Acara Prom Night

2611 Words
Saat ini, Dean sedang menarik Becca untuk ikut bersamanya membeli baju untuk prom night lusa. Sebenarnya, Becca sudah berusaha menolak tawaran dari Dean. Hanya saja, cowok itu langsung memblokade jalannya seusai dia bekerja di café. Dia langsung ditarik dan dipaksa ikut untuk membeli baju Prom night. Yang membuat Becca terkejut adalah karena Dean membawanya ke butik yang mahal di kota. “Yuk masuk!” ajak Dean masih dibalas kebungkaman oleh Becca. Melihat Becca yang mematung, dia kembali menarik Becca untuk membeli baju di butik itu. Sedikit pemberitahuan, Dean sudah mengganti bajunya dengan pakaian kasual sebelum menjemput Becca di kafe. Ya kali, dia pakai baju sekolah belanja di butik. Sedangkan Becca, dia masih pakai seragam kerjanya. “Selamat datang, Mas! Bisa dilihat dan dipilih bajunya ya!” sambut salah satu karyawan butik. “Mbak, tolong satu gaun yang cantik untuk dia ya!” Dean langsung menyodorkan Becca kepada karyawan took itu supaya dia bisa memilih baju untuk prom night lusa. “Oh, buat pacarnya ya, Mas?” tanya sang karyawan agak menggoda. “Bukan mbak, dia teman saya!” jawab Dean santai kayak di pantai. Tapi jujur, Becca agak tertohok dengan jawaban Dean yang seperti itu. Seakan, pria itu memasang dinding tebal untuk hubungan pertemanan mereka. Dia bahkan gak bisa basa-basi hanya kepada seorang pelayan toko. “Begitu ya, Mas? Kalau begitu, mari Mbak?” sang pelayan toko langsung membawa Becca untuk memilih beberapa gaun. Jujur saja, Becca sudah sangat kebingungan saat melihat bandrol harga untuk sebuah gaun. Harganya memang gak main-main dan hal itu membuat Becca meneguk ludahnya. Dia malah gak enak sama Dean. Lagian, kenapa sih anak itu ngotot banget mau ke prom night dengannya? Tiba-tiba, sebuah gaun yang sangat cantik mengalihkan perhatian Becca. Warnanya yang gelap dan sesuai dengan tema pesta malam, hiasannya yang sangat elegan dan desainnya yang sangat bagus. Tanpa sadar, Becca meraih gaun itu dan mencobanya sambil melihatnya di kaca. Saat melihat harganya, matanya kembali terbelalak dan tersadar bahwa baju ini lebih mahal daripada gajinya 3 bulan. Dia langsung saja mengembalikan baju itu kepada sang karyawan toko. “Mbak, gak ada yang agak murah harganya?” tanya Becca berusaha mencari harga yang bersahabat. Dia berpikir, untuk membayar sendiri saja bajunya. Toh. Dia yang pakai! Dia tak ingin membebani Dean hanya untuk hal ini. “Duh, gimana ya mbak? Paling murah sih, harganya satu setengah juta,” jawab sang karyawan membuat Becca terbelalak. ‘Gak ada gitu yang tiga ratus ribuan?’ batin Becca merasa seharusnya dia tidak belanja di sini. “Yang mana? Kok lama banget? Sampe setengah jam gue nunggunya!” Dean menyusuli Becca yang sedang berbicara dengan karyawan toko. “Iya Mas, mbaknya tadi suka yang ini!” Sang karyawan sengaja menyodorkan baju yang tadi terus menerus dilirik oleh Becca. Biasalah, namanya juga strategi ekonomi. “Mbak! Enggak kok! Bukan yang itu!” Becca terkejut dengan tindakan sepihak sang karyawan toko. “Yang ini? Ya udah! Kuy, kita bayar!” Dean gak basa-basi dan langsung mengambil baju itu untuk dibayar. Becca tak bisa berkata apa-apa lagi karena Dean melakukan semuanya dengan begitu cepat. Setelah membayar, Dean langsung memberikan paper bag berisikan baju itu kepada Becca dengan santainya. Orang dia tinggal gesek kartu doang, kok! Biasalah, anak orang kaya! Uang jajannya main gesek aja! “Dean, baju ini mahal banget!” keluh Becca setelah mereka keluar dari butik. “Trus?” tanya Dean padanya. “Gajiku tiga bulan bahkan gak bisa beli baju ini,” jawab Becca lagi. “Emang gue ada suruh loe ganti? Gak ada kan?” Dean balik bertanya membuat Becca tak habis pikir dengan apa yang ada dipikiran Dean saat ini. Ya heran dong, mereka tidak punya hubungan yang istimewa yang membuat dia berhak mendapat perhatian dari Dean. “Kita cuma teman, tapi kamu menghabiskan banyak uang untukku! Itu sama sekali gak etis, tahu!” kesal Becca membuat langkah Dean terhenti. Cowok itu langsung berbalik dan menatap tajam kepada Becca. “Justru teman itu harus saling membatu, bukan? Kalo loe anggap gue sebagai teman, maka terima aja bantuan gue! Tenang aja, loe cuma perlu bantu gue dengan pelajaran yang sulit! Itu namanya simbiosis mutualisme! Gue pinter kan!” kata Dean membuat Becca tertawa seketika. “Ahahahaha!” “Kenapa? Gue selucu itu?” kesal Dean karena ditertawakan oleh Becca. “Kamu pinter juga ternyata! Tapi jujur deh, aku sama sekali tidak mengharapkan balasan sewaktu membantumu soal pelajaran. Dean, aku akan balikin uangnya tapi nanti ya!” balas Becca membuat Dean tersenyum. “Terserah loe! Yang penting, jangan berhenti dan jangan menyerah untuk memberikan bantuan untuk mengerjakan PR nanti! Oh iya, mau gue anterin?” ujar Dean sambil menawarkan diri untuk mengantar Becca ke rumah. “Gak usah, kamu pulang saja sana!” tolak Becca dan diangguki oleh Dean. Setelah itu, Dean langsung menghidupkan motornya dan berlalu dari Becca. Melihat cara Dean memperlakukannya dengan begitu baik, hati Becca selalu menghangat. Tapi di sisi lain, perhatian Dean memang murni sebagai seorang teman. Buktinya, kalau Dean memang menganggapnya spesial, maka dia akan berkeras untuk mengantarkannya pulang. Bukannya berharap, tapi Becca berusaha menyadarkan dirinya kalau perhatian Dean hanya sebagai teman tak lebih. ‘Becca, sadarlah! Dia itu cuma anggap kamu temennya!’ batinnya menekan perasaannya supaya tidak menumbuhkan perasaan kepada Dean. Tapi, namanya juga cinta, datang dan tumbuh tanpa ada rencana dan tak bia dihalangi. *** Malam Prom Night Malam Prom yang di adakan sebagai acara ulang tahun sekolah dan ditunggu oleh siswa/i SMA NUSA BANGSA akhirnya tiba juga. Semua yang hadir baik guru dan murid mengenakan pakaian yang elegan dan dipastikan harganya mahal. Meski ada beberapa siswa/i yang tidak berasal dari keluarga berada, mereka mengusahakannya karena tidak mau dianggap rendah. Kebetulan, dresscode-nya bebas tetapi harus tetap sopan. Mereka masih sekolah, bukan anak kuliah yang bebas. Acaranya juga hanay dimulai dari jam lima sore sampai jam delapan malam. Waktu yang tidak mengganggu jam tidur dan dilaksanakan di akhir pekan supaya bisa istirahat. “Kyaa! Kak Kevin ganteng bangett!!” teriak beberapa siswi ketika Kevin melangkahkan kakinya ke aula sekolah. Pria itu mengenakan setelan tuxedo yang keren dan jangan lupa wajah tampannya yang sangat charming itu membuat para gadis jatuh cinta. “Itu si Marsha, ya?” bisik mereka juga kala melihat Marsha yang datang bersama Kak Kevin. Mereka merasa Marsha sangat beruntung bisa menjadi gandengan Kevin malam ini. Banyak padahal yang ngantri untuk mendapatkan posisi Marsha. Jujur saja, Marsha bisa tersenyum bangga hari ini. Dia berada di sebelah Kevin sebagai pasangannya di Prom night. Banyak siswi yang memandang iri padanya dan juga para pria yang memandang penuh damba padanya. Malam ini, Marsha memang sangat mempesona mata para kaum adam. Dia sudah cantik dan semakin cantik dengan setelan gaun hitam elegannya. “Marsha, kakak harus mengatur beberapa hal di belakang panggung ya! Kamu bisa bergaul sama yang lain, nanti kakak balik lagi,” bisik Kevin karena dia harus mengatur beberapa hal. Jelas saja, dia adalah orang yang diberi tanggung jawab untuk mengatur acara ini. Tidak boleh sampai ada kesalahan sedikit pun, begitulah prinsip si Ketua OSIS ini. “Baiklah, kak!” angguk Marsha meski kecewa dalam hatinya. “Woyy! Itu Irene ya?” suara beberapa siswa mengalihkan perhatian semuanya termasuk Marsha dan Kevin. Mereka terpaku melihat Irene yang datang dengan balutan gaun ungu yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Dandanan Irene juga sangat natural dan tatanan rambutnya sangat elegan. Singkatnya, malam ini Irene sangat mempesona. Memang sih, Irene sudah cantik dari sananya, hanya saja, dia terlalu introvert dan membuat para cowok malas memandangnyakarena terkesan sombong . Malam ini, Irene terlihat begitu bersinar, bahkan daripada Marsha yang terkenal dengan kecantikannya di sekolah ini. Marsha sebenarnya hobi menggunakan Make up tipis di sekolah. Gadis itu juga hobi mengubah-ubah gaya rambut, kecuali mewarnainya tentunya, karena dilarang sekolah. Tampilan Irene dan wibawanyalah yang membuatnya semakin bersinar malam ini. Tentu saja, karena dia baru saja popular setelah mendapat trophy kemenangan olimpiade. “Rene, semua orang mandangin kamu tuh,” bisik Dana menyadari kalau Irene menjadi pusat perhatian saat ini. “Percuma semuanya mandang gue, kalau dia mengabaikan gue,” balas Irene kesal karena melihat Kevin hanya memandangnya sebentar lalu pergi. Dia sengaja berpenampilan super cantik malam ini supaya Kevin bisa memperhatikannya dan menghampirinya untuk memuji penampilannya. Tapi, semuanya hanya ada dalam pikiran Irene. Kenyataan memang pahit! Dana menyadari apa yang sebenarnya membuat Irene seakan tidak menikmati Prom Night ini. Dia ingin mendapatkan perhatian sang ketua OSIS, tapi sayangnya malah diabaikan. Dana kasihan sih, tapi dia tahu Irene gak suka menerima rasa kasihan orang. “Kita ngapain habis ini?” tanya Dana bingung mau ngapain selain berdiri dan tebar pesona. “Entahlah, ini pertama kalinya gue ikut prom night.” Irene menggidikkan bahunya karena memang tidak tahu apa saja yang harus mereka lakukan selama prom night. “Yang lain pada berkenalan sama kakak kelas dan kenalan sama anak kelas lain. Kamu gak mau berbaur, gitu?” tanya Dana sambil melihat semua yang berbaur. “Loe tahu gue kan? Gue orangnya gak terlalu suka berbaur!” jawab Irene sambil duduk di bangkunya. “Ya, dan aku suka berbaur! Aku cabut dulu kalau begitu!” Dana memilih meninggalkan Irene. Dia memang suka bergaul dan menambah teman tentunnya, dan Irene bodo amat kalau di sini sendirian. Padahal acara ini sangat dia tunggu-tunggu, tapi setelah datang, Irene justru ingin pulang. Jujur, dia sangat kesepian. Kevin bahkan sama sekali tidak menghampirinya hanya untuk mengajaknya bicara. “kalau begini, mendingan aku di rumah belajar atau nonton drakor,” gumamnya kesal sambil meminum sirup yang sudah tersedia di meja. Tak lama, sebuah suara riuh terjadi lagi di ruang aula sekolah. Irene memilih fokus dengan Hp-nya karena dia merasa kalau itu adalah keriuhan yang diakibatkan oleh para penggemarnya Kevin. Dia cukup lelah dengan semua ini. Dia gak mau makan hati lagi setelah ini. “Dean kok bisa ganteng banget ya?” bisik salah seorang siswi. “Biasanya dia kayak berandalan, gitu?” tambah yang lainnya. Malam ini, Dean tampil agak berbeda karena dia mengenakan tuxedo putih yang super keren. Dia juga rapi dan tampilannya yang seperti ini membuatnya ganteng luar biasa. Kalo bisa jujur, dia bahkan mengalahkan gantengnya Kevin. Tapi tergantung juga sih, kalau Kevin gantengnya itu charming sedangkan Dean gantengnya itu cool, walau sifatnya gak cool, hehehe… Bukan hanya Dean yang jadi bahan bisikkan, Becca juga menjadi bahan pembicaraan karena malam ini dia sangat cantik. Bajunya sangat elegan dan kecantikannya tidak usah dipertanyakan lagi. Para kakak kelas agak bersyukur karena tahun ini banyak bidadari dari kelas X. Setidaknya lumayan untuk dipandang-pandang. “Rene, si Dean kenapa bisa seganteng itu sih? Gue kan jadi gak bisa mengalihkan perhatian!” keluh Lani sambil menghampiri Irene yang sibuk dengan Hp-nya. “Loe bilang apa?” tanya Irene lagi sambil membuka earphone-nya. “Astaga, Rene! Sempat-sempatnya pake earphone! Lihat tuh, mantan gue kenapa upgrade-nya gak ngotak gitu sih?” ujar Lani sambil menunjuk ke arah Dean. Mau tak mau, Irene melihat ke arah Dean. Seketika, Irene terkejut! Tapi sedikit aja sih! “Oh!” jawabnya singkat dan terkesan tak peduli. “Oh aja?” tanya Lani tak percaya kalau Irene mengabaikan ketampanan Dean. “Terus loe mau gue bilang apa? Ya ampun! Ganteng banget, sumpah! Duh, bukan gue banget!” jawab Irene se-realistis mungkin. “Iya juga sih! Lagian, loe hanya bilang begitu ke Kak Kevin ya!” balas Lani sengaja menyebut Kevin dan hanya dibalas tatapan malas oleh Irene. “Selamat malam, saya kepala sekolah SMA NUSA BANGSA menyambut seluruh hadirin malam ini. Baik Kepala Yayasan, para guru dan terlebih para anak didik kami yang tercinta. Tanpa basa-basi, mari kita mulai acara ini!” Sang kepala sekolah membuat kata sambutan tanpa banyak basa-basi. Langsung saja, acara di mulai dengan alunan lagu-lagu yang dibawakan oleh band sekolah dan beberapa rangkaian acara lainnya. Setelah itu, seseorang naik ke panggung dan otomatis semua perhatian teralihkan kepadanya. Siapa lagi dia kalau bukan Kevin Aldrich Kesuma si Ketua OSIS popular. “Malam semuanya! Kita sudah melewati beberapa rangkaian acara untuk merayakan ulang tahun sekolah ini. Maka, saya akan membuka acara terakhir yaitu, dansa topeng! Jadi, semuanya bisa pakai topeng yang dibagi saat masuk tadi. Setelah ini, lampu akan dimatikan dan kalian semua harus mencari pasangan dansanya. Ini khusus untuk murid ya, kalau guru mau ikutan silakan!” Kevin membuka acara penutup yaitu, dansa topeng. Semua murid langsung antusias dengan acara ini daripada bosen hanya mendengar lagu dan lain-lain. Inilah yang membuat acara prom night menarik. Sedangkan di pihak Irene, dia hanya menghela napas sambil memakai topengnya dengan malas. Kalau ada keajaiban, dia mau Kevin turun ke sini dan menemaninya berdansa. Tak lama, lampu dimatikan dan semuanya langsung kebingungan. Ada beberapa yang langsung berpegangan dengan pasangan mereka supaya langsung bisa berdansa dengan pacar atau pasangan mereka di acara ini. Irene masih terdiam dan merasa dia takkan berdansa dengan siapapun karena Dana sudah entah dimana. “Eh?” Irene agak terkejut karena ada sebuah tangan yang merangkulnya. Tak lama, lampu dihidupkan dan bertemulah tatapan Irene dengan orang yang kini jadi pasangannya untuk berdansa. Dia kenal tatapan ini dan juga… senyumannya. Lagu dansa langsung dimainkan dan semuanya berdansa. Irene hanya mengikuti alunan lagu dan berdansa dengan orang itu. Irene tak berhenti memerhatikan pasangannya ini untuk memastikan kalau memang dugaannya benar. “Dean?” bisik Irene kemudian. “Wah! Kamu masih bisa kenal aku ya?” balasnya membuat Irene tersenyum karena dugaannya benar. “Ya iyalah! Baju kamu mencolok banget!” balas Irene masih dengan suara rendah. “Benarkah?” tanya Dean gak percaya. “Iya!” Irene menjawab yakin membuat Dean sedikit terkikik. Mereka terus berdansa mengikuti irama. Jujur saja, Irene agak menikmati dansanya kali ini karena bersama Dean. Entah kenapa, dia selalu merasa senang saat bersama cowok ini. Ini terjadi sejak pertama kali mereka berbincang. “Rene, loe tahu gak?” bisik Dean lagi di tengah dansa mereka. “Apa?” tanya Irene penasaran. “Gue sebenarnya bela-belain berdiri di dekat loe supaya bisa dansa sama loe. Tadinya, gue pengen nyapa loe, tapi di sini sangat ramai dan gue beruntung bisa menemukan loe dalam kegelapan,” jelasnya membuat Irene tertawa kecil. Dia merasa kelakuan Dean kali ini ada-ada saja. “Gitu ya? Loe kenapa bisa tahu gue ada di sini?” tanya Irene balik. “Mata gue gak pernah terlepas dari loe. Dan yang mengarahkannya adalah ini!” jawab Dean agak lebay sambil menunjuk ke arah hatinya yang seakan menjawab kalau hatinyalah yang mengarahkan dia sehingga bisa bertemu dengan Irene. “Ahahaha! Bisa aja!” Irene merasa Dean agak berlebihan tapi jujur, dia senang! Setelah musik dansa selesai, mereka berdua langsung menghentikan dansanya dan bertepuk tangan sebagai tanda mereka menikmati acara ini. Jujur saja, baik Dean ataupun Irene sangat menikmati acara dansa mereka. Mereka saling tersenyum dan menatap satu sama lain. “Dean, makasih ya udah buat gue menikmati acara yang membosankan ini,” ucap Irene berterima kasih pada Dean. “Sama-sama! Kesediaan loe berdansa sama gue juga membuat acara ini jadi makin bermakna untuk gue,” balas Dean. “Sebenarnya gue dansa hanya karena mengikuti acaranya aja kok! Siapa pun pasangannya, gue tetap aja berdansa!” Irene merasa Dean berlebihan karena cowok itu bilang dirinyalah yang membuat acara ini bermakna bagi Dean. “Tapi, gue sangat senang dan bersyukur karena pasangan gue adalah loe, Rene!” ujar Dean mau tak mau membuat Irene tersenyum. Dia senang, karena ada yang membuat dirinya merasa diinginkan di sini. “Satu lagi dan paling penting, loe cantik banget!” puji Dean membuat Irene semakin melebarkan senyumannya. Dean adalah orang pertama yang memujinya di sini. Kalau Dana? Jangan tanya, dia sih cuek aja. Hatinya sudah sangat senang meskipun bukan Kevin yang memujinya. “Makasih! Loe juga oke!” Irene membalas pujian Dean. “Gue tau!” balas Dean kepedean dibalas tawa oleh Irene. Prom Night ini tidak benar-benar buruk kan, Irene?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD