Santorini
Berdua dalam satu ruangan dengan Rexia membuat otak Arslan gila dalam seketika. Pria itu selalu menarik dan menghembuskan nafas berkali-kali, bahkan bibirnya menggumamkan doa agar jantungnya tidak bermaraton untuk saat ini.
Konyol? Iya, itu seperti bukan sifat Arslan.
Keduanya sama-sama terdiam, jika Arslan sibuk mengatur detak jantungnya. Maka Rexia sibuk dengan pikirannya sendiri, wanita itu sepertinya tidak menganggap keberadaan Arslan.
Mungkin, jika Fawnia tidak meminta bantuan Stevano untuk membeli kebutuhan rumah, mereka berdua tidak akan ada dalam satu ruangan seperti sekarang.
"Rexia." panggil Arslan.
Rexia menolehkan kepalanya dan menatap Arslan dengan tatapan tanya, "Apa?"
"Bisakah kita tidak canggung seperti ini?" dapat Arslan lihat perubahan pada mimik wajah Rexia. Sepertinya ia salah bicara.
Dan benar saja, Rexia langsung bangkit dari duduknya dan berlalu pergi meninggalkan Arslan sendirian. Jika seperti ini, maka salahkan saja mulut Arslan yang tidak tahu sikon. Dan sekarang apa bedanya dia dan Stevano? Sama-sama tidak bisa menjaga perkataan.
Sepertinya, bersama Stevano cukup lama membuat semua keburukan Stevano melekat dalam dirinya.
"Astaga dia pergi." gumam Arslan. Ia mengusap wajahnya frustrasi, tak tahu harus berbuat apa sendirian disini.
Omong-omong tadi ketika berdua bersama Rexia, ada satu hal yang berbeda dalam diri Rexia. Wanita cantik itu terlihat banyak pikiran dan cenderung mengabaikan orang disekitarnya. Meskipun sibuk menormalkan detak jantung, Arslan juga masih sempat memperhatikan Rexia.
Bahkan Rexia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi wajah. Wajahnya datar tak berekspresi, sama dengan dirinya sebelum bertemu Rexia.
Seperti ada yang menjanggal dari Rexia. Tapi Arslan belum bisa memastikannya apa itu.
"REXIAA."
Teriakan itu membuat lamunan Arslan terbuyar sudah. Ia menatap kearah wanita yang baru saja meneriaki nama Rexia. Wanita glamour yang menurut Arslan tidak punya etika.
Arslan berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati wanita itu, "Kenapa kau meneriaki nama Rexia?"
Sontak, kehadiran dan pertanyaan Arslan membuat wanita itu, terkejut.
"Siapa kau? Kenapa bisa ada dirumah Rexia?" bukannya menjawab pertanyaan Arslan, wanita itu malah balik bertanya. Dan itu membuat Arslan jengkel.
"Kenapa kau meneriaki nama Rexia." ulangnya.
"Ak--"
"Ada apa Alexis? Dari mana kau tahu rumah ini?"
Belum sempat mendengar ucapan wanita didepannya, suara dari belakangnya terlebih dahulu memotong pembicaraan.
Disana, didekat pintu terlihat Rexia tengah menatap wanita yang baru saja dipanggilnya, dengan nama 'Alexis'
Tatapannya berbeda, terkesan kosong.
"Ada apa? Tentu saja untuk memperingati mu jalang. Dan jangan tanya aku tahu rumah ini dari mana, asal kau tahu Rexia. Menemukan keberadaan mu itu tidaklah sulit."
Diam, Rexia diam.
"Aku tahu sampai sekarang kau masih mencintai suamiku kan? Aku berdiri disini bukan tanpa alasan, aku ingin memeringatkan satu hal padamu sebelum aku bertindak lebih lanjut Rexia. Lupakan Robert dan jangan sedikit pun menyimpan cinta untuk Robert, karena dia tidak akan membalas cinta mu itu. Dia sudah melupakan mu Rexia, kau sudah tidak dianggap oleh dia. Dan ingat ini Rexia, Robert itu sudah menjadi suamiku, dan status mu dengan dia hanya mantan suami istri!"
Terkejut? IYA.
Semua perkataan wanita yang bernama Alexis itu seakan meracuni pikiran Arslan. Dan sekarang, ada satu pertanyaan yang memberontak ingin keluar dari mulutnya. Apa Rexia seorang janda?
"Sudah, cukup untuk hari ini. Aku diam selama ini bukan berarti aku lemah, aku diam karena aku tidak tahu harus berbuat apa. Dan jangan sekali-kali menyuruhku untuk berhenti mencintai Robert, karena Robert adalah cinta pertama ku dan akan selalu menjadi pemilik hatiku. Kau hanyalah orang ketiga yang masuk dalam rumah tangga ku dan menghancurkan segalanya. Segalanya kau hancurkan, dan setelah itu kau merebut suamiku." lirih Rexia. Tidak ada niatan untuk balik membentak ataupun marah-marah.
Dan sekarang Arslan semakin bingung dengan situasi ini.
"Aku menghancurkan rumah tangga mu? Astaga Rexia, ingat. Robert meninggalkan mu karena dia kecewa sebab kau tidak bisa menjaga calon anaknya, calon anaknya meninggal sebelum terlahir dan melihat dunia fana ini. Dan satu lagi yang perlu kau ingat kakak ku, dia tidak sudi mempunyai istri gila seperti mu."
"Ah sudahlah, berlama-lama disini membuatku hatiku panas. Dan aku kembali mengingatkan, lupakan cinta mu itu, karena itu membuat aku risih. Aku tidak mau suamiku dicintai oleh wanita lain!"
"Dan untuk kau tuan, tidak tahu kah kau jika wanita disamping mu itu gila? Dia gila tuan, dia gangguan jiwa." lanjut Alexis sebelum benar-benar pergi dari sana.
Dan sekarang tinggallah Rexia dan Arslan berdua.
"Aku tidak gila, aku tidak gangguan jiwa." gumam Rexia disela-sela pemikiran Arslan.
"Rexia." panggil Arslan.
"Aku, aku pembunuh. Aku membunuh anakku sendiri, aku ibu yang jahat hiks." lirih Rexia
"Tidak, aku tidak gila. Aku, aku pembunuh."
"Aku, sudah membunuh anakku sendiri."
"AKU TIDAK GILAAAA."
Teriakan Rexia melengking dan tubuhnya sudah meluruh dilantai. Tubuhnya berkeringat dingin dan kondisi tubuhnya melemah.
"Aku pembun--"
Kegelapan sudah terlebih dahulu menghampiri Rexia dan merenggut kesadarannya. Arslan yang melihat itu panik tidak karuan. Dan sekarang dia yang dia panjatkan, agar Fawnia dan Stevano cepat kembali.