AUTOR POV
ada hal baru yang menjadi keseharian seorang sandrina di usiannya yang baru menginjak 18 tahun
oe.. oe.. oe..
kalau biasanya kokokan ayam yang membangunkan seseorang dari tidurnya bagi dina tangisan baby kevin mirip seperti itu
"selamat pagi jagoan.. "
dina menguap lebar, sedikit peregangan membuat tubuhnya rilex, setelah meneguk air mineral dina mengangkat baby kevin dan memindahkannya ke stroler tentu saja setelah mengganti popok yang di pakai semalaman.
matahari pagi mulai muncul dengan malu malu, sinar hangatnya menyentuh pori pori kulitnya yang dingin karena AC
"semoga kita selalu di berikan kesehatan dan kebahagiaan ya kev" ucap dina menyemangati dirinya sendiri
sudah satu minggu sejak dina menjadi baby sitter di kediaman zein alfareza, kesehariannya sederhana, mengurus baby kevin dan dirinya sendiri.
di usia kevin yang baru 10 hari tentu saja tidak banyak yang bisa dina kerjakan tapi ada satu PR yang mengganggu pikirannya
"selamat pagi dina, pagi juga anak papa"
yaitu kesehatan jantung dina yang akhir akhir ini melemah
"selamat pagi pak, tidurnya nyenyak pak?"
"yah seperti biasa, oh ya din, nanti mama mau kesini dan kayaknya bakalan nginap juga, aku udah minta bibi siapin kamar tamu, jadi kalau nanti mama mau tidur sama kevin kamu tidur di kamar atas ya"
"iya pak saya mengerti" setiap kali berbicara matanya tidak bisa fokus, dina akan menatap langit langit, lantai bahkan udara hal itu di lakukan demi kesehatan mental dan jiwanya
"aku nggak nyangka ternyata menjadi waras lebih susah ketimbang jadi gila terus hilang akal"
batin dina menenangkan batinnya
apakah alasan istri zein kabur karena tekanan yang sama seperti yang di alami dina? entahlah, hanya istrinya dan Tuhan yang tau
selesai memandikan kevin dina mengulur waktu dengan menyiapkan s**u atau membersihkan kamar
tok tok
"mbak dina, di tunggu tuan di meja makan"
bi lastri apa tidak bosan ya, setiap pagi berteriak memanggil dina seperti memanggil anak kecil untuk bangun dan bersiap ke sekolah
"iya makasih bi"
langkah kakinya sungguh berat, ini salah satu ujian yang paling sulit untuk ia hadapi, zein tidak akan mulai makan sebelum dina duduk di hadapannya saat sarapan
"bapak mulai duluan saja tidak usah menunggu saya, nanti saya sarapan sendiri, takutnya bapak terlambat" ucap dina sopan
"nggak papa, saya nggak suka makan sendiri, ayo duduk, oh.. anak papa udah mimik cucu ya" kevin ada di stroler samping kursinya sementara dina duduk di depannya
"aku berharap istrinya segera kembali agar aku terbebas dari semua olahraga jantung ini" itulah harapan dina setiap pagi saat sarapan
setelah mengantar zein berangkat ke kantor dina masuk, kadang dia menawarkan diri ke bi lastri untuk membantu pekerjaan rumah tapi selalu saja di tolak
"sudah kamu jaga den kevin aja, bibi udah biasa kerja sendiri, malah bibi tu seneng ada kamu disini, selama bu maya hamil terutama setelah hamil tua tuan zein selalu makan sendiri, saya sedih lihatnya, kasihan, dia udah kerja seharian tapi di rumah berasa asing padahal punya istri"
"iya juga sih bi, kasian... tapi... apa bibi nggak kasihan sama jantungku yang lemah ini, tiap liat pak zein detaknya tuh cuuuupet banget bi, kadang kalau pak zein deket gitu aku sampe lupa nafas loh, saking nervesnya"
bi lastri terkekeh mendengar celoteh dina, bukan sekali dina mengungkapkan kekagumannya terhadap calon duda ganteng itu
"iya bibi tau, malah aneh kalau kamu biasa aja di dekat tuan, bibi aja yang udah tua gini masih kagum tiap harinya"
dan keduanya kini tertawa mendengar pengakuan masing masing
sepertinya proses perceraian sudah selesai, mama zein datang dengan wajah sumringah sambil membawa amplop di tangannya
"siang dina sayang, cucu oma yang ganteng, bi lastri"
"selamat siang" dina dan bu lastri kompak menjawab
"bi saya baru selesai belanja, hari ini kita makan makan ya, din kevin sudah kenyang belum?"
"sudah tante.. kenapa?"
"barusan zein telfon, ada berkas yang ketinggalan, kamu tolong antar sama pak naryo pakai mobil saya, kevin biar tante jaga"
"baik tante, saya ambil dulu berkasnya"
ruang kerja zein ada di lantai dua, di seberang kamar yang seharusnya di pakai dina, tapi karena setiap malam menemani kevin akhirnya kamarnya tidak terpakai
dina mengambil berkas yang ada di atas meja, sebelum membawanya dia memastikan berkasnya benar setelah menghubungi tuannya
mobil toyo alpa keluar dari perumahan elit menuju jalan raya yang sudah padat karena hampir waktunya makan siang
dina meneliti jalan yang di lalui pak naryo
"pak kita mau kemana ya?" tanya dina bingung karena dia belum pernah melewati jalanan tersebut
"ke kantornya pak zein mbak" jawab pak naryo
"bukan ke Hotel Utama ya pak?" pria paruh baya itu nampak berfikir sejenak
"oh... kantor pak zein ada di jalan barata mbak, hotel utama itu salah satu anak perusahaan"
"oo... saya pikir pak zein kerja di hotel juga" tentu saja gadis muda itu tidak tau menau tentang pekerjaan bosnya, tempat yang di ketahuinya hanya seputar kos dan hotel
"kita sudah sampai mbak, saya tunggu di parkiran, nanti kalau sudah selesai mbak telfon ke nomer saya, jangan lupa di simpan dulu nomornya" ucap pak naryo menjelaskan
dina melangkah menuju lobby gedung WG (winner grup), satpam membimbing dina menuju meja resepsionis, ada seorang wanita dan pria menyapa dina dengan sopan
"selamat siang, ada yang bisa kami bantu?"
"saya mau bertemu pak zein"
wanita itu tampak bingung setelah saling bertatapan dengan rekannya, dia menatap dina dari ujung kaki hingga ujung kepala
"apa anda sudah membuat janji?" masih dengan sopan dia bertanya hanya saja tatapannya penuh selidik.
dina menyadari tatapan wanita itu, dia sadar betul penampilannya sangat sederhana terlebih zein adalah pimpinan dan pemilik WG, seperti yang di katakan pak naryo beliau adalah pengusaha muda yang sukses, pasti aneh ada orang biasa yang mencari atasannya di jam kerja
"saya belum membuat janji, tapi beliau minta saya bawakan dokumen"
"baik, mohon tunggu sebentar, saya akan menghubungi kantor pak direktur, silahkan duduk dulu" dina mengikuti arahan resepsionis tersebut
tidak lama kemudian seorang pria keluar dari lift menemui dina yang tengah duduk manis di ruang tunggu. pria itu melambai ke arah resepsionis dan mereka pun mengerti tanpa di jelaskan dengan kata kata
"apa ada yang membuat anda tidak nyaman selagi menunggu tadi? maaf saya lupa menjelaskan pada karyawan di bawah" jelas pria itu sopan
tidak mungkin dina mengadu seperti bocah yang kehilangan permen dari tangannya
"tidak ada, hanya saja pakaian saya sepertinya kurang cocok untuk pergi ke tempat ini" ucap dina sambil tersenyum
"itu tidak benar benar, kalau telanjang mungkin termasuk dalam kata tidak pantas" jawannya sambil tertawa, "saya adit sekertaris pak zein, salam kenal"
dina menjabat tangan pria muda dan tampan tersebut
"sandrina, biasa di panggil dina, saya asisten baru pak zein atau baby sitter sementara"
sampai di lantai 9 adit mempersilahkan dina masuk ke ruangan direktur yaitu ruang kerja zein, dina mengetuk pintu dan terdengar suara yang memintanya masuk
dina berdiri di depan pintu, zein tengah sibuk dengan panggilan telfon, gadis muda itu tidak berani menyela meski hampir 30 menit dia berdiri hingga kakinya mati rasa, tentu saja dia tidak bergeser satu inci pun dari tempat pertama kali sampai
setelah sambungan telfon terputus,
"kamu ngapain masih berdiri?" tanya zein heran
dina diam tak langsung menjawab
"kamu nggak papa?" zein berdiri dari tempat duduknya dan coba mendekat
"maaf pak, kaki saya keram"
pria itu tak bisa menahan tawa, terlihat sekali dia mencoba menguasai dirinya, perlahan dina di bimbing ke kursi setelah merasa lebih baik akhirnya dia memberikan berkas yang ada di tangannya
"ini pak berkasnya"
"makasih ya, maaf jadi ngerepotin kamu, sudah makan siang belum?"
dina diam sejenak
"sudah pak, bapak sudah makan siang?" sudah jam satu lebih, jelas ini sudah lewat jam makan siang
"belum, saya masih ada banyak pekerjaan yang harus di selesaikan, ya sudah makasih untuk bantuannya, par naryo masih nunggu di bawahkan?"
entah kenapa dina merasa bukan dirinya sendiri
"boleh saya temani bapak makan siang? sebenarnya saya bohong, saya juga belum makan, tadi buru buru soalnya"
kadang seseorang juga bisa menjadi kadang kadang.