manis. "Huh, kalau itu sebenarnya dia adalah cicit reiji"freya dengan nada malas melihat ruka. Tsuki terkejut namun menampilkan senyuman saat melihat ruka yang memiliki kemiripan seperti reiji. "Tunggu aku memiliki satu pertanyaan..... Apakah anda sudah nenek!"ruka mendadak heboh. "Heh! "Tsuki dengan tatapan bodoh melihat ruka. Freya menepuk kepalanya, "seperti yang kau lihat walaupun dia mirip seperti reiji, tapi kepribadian nya enggak! "Kata freya menarik nafasnya. "Hahaha! "Tsuki tertawa melihat ruka yang nampak menghiburnya. Ruka nampak bingung dan berdiri ,"nampaknya anda mengenal kakek moyang saya, jadi terima kasih banyak telah menjaga dia! "Ruka menundukkan kepalanya. "Tidak-tidak, tenang saja lagipula saya yang sering merepotkan reiji! "Tsuki menundukan kepalanya, "jadi apa Yang bisa saya bantu tuan dan nyonya sekalian? "Tsuki menghormat dengan sopan. "Sebenarnya ini! "Freya memberikan surat yang dibuat emily. Tsuki membaca surat dengan amat teliti, "hemmm ,aku paham jadi bagaimana keadaan emily sekarang?"tsuki tersenyum melihat ruka. "Nenek baik-baik saja,hehehe"ruka tertawa senang. "Baik karena kepala sekolah tidak akan pulang untuk beberapa hari, maka dengan ini aku angkat anda menjadi murid di kelasku"tsuki tersenyum manis. "Terima kasih banyak, maaf merepotkan mu tsuki "freya menundukan kepalanya berterima kasih. Tsuki tersenyum dan saat dia melihat ke arah ruka, ruka menghilang dan ternyata berada di atas rumah kaca. "Gilaa ini beneran sekolah! "Ruka terkagum karena melihat seluruh sekolah ini. Freya menahan amarahnya dan mencoba menurunkan ruka dari atas rumah kaca. "Hehehe, (dia benar-benar mirip sekali denganmu reiji) "tsuki teringat akan mendiang reiji muramasa yang telah meninggal 20 tahun lalu. Akhirnya tsuki mengajak ruka dan freya menunju kelas yang dia ajarkan, saat mereka masuk kedalam kelas semua murid mulai berdiri untuk menghormati wali kelasnya. "Selamat pagi guru tsuki! "Semua murid menyapa tsuki. "Selamat pagi semuanya, dan juga nampaknya kalian akan memiliki teman baru"tsuki melihat ke arah ruka dan freya yang berada diluar kelas. Ruka dan freya masuk kedalam kelas dan melihat 40 murid, 20 murid laki-laki dan, 20 murid perempuan dengan wujud tidak seperti manusia. "Siapa dia? "Kata salah satu wanita dengan telinga kucing. "Aku juga tidak tahu, bagiamana bisa murid baru diterima di semester dua"kata laki-laki dengan tanduk mirip kambing yang berada di sampingnya. "Kalau begitu nak, bagaiman jika memperkenalkan dirimu! "Tsuki tersenyum manis melihat ruka. Ruka menundukkan kepalanya menghormati semua murid, "perkenalkan namaku ruka muramasa"ruka tersenyum senang. Semua murid terdiam dan terkejut, "tadi dia bilang muramasa bukan! "Kata laki-laki bertanduk. "Iya dia mengatakannya barusan! "Kata wanita dengan sisik kadal di tangannya. "Anu apakah kalian keberatan dengan nama keluargaku"ruka dengan tatapan bodoh melihat teman sekelasnya. Semua murid sekelas ruka mulai panik dan heboh, karena ruka menyebutkan nama keluarganya. "(Aneh padahal di duniaku keluarga muramasa ada banyak?) "ruka mengelus kepalanya karena bingung. "Kau... "Terdengar suara yang nampak tenang di belakang tempat duduk. Terlihat wanita dengan kaki berada di atas meja menunjukan mata dingin melihat ke arah ruka. Ruka teringat akan wajahnya, "kau tomboy yang tadi pagi! "Ruka menunjuk ke arah wanita berambut merah itu. Wanita itu menurunkan kakinya yang berada di atas meja, dia turun tangga dengan sangat tenang namun auranya terasa amat dingin sampai membuat bulu kuduk bediri. Akhirnya wanita itu berada di depan ruka, dan melihat ke matanya dengan penuh ke tenang gan. "Tadi pagi aku mengatakan aku tidak akan mendengarkan apapun, tapi sekarang aku mendengarkan nya beraninya kau menghina dia dasar sampah! "Wanita itu melotot melihat ruka. Dengan amat cepat sebuah benda tajam mengarah ke wajah ruka, ruka menghindar dengan melompat dari jendela. Saat tubuh ruka berada di tanah dia melihat luka gores di pipinya,"cepatnya dia lebih cepat dengan rantai kemarin "ruka membersihkan darah di pipinya. Ruka mendadak terdiam merasakan aura wanita itu yang berada di belakangnya. "Kau mau kemana! "Kata wanita itu dengan suara dingin. Ruka melihat ke arah belakang dan melihat wanita itu mencoba menebasnya dengan belati. Belati yang telah berada di leher ruka, "(gawat aku tidak bisa menghindar!) "belati telah menyentuh kulitnya. "Tranggg"suara senjata beradu dan terlihat freya dengan wujud pedang menahan belati wanita ini. Wanita itu terkejut dan ruka menjaga jarak padanya, "senjata itu? "Wanita itu nampak bingung. "Cebol kemari! "Freya langsung terbang ke genggaman tangan kiri ruka. "Jangan panggil aku cebol! "Freya memarahi ruka dalam bentuk pedang. Freya terhenti karena melihat ruka yang amat serius karena merasakan hawa yang amat berbahaya dari wanita ini. "Hehehe, menarik sekali kalau begitu ayo kita mulai lagi! "Wanita itu mengeluarkan satu belatinya lagi di punggungnya. ...  ... Ruka binggung karena melihat kuda-kuda dia saat memegang belati agak aneh karena tangan kirinya tidak menunjukkan belatinya. "Tebasan amarah! "Wanita itu berputar sekali saja dengan amat lambat. Insting ruka merasakan hawa berbahaya dan saat dia menghindar terlihat pohon terpotong dua, bebatuan terpotong dua. "Reflek yang Bagus "dia tersenyum dingin melihat ruka. Ruka hanya diam saja karena merasakan hawa yang amat berbahaya terhadap wanita ini dengan senyuman dingin tertampil fi raut wajah. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD