MEMINTA IZIN

1031 Words
autor pov dina sampai di kos sekitar pukul 5 sore, helen dan mira baru saja pulang kerja, mereka ngobrol santai di balkon lantai dua tidak lama kemudian bian dan temannya bergabung "gimana kabarnya dek?" tanya bian begitu wajahnya muncul di pintu "kabar baik, kak bian apa kabar?" gadis itu tersenyum lebar "baik juga, kamu bakal nginep disini hari ini?" "iya kak, besok kak lina kesini, aku belum cerita soal kerjaanku soalnya" "lho kamu belum cerita ke kakakmu dek? kok belum cerita? kenapa?" tanya helen khawatir begitu juga kakak kakak yang lain "kemarin sibuk kak, maklum baru sekali ini kerja jadi baby sitter jadi belum biasa, kemarin aja baru inget pas di telfon" jelas dina "aduuh, kamu ini bikin khawatir aja, ya udah besok omongin baik baik ya, kalau butuh bantuan atau sesuatu bilang aja, nanti kita bantu, kakak kamu pasti kaget" "siap kak, makasih" bukan takut di marahi, dina justru khawatir dia harus berhenti kerja karena kakak dan orang tuanya tidak setuju meski ada jaminan jika dia bisa bekerja di hotel setelah mereka dapat baby sitter baru, dina tetap ragu untuk menceritakan semuanya secara detail "dek.. dek dina" sesaat gadis muda itu tenggelam dalam pikirannya sendiri "ya kak..?" helen memeluk erat tubuhnya, sememtara yang lain hanya menepuk bahunya untuk menyemangati "nggak papa, kamu jujur aja ke keluargamu, kakak yakin mereka akan mengerti, lagi pula, kamu kan kerjanya halal, bukan yang aneh aneh jug, jadi nggak usah takut ya.. atau mau kakak temani aja besok, aku bisa ambil cuti kalau kamu mau" benang rumit di kepalanya mulai terurai mendengar penjelasan helen, dina sendiri tidak menceritakan secara gamblang pada kakak seniornya itu perihal pada siapa sebenarnya dia bekerja "iya kak, makasih sarannya, aku akan lakukan seperti yang kakak bilang, dan nggak papa kok, aku bisa sendiri, sekali lagi makasih untuk bantuannya" percakapan mereka berlangsung sampai larut malam, mereka baru tersadar saat teman bian pamit pulang "astaga, udah jam segini aja" ucap bian kaget melihat jam di ponselnya setelah merapikan camilan dan minuman mereka segera kembali ke kamar masing masing ... ke esokan hari lina sampai di kos dina sekitar pukul delapan pagi bersama ibu dan ayahnya, tentu saja dina terkejut, sudah satu minggu lebih memang, sejak dina tinggal jauh dari kelurganya namun gadis itu tidak menyangka kalau kedua orang tuanya ikut mengunjunginya "kok ibuk sama bapak ikut kesini, leo mana?" dina mencari adiknya sambil menutupi kegelisahan hatinya "iya nduk, kebetulan bapak ada keperluan dekat sini, kami sekalian mampir, kangen sama kamu, leo ibu titipin tante emi, soalnya kasihan perjalanan jauh terus ibu sama bapak berangkatnya pagi pagi sekali" ucap lidya dina mengajak kakak dan kedua orang tuannya makan di salah satu warteng yang ada di dekat kontrakan tempatnya cukup luas dan nyaman, karena belum siang jadi tidak banyak pengunjung yang datang "gimana nduk kabar kamu disini, kayaknya kamu agak kurusan" tanya bu lidya memperhatikan putri kecilnya "iya dek, kamu makannya yang banyak karena jauh dari ibuk sama bapak kami nggak bisa selalu ngingetin, harus jaga kesehatan juga, pokoknya jangan sampai telat makan" imbuh pak reza "aku baik kok pak, buk, lagian baguskan kalau kurusan dikit, habis ujiankan aku molor