SUARA HATI

552 Words
pov zein seluruh tubuhku seperti tertusuk ribuan jarum, bukan letih yang terasa tapi setiap menatap putra semata wayangku hatiku seperti di peras, nyeri dan ngilu sampai ketulang memikirkan kemalangan yang di alaminya entah salah apa yang telah ku perbuat hingga maya tega meninggalkan kami, seandainya dia begitu membenciku harusnya di lampiskan padaku dan bukan pada bayi yang baru saja lahir saking kecewanya aku sampai tidak ada waktu memikirkan perasaannya, meski semua ini terjadi pasti karena aku, aku akan melakukan yang terbaik untuk kevin dan mengakhiri semuanya dengan baik setelah keputusan pengadilan keluar kami resmi berpisah dan hak asuh anak diberikan padaku, kini aku hanya harus menjalani semua dengan iklas meskipun sulit "tuan baru pulang" sapa bi lastri hari ini rumah tampak sepi, biasanya kalau ada dina rumah jadi ramai, terdengar suara tawa atau celoteh, membuat suasana terasa hangat, dulu sejak tau maya hamil semua orang gembira tapi karena aku sangat antusis kesunyian itu tidak terasa, sekarang kalau di pikir pikir semua ini terjadi karena keserakahanku "mau makan sekarang tuan?" "nanti aja bi.. dina belum kembali bi?" "belum tuan, mau saya hubungi untuk memastikan kapan pulang?" "nggak usah bi, kalau gitu saya mandi dulu" "kangen" WHAT??? barusan aku mikir apa coba? gila, pasti rusak ni pikiranku *** "akhirnya yang paling sulit udah beres, tinggal pulang terus ketemu kevin, nggak ketemu sehari aja udah kangen, gimana entar kalau aku udah berhenti kerja ya?" "udah berasa adik sendiri ya dek?" "iya kak, kasihan masih sekecil itu udah terpisah dari ibunya" aku dalam perjalanan kembali ke rumah pak zein, aku sengaja pulang sore nunggu kakak kakak di kos pulang kerja sekalian mau pamitan gara gara kak lina aku jadi kepikiran soal istri pak zein, apa yang di alami beliau sampai mengambil keputusan sebesar itu, kelihatannya pak zein sangat mencintai beliau, itu bukan urusanku sih lebih baik aku kerja yang rajin supaya bisa meringankan beban pak zein motor kak lina berhenti tepat di depan rumah, pak satpam sudah menunggu untuk membuka pagar "selamat malam pak toto" "malam juga non, kok baru sampe, udah di tunggu aden tu" "iya pak, ketemu temen dulu, oh ya pak, ini kakak saya namanya lina" "halo kakaknya non dina, tidak usah khawatir semua orang dirumah ini sangat baik mbak" "iya pak, mohon bantuannya" "kakak mau masuk dulu?" "nggak usah dek, lain kali aja, udah malam juga nggak enak" "ya udah kalau gitu kakak hati hati pulangnya, saya masuk dulu ya pak" "iya iya.. silahkan, mbak lina juga hati hati di jalan" kini aku lebih yakin dan percaya diri, dengan izin dan dukungan dari keluarga aku akan melakukan pekerjaan ini dengan lebih baik lagi ruangan tamu tampak sepi, sudah hampir pukul 21.00 wib harusnya kevin sudah tidur, aku mengintip ke kamar sebentar "baru sampai sayang?" astaga, hapir saja jantungku copot, tante diana menyapa sambil berbisik suaranya tepat di tengkuk leherku "tante kok belum tidur?" tanyaku sambil menenangkan jantung "tante nungguin kamu, penasaran gimana hasilnya, jadi... apa orang tua kamu kasih izin untuk kamu kerja disini?" terlihat rona penasaran dari beliau "iya tante.. mereka memberi izin" beliau tampak senang dengan jawaban tersebut "duh.. lega dengarnya.. ya sudah sana kamu mandi terus istirahat, sebenarnya seharian ini kevin agak rewel karena nggak ada kamu, besok pagi pasti senang lihat kamu udah disini lagi" bukan hanya kevin sepertinya aku juga betah kerja disini meski terhitung belum lama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD