malam baru setelah mendapat izin keluargaku bekerja di rumah pak zein akan di mulai
aku naik ke lantai dua, lampu ruang kerja pak zein masih menyala, apa beliau sudah pulang? ingin melihat dan menyapa karena sudah larut malam aku urungkan niat tersebut, ku putuskan masuk ke kamar dan istirahat
"kamu baru sampai"
setttannn.. saking kagetnya aku sampai tersandung
"kamu nggak papa??"
tubuhku mendarat dengan selamat, untung ada sofa empuk disini, batinku lega
"bapak nggak bisa ya nyapanya biasa aja" gerutuku kesal, selain malu aku juga merasakan nyeri karena terbentur kaki sofa
"ya kamu ngapain jalannya ngendap ngendap kayak maling gitu"
harus ya aku kasih tau cara berjalan yang baik dan benar, jelas aku jalan jingkat jingkat gitu supaya tidak meninggalkan suara yang mengganggu
"ada yang sakit?"
aku menunjuk ujung jari kakiku, dan yang paling mengejutkan, pria ini duduk jongkok sambil memperhatikan kakiku
"ini...? disini?"
aku meringis saat tanganya memijiat kakiku, namun dia menyentuh dengan lembut dan hati hati
"maaf kalau bikin kamu kaget"
sial.. apa biasanya jantungku berdebar secepat ini? kedengaran nggak ya? ah bodo amatlah, pak amat aja nggak peduli
"bapak sudah makan?" kok tiba tiba pertanyaan itu muncul sih?
"belum, kamu sudah makan?" terus kenapa di jawab?
"saya juga belum makan, mau saya siapain makanan?" WHAT?? terus nasi sepiring tadi siapa yang ngabisin coba??
"nggak usah masak, udah malam kamu juga baru pulang pasti capek, mau pesan makan aja, ada sesuatu yang kamu mau?"
sesuatu?? karena sebenarnya aku masih sangat amat kenyang, jadi..
"nggak papa pak, saya nggak capek kok, mau saya buatin mie telur? sepertinya enak kalau di makan malam malam"
pasti di tolak, kelihatan banget kalau dia malas makan
"boleh, tapi beneran kamu nggak capek? kalau capek aku minta bibi aja yang siapin"
wow.. respon apa itu? biasanya kalau dia ngomong atmosfernya jadi kayak di kutub dingin banget
"saya nggak papa, bibi pasti capek biar saya aja yang siapin"
ini adalah percakapan terpanjang kami, ketika kami makan siang diluar bersama beberapa hari yang lalu hanya denting sendok dan garpu yang terdengar, sampai sampai makananya belum habis perutku sudah kenyang duluan
setelah meletakkan barang di kamar aku turun menuju dapur dan segera menyiapkan makanan, tepat saat mie telurnya siap pak zein sudah duduk di meja makan
lagi lagi aku di sadarkan akan kenyataan betapa dingin dan kaku sikap bosku itu, seolah kutub selalu mengikuti setiap keberadaannya, baru dua suapan perutku sudah berhenti mencerna, lagi pula aku memang sudah kenyang
"terima kasih makanannya"
tubuh yang tegap dan gagah itu beranjak pergi meninggalkan meja makan menuju kamar tidur miliknya
mangkuk yang tadinya penuh kini sudah kosong melompong, bahkan kuahnya pun ludes tak tersisa
"kalau memang lapar kenapa nggak minta bibi siapin makanan sih, bikin khawatir aja"
aku hanya sedih melihat bagaimana mereka menutup lara hatinya dengan sikap diam dan tenang, pasti sulit, aku yakin sangat berat ujian yang sedang beliau hadapi saat ini, semoga keberadaanku bisa sedikit membantu hanya itu harapanku
tubuh dan pikiranku sudah cukup bekerja keras seharian ini, sepertinya aku bisa memberi nilai 100 untuk keberhasilan menyelesaikan semua misi. selamat malam dunia tipu tipu ^,^