terus sampe tembem pipiku" jawab dina menenangkan kedua orang tuanya lina hanya diam memperhatikan keluarganya yang saling bercengkerama karena kini mereka tinggal berjauhan, namun matanya yang tajam seolah bisa merasakan ke gelisahan adiknya "dek... kamu lagi ada yang mau di omongin ya?" tanya lina saat kesempatan bicara datang padanya tanpa merusak suasana nyaman yang ada dina diam sejenak "iya kak, jadi ada yang mau aku bicarakan mumpung ada ibu sama bapak disini, ini soal kerjaan aku" semua diam memperhatikan, memberi waktu untuk dina menjelaskan dengan tenang "sebenarnya sejak hari pertama aku kerja, aku nggak kerja di hotel tapi bantuin bu lana, beliau kepala bagian yang ngurus anak magang, kebetulan hari itu atasannya lagi ada musibah, istrinya melahirkan dan kabur setelah proses melahirkan selesai......" bla bla bla ... ^^ dongeng sang kancil dimulai ^,^ "jadi kamu di minta menjadi baby sitter sampai mereka dapat baby sitter profesional gitu?" "iya bu.. ya.. kurang lebih satu bulan katanya, nanti setelah ada penggati aku baru akan di pindah ke hotel lagi" "terus kamu tinggal disana?" "iya, aku 24 jam standby jagain babynya" "soal ngurus anak kecil ibu sih yakin kamu bisa, leo aja lebih nurut sama kamu di banding sama ibu, tapi nduk.. kok kamu nggak cerita dari awal sih, kalau kenapa napa gimana?" "maaf bu, pak, kak lina... sebenarnya aku kelupaan saking sibuknya, terus... pas keinget aku bingung mau cerita darimana, maaf ya semua kalau adek bikin khawatir" bu lidya dan lina memeluk erat dina, mereka saling menyemangati dan tentu saja mendukung keputusan dina "nggak papa, yang penting kamu bisa dan yakin, kami pasti akan selalu mendukung, yang penting lain kali ada apapun harus cerita, ok, ya... ibu maklum sih, ngurus anak kecil itu repotnya minta ampun, kadang suka lupa waktu, yang paling penting, jaga diri, jaga kesehatan, ibadah, dan selalu kabari kami oke" "siap komandan" "bisa aja kamu, terus hari ini harus balik kesana?" "iya, kasian juga kalau aku tinggal lama lama bu" "ya udah, nanti kak lina antar kamu kesana ya, biar kami tahu dimana kamu tinggal" "iya bu" percakapan mereka berjalan lancar, tentu saja sikap dan tanggapan orang tua dina sangat luar biasa, mereka mampu membedung keluh kesah anak anak mereka dan membiarkan mereka mejelaskan situasi dengan tenang. selesai makan kedua orang tuanya segera pamit melanjutnya perjalanan, sementara lina dan dina kembali ke kos "kakak yakin kamu melakukan pekerjaanmu dengan baik, tapi kamu harus janji lain kali harus cerita, soal apapun itu jangan di tunda tunda" "iya maaf kak, kondisinya emang lagi nggak bagus aja kok, aku juga bingung, tapi makasih, karena kalian semua nggak marah" "dek.. selama itu hal baik tentu kami nggak akan marah, tapi ngomong ngomong, istri bos kamu kasian juga ya? dia pasti frustasi banget sampe kabur setelah melahirkan" "aku justru nggak kepikiran soal itu kak, kalau di pikir pikir iya juga ya" entah apa yang terjadi pada wanita itu, meski begitu tidak ada pembenaran atas tindakan yang sudah dia lakukan, bagaimanapun bayi yang baru lahir tidak memiliki kesalahan sehingga pantas mendapat perlakuan seperti itu, dina semakin yakin akan keputusannya, bahwa pekerjaan ini sangat tepat untuk dia kerjakan saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